Senin, 23 Mei 2011


Sayyid Ali Shah

Berikut adalah ringkasan tiga puluh delapan (38) kata-kata bijak dari Sufi besar dari abad 20, Sayyid Ali Shah (1840 -1951) dari Alipur Sharif, Sialkot, Pakistan. Syaikh adalah salah satu orang sufi besar dari Punjab dan masih keturunan Nabi dari kedua belah pihak ayah dan ibunya. Hadrat Ali Sahib terkenal karena kesucian-Nya bahkan sebagai anak muda setelah menyelesaikan studi agama (dia ahli dalam semua cabang fiqh, namun sangat mahir dalam ilmu hadis). Beliau keliling dunia tanpa lelah untuk Islam dan umat Islam.

Dia memiliki kepribadian indah, mengagumkan dan lembut, penuh kasih terhadap sesama. Syaikh memimpin oposisi terhadap rencana para penguasa Inggris di Lahore serta penolakannya untuk berdoa di belakang Imam Wahabi yang secara resmi sebagai Imam Haramain oleh Raja Saud. Ia pun menolak mengunjungi Raja ketika ia diperintahkan untuk melakukannya. Lalu menolaknya dengan kata-kata bijak, “Saya fakir, sedangkan dia adalah raja”.

Selain belajar pengetahuan yang luas, hingga menjadi syekh sufi yang suci, ia sangat dicintai oleh rakyat dan diperkirakan lebih dari 1 juta muridnya dari Afghanistan hingga ke ujung selatan India. Ia menerima [khirqah atau jubah sufi] dari Syaikhnya dengan sangat cepat setelah berbaiat, dan sekaligus menjadi wakilnya yang utama.

Dia adalah tokoh besar, dan dikagumi tokoh gerakan Pakistan, salah satunya Muhammad Iqbal, penyair besar itu.
Sebagai pengecap, berikut adalah contoh dari 38 perkataan Syaikh (malfuzat) yang saya terjemahkan. Sebagai pengecap, Dari contoh berikut adalah 38 perkataan Syaikh (malfuzat) Saya terjemahkan yang. Masing-masing adalah lautan kebijaksanaan dan semoga Allah membantu kita untuk mendapatkan keuntungan dari mereka dan untuk bertindak atas saran. Masing-masing adalah Lautan dan kebijaksanaan Semoga Allah membantu Kita untuk mendapatkan keuntungan Dari mereka dan untuk bertindak Atas saran. Ameen. Ameen.

Tiga puluh delapan ucapan-ucapan [Malfuzat] dari Syaikh Mulia, Sayid Ali Jamaat Shah Naqsybandi-Mujaddidi (Semoga Allah mensucikan rahasia batinnya).

  1. Jika Asma Allah diucapkan sekali saja dengan lisan, itu disebut dzikir (mengingat) lisan, namun jika Nama Allah diingat dengan hati, maka itu akan sebanding dengan dengan tiga puluh lima juta ucapan-ucapan (dzikir) lisan. Itulah dzikir hati. Ada 35 juta pembuluh darah dalam tubuh, dan semua yang terhubung ke jantung. Jika Nama Allah diucapkan bahkan sekali saja (dengan hati) maka semua yang mengalir mengucapkan juga.
  2. Dalam sungai, perahu perjalanan di atas air dan semakin besar jumlah air, perahu akan lebih nyaman. Namun jika air masuk perahu, maka perahu akan terbalik. Jantung hati laksana perahu dan duka serta sakit hati air adalah dunia; kapal semua orang telah tenggelam kecuali bahwa Ahlullah -mereka yang melakukan dzikir- yang selalu tetap mengapung.
  3. Allah Swt. telah menciptakan neraka untuk musuh-musuh Rasulullah Saw, dan surga diciptakan bagi mereka yang mencintainya. Orang-orang yang khawatir tentang apakah mereka akan pergi ke Surga atau Neraka setelah mati, harus bertanya pada diri sendiri apakah mereka pecinta Sang Kekasih Rasul Saw, atau justru jadi musuh-musuhnya.
  4. “Kullu jadiidin ladzeezun”; Anda mungkin ingin meraih setiap hal baru dari dunia ini, tetapi, dalam hal Iman Anda, maka Anda harus tetap dengan Islam yang sama, yang asli, seperti yang dilakukan oleh pendahulu Anda.
  5. Jika seseorang berbuat buruk (berdosa), maka Allah melarangnya dan karena itu imannya buruk. Dalam sebuah hadis ada tertulis, “Larilah dari penderita kusta seperti Anda lari dari singa; Nah, anda harus melindungi diri dari orang yang hatinya terkena keburukan “kusta”, jangan bermajlis dengan mereka.
  6. Pikirkan sholat anda, seperti seseorang yang sedang sibuk melakukan pekerjaan. Orang yang sibuk bekerja namun hatinya selalu berpikir tentang sholat, sehingga kadang-kadang dia bertanya tentang waktu, kadang-kadang ia melihat jam tangannya, pada waktu lain ia melihat matahari (posisi), untuk memastikan bahwa dia tidak melewatkan waktu sholat (yang benar). Sampai fikiran tersebut tercapai, hingga sholat adalah ibadah dan kebiasaan yang sedang dilakukan. Semoga Allah Swt. memberikan kita tafakkur seperti itu!
  7. Bila petani menggunakan bajak sepanjang hidupnya tetapi tidak menanam bibit, bisakah tanamannya tumbuh? Tentu saja tidak! Menggunakan bajak adalah puasa, salat, haji, dan menabur benih amal adalah zakat. Jika tidak memberikan zakat, semua ibadahnya, sia-sia.
  8. Bila dua tugas harus dilakukan, satu untuk agama, yang lain untuk dunia, maka prioritaskan yang untuk kepentingan agama, maka akan memberi barokah pada kepentingan tugas dunia.
  9. Setiap doa memiliki dua sayap: Keuntungan yang sah, dan lidah yang jujur. Barangsiapa mendapatkan melalui yang halal ia akan bicara denganbenar, doa-nya pasti akan diterima.
  10. Siapa yang meminta dari Anda, sebenarnya Allah memberi Anda untuk (memberikannya) itu tujuh ratus kali lipat.
  11. Ucapan, ‘La ilaha illa Allah’ membuat seseorang menjadi muwwahid (bertauhid), bukan orang yang perrcaya (mukmin). Jadi, kapan akan Anda menjadi seorang yang percaya (mukmin)? Ketika Anda mengatakan ‘La ilaha illallah Muhammadur Rasul Allah’. Bagi kami berkat terbesar (ni’mat) adalah Iman. Syetan pun melafalkan “La ilaha illa Allah ‘, tapi mengapa dia masih dikenal sebagai yang terkutuk? Dia (bahkan) mengatakan, ‘Inni akhafullaha Rabbal aalamin’ (Sesungguhnya, aku takut kepada Allah, Tuhan semesta alam). Semua manusia yang berbeda-beda di dunia ini sebenarnya percaya pada Keesaan Tuhan [tauhid], apakah mereka seorang bhangis, pemabuk, Nashrani, atau golongan agama lainnya, tetapi mengapa mereka terlaknat? Karena mereka hanya mengatakan, ‘Tidak ada tuhan selain Allah’ tetapi menghilangkan ‘Muhammad adalah utusan Allah’.
  12. Apabila nama yang berkah bagi dunia akhirat, Kanjeng Nabi Muhammad saw, datang pada salah satu lidah seseorang, yang semua orang itu kafir, sinkretis, orang yang muysrik, terhapuslah semua dosa orang itu.
  13. Dewasa ini dan di abad ini, sudah tidak banyak orang yang memuji dan bersholawat kepada Nabi Muhammad Saw, dibalik keterbatasannya. Tetapi mereka yang tahu akan ketakberdayaannya, justru ia akan meraihnya.Jika seseorang tidak tahu keterbatasannya, bagaimana ia melampauinya? Selain Allah Swt. tidak ada yang tahu rahasia Nabi Saw. Bahkan membaca Syahadat mulia sekali saja sudah cukup untuk menghapus dosa seumur hidup! Hal ini saja yang kita tahu yang terbatas ini. Muhammad Mustafa, betapa telah dipuji oleh Allah Swt, bagaimana bisa dilupakan? Sungguh tak ada yang benar-benar memujinya. Muhammad adalah Rahasia Ilahi, siapa yang tahu rahasianya? Secara syariat, Nabi Muhammad Saw, adalah sosok manusia, tetapi hakikatnya, siapa yang tahu? Hanya Allah Yang Tahu.
  14. Pada diri Muhammad Rasulullah, ada sifat terpuji dari seorang Nabi saw, orang-orang yang tidak suka atas karakter mulianya, juga harus menahan diri dari mengatakan, “Muhammad adalah utusan Allah.”
  15. Bumi tidak memakan tubuh para Nabi, juga tidak menyentuh mereka. Para Nabi senantiasa sholat di kuburan mereka. Gunakan analogi itu, dan berpikir, bagaimana keagungan Nabi seperti (dalam kuburnya).
  16. Rasulullah Saw, menyabdakan, siapa pun yang mengirim salam kepada saya, saya akan menjawab salamnya.
  17. Kanjeng Nabi Muhammad, Saw, menyabdakan, bahwa siapa pun yang mengirimkan berkat mutiara mulia (sholawat) pada saya dengan cinta, aku mendengar dengan telingaku sendiri.
  18. Kanjeng Nabi Saw, setelah menyelubungkan dirinya dirinya dari dunia ini, -- tanpa diragukan lagi,-- senantiasa hidup dan masih dengan Kenabiannya (walau dalam kuburnya yang penuh barokah) dan bahagia dengan ibadah dan membimbing ummatnya, agar senantiasa berbuat baik. Beliau sedih atas ummatnya karena dosa-dosa dan ketidaktaatan mereka pada Allah swt.
  19. Unta yang liar dan tak terkendali itu tidak pernah mencapai tujuan dan dimanapun ia pergi itu dipukul dan terpukul. Unta yang patuh pada aturannya, dimana pun, walau lapar dan lelah, pasti akan mencapai tujuan itu.
  20. Tubuh haruslah dimanfaatkanah, bukan untuk makan dan gemuk. Anda harus sadar, bangkitlah sekarang, walau di bawah bayangan langit. Anda harus memiliki kesadaran bahwa sampai hari kiamat nanti anda akan pulas tidur dalam bumi.
  21. Dengan menempatkan kepala pada debu (dalam sujud), seseorang menjadi bersih suci. Apa hak kita harus meletakkan kaki kami di tanah? Ketika, dalam sujud, kita tidak pernah meletakkan kepala kita di atas tanah?
  22. Jangan bermajlis dengan sekumpulan orang yang tidak benar akidahnya, Do tidak tinggal di perusahaan orang dengan keyakinan yang tidak benar, lakukan dengan nyata, anda tidak bermajlis dengan mereka.
  23. Manakala air mengalir dalam wudhu’ selama itu pula neraka tidak akan membakarnya.
  24. Sang fakir setelah bebas dari kemiskinannya, si fakir menjadi anjing dunia lagi. Sebagaimana orang bodoh setelah disucikan, ia pasti terlibat dalam kotoran lagi!
  25. Pada ayat Al-Fatihah, ‘Tunjukkanlah kami ke jalan yang lurus. Yaitu jalannya orang-orang yang Engkau beri nikmat’ itulah sesungguhnya yang menjadi kebutuhan kita dan anutan kita.
  26. “Fattabi ‘u millata Ibrahima hanifa” Ada 124, 000 Nabi dengan patuh pada perintah ini, “Oleh karena itu orang yang mengikuti agama Ibrahim akan terpisah dari dosa-dosanya.” “ membuktikan bahwa itu adalah wajib untuk melakukan taqlid pada Imam.
  27. Setiap orang berada dalam kegelapan kuburnya, kecuali orang yang tahajjud akan dipenuhi limpahan cahaya. Membaca Ayat Kursi di setiap sholatnya, dan surat yang dimulai dengan “Tabaarokalladzi…” akan memebaskan siksa kubur.
  28. Sebagaimana keharusan bersholawat dan berdoa kepada Nabi saw sepanjang sholatnya, juga harus dikirmkan doa itu kepada keluarganya.
  29. Tak satu pun yang ada kecuali sudah ditakdirkan. Bahkan sebelum adanya waktu.
  30. Allah Ta’ala telah menciptakan hati untuk mengingat-Nya [dzikir], dan tidak diciptakan untuk khawatir.
  31. Bila orang berdosa karena bangsa-bangsa sebelumnya, maka ada wajah yang digunakan untuk metamorfosa. Maka yang mulia Nabi kita saw, bersabda “Allah Yang Suci tidak akan mengubah wajah mereka yang beriman kepadaku.”
  32. Hari Kiamat akan tiba, apa bila tak satu pun hamba Allah yang nama Allah.
  33. Bacalah Al Qur’an hanya untuk Allah. Membaca untuk alasan duniawi, adalah seperti memberikan berlian ditukar dengan beberapa sen tak berharga. Sebenarnya jika, setelah membaca karena Allah, Allah sendiri memberikan manfaat duniawi karena anda membaca (untuk-Nya).
  34. Orang yang tidak punya rasa malu tidak memiliki iman.
  35. Mendatangi undangan (untuk makan) adalah Sunnah. Nabi Saw, bersabda, “Bahwa jika seseorang mengundang Anda masih berada pada jarak tiga mil jauhnya, dan mengundang untuk sesuatu yang sederhana pun, Anda harus hadir.”
  36. Apabila memasuki kota Madinah Al-Munawwarah yang mulia, anda harus memiliki adab (etika). Paling tidak, penampilan wajah seseorang harus menujukkan bahwa ia seorang muslim: mode fashion terbaru, dan gaya rambut dll, harus dihindari.
  37. Bila seseorang memberikan sesuatu di jalan menuju Allah, orang harus melakukannya dalam hidupnya sendiri. Setelah kita mati, baik istri kita atau anak-anak kita akan memberikan apa pun untuk nama kita, kenyataannya sulit bahkan bagi mereka untuk datang membaca Fatihah di makam kita!
  38. Bila ada sepuluh orang yang melakukan dzikir dan satu orang yang lalai [ghafil], yang berdzikir akan membuat pencahayaan bagi yang lalai. Bergabunglah dengan majlis dzikir, karena disana ada kebahagiaan.

Mendengar dengan Teinga Hati


Syeikh Abdul Qadir Al-Jilany Pagi hari Jum,’at tanggal 3 Ramadhan tahun 545 H. di Madrasahnya.

“Mereka (para malaikat) tidak mengingkari apa yang diperintahkan Allah pada mereka, dan mengerjakan apa yang diperintahkannya.” (At-Tahriim, 6).
Hai kaum sufi, bila kata-kataku tidak masuk dalam jiwamu, maka dengarkanlah dengan penuh iman dan pembenaran. Karena kata-kataku mengarah di hati, maka dengarkan dengan telinga hatimu dan rahasia hatimu, pada saat itulah akan berpadu; lahir dan batinmu, dan duri hawa nafsumu akan pecah, sedangkan api nafsumu pun padam. Karena nafsu terburukmu membuatmu suka dengan dunia dan membuatmu benci dengan kefakiran, lalu membuatmu hancur dalam kerusakan.

Sebagian Sufi menegaskan, Hakikat taqwa itu, bila anda mengggabungkan apa yang ada di hatimu dan anda biarkan dalam satu tempat terbuka, lalu anda kelilingkan ke pasar, tak satu pun membuat anda malu. Namun wahai si tolol, bila dikatakan padamu, “Taqwalah kepada Allah swt,” anda menjadi marah. Bila dikatakan kebenaran padamu, anda mendengar namun anda menghina sinis. Bila ada orang yang kontra dengan anda justru anda berkeras kepala mempertahankan anda dan membela diri atas kekerasan hati anda.
Allah Swt berfirman dalam hadits qudsi:
“Aku senantiasa mencintai kalian sepanjang kalian taat padaKu, maka ketika kalian maksiat padaKu, maka Aku marah pada kalian.”

Allah Azza wa-Jallah mencintai kalian bukan karena Dia butuh pada kalian, namun karena kasih sayangNya padamu. Dia mencintai anda bukan untukNya, namun untukmu. Doa mencintai taatmu , karena manfaatnya kembali pada dirimu. Karena itu hendaknya anda aktif dan menghadap pada Yang mencintaimu dan berpaling dari mencintaimu untuk kepentingannya.

Orang beriman itu lupa segalanya karena hanya mengingatNya Azza wa-Jalla, hingga ia berhasil mendekat padaNya, hidup bersamaNya dan bersertaNya, maka ia akan meraih tawakkal yang benar. Bila tawakal dan tauhid orang beriman benar , dunia dan akhiratnya dicukupi oleh Allah Ta’ala. Sebagainmana dianugerahkan pada Nabi Ibrahoim as yang dianugerahi makna nya dan kondisinya, bukan formalitas rupanya. Allah memberikan makan dan minum dari sumber minuman dariNya, dan menempatkannya di ruang terhormatNya, bukan berarti memberikan wujud kedudukanNya.
Disinilah penisbatan dariNya akan benar bila ditinjau dari segi esensi maknanya bukan dari wujud bentuknya.

Ingatlah apakah anda tidak malu jika anda mengabdi kegelapan dan makanan haram? Sampai kapan anda mengabdi para raja-raja yang sebentar lagi lengser? Kapan anda menerima limpahan pengabdian kepada Allah swt yang tak pernah lengser selamanya? Jadilah orang yang berakal sehat, terimalah sedikit dunia dan banyak akhirat, terimalah dari bagian zuhudmu dan engkau akan meraih pintu-pintu Tuhanmu Aza wa-Jalla melalui Tangan KuasaNya, tindakan dan kesertaanNya, bukan dengan tangan dunia, bukan melalui pintu dan tangan-tangan penguasa yang bergabung dan kesenangan dan nafsu, syetan dan khalayak awam.

Bila engkau raih dunia sedangkan hatimu ada di pintu Tuhanmu Azza wa-Jalla maka para malaikat dan ruh para Nabi ada di sekitarmu. Tentu jauh sekali perbedaan kedua di atas.

Orang-orang yang berakal sehat mengatakan, “Kami tidak makan bagian dunia kami baik di jalan maupun di rumah-rumah kami, dan kami tidak makan kecuali yang datang dariNya. Sedang orang-orang zuhud makan dari dalam syurga. Orang-orang arif selalu makan di sisiNya walau mereka ada di dunia.
Sang pecinta tidak makan di dunia maupun di akhirat karena makanan dan minuman mereka adalah kemesraan dan kedekatan dari Tuhannya serta memandang Sang Kekasihnya. Mereka menjual dunia dengan akhirat, lalu menjual akhirat dengan kedekatan padaNya, Tuhannya dunia dan akhirat. Dan Shiddiqun dengan cintanya menjual akhirat demi WajahNya dan hanya menghendakiNya, bukan lainNya. Ketika jual beli selesai ia penuh dengan kemuliaan, lalu dunia dan akhirat diberikan padanya sebagai anugerah. Ia mengambil seperlunya menurut perintahNya, tanpa merasa butuh pada keduanya. Mereka melakukan itu semua sebagai penyelarasan dengan takdir dan beradab yang bagus dengan takdirNya. Mereka menerima dan mengambil sembari berkata:
“Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui apa yang kami ingiunkan.” (Huud 79)

Anda akan merasakan, “Kami relah bersamaMu bukan dengan selainMu, dan kami pun rela dengan lapar Dan dahaga, compang-camping hina dina, yang tenteram, dan hendaknya kami selalu ada di depan pintuMu.”

Ketika mereka rela dengan itu semua dan menegaskan jiwanya maka Allah memandang mereka dengan pandangan cinta kasih, Allah Azza wa-Jalla pun memuliakan mereka setelah mereka merasa hina, Allah mencukupinya setelah mereka merasa fakir dan dihamparkan rasa taqarrub di dunia dan di akhirat kepadaNya.

Orang beriman melakukan tindakan zuhud di dunia sehingga zuhudnya memberishkan kotoran di batinnya, lalu datanglah akhirat, ia menghuninya dengan hatinya, lalu datanglah unsur pembersih hatinya karena akhirat pun dinilainya jadi hijab untuk mendekat kepadaNya Azza wa-Jalla. Disinilah ia tinggalkan kesibukan dengan makhluk secara total, kemudian hanya menjaga dan menjalan perintahNya, menjaga batas-batas syar’i antara dirinya dengan publik, kedua matahatinya terbuka, lalu ia melihat cacat jiwanya dan para makhluk, sampai ia tidak tenang kecuali berada di sisi Tuhannya Azza wa-Jalla. Ia tidak mendengar selain dariNya, tidak menggunakan akal selain dariNya, tidak terpaku kecuali pada janjiNya, tidak takut selain ancamanNya. Ia tinggalkan aktivitas selain Dia, dan aktif bersamaNya. Jika semua ini sempurna ia masuk dalam posisi “tiada mata pernah memandang dan tiada telinga pernah mendengar serta tiada intuisi di hati manusia.”

Anak-anak sekalian
Aktifkan dirimu untuk mengoreksi diri, lalu engkau dapatkan manfaat, baru engkau berikan pada yang lain. Jangan seperti lilin yang membakar dirinya dan menerangi lainnya. Jangan sampai dirimu masuk dalam sesuatu hal bersama dirimu, nafsu dan hawa nafsumu. Bila Allah Azza wa-Jalla menghendakimu, Dia berikan padamu untukNya, bila Allah Azza wa-Jalla menghendakimu untuk memberi manfaat bagi publik pasti Dia memerintahmu untuk terjun di sana, memberi kekuatan dan keteguhan atas kekerasan jiwa mereka, dengan keleluasaan hatimu terhadap makhluk. ALLAH Azza wa-Jalla pun melapangkan dadamu, dan memberikan kepastian hukum pada batinmu, dan meresapkannya ke batinmu. Saat itulah yang ada hanya Dia bukan anda. Dengarkan apa yang difirmankan)Nya:
“Wahai Dawud, sesungguhnya Kami jadikan kamu khalifah di muka bumi “ ( Shaad 26)

Dan firmanNya: “Sesungguhnya Kami jadikan dirimu Khalifah”.

Sepanjang anda merasa bisa bicara, maka diri anda mewakili ego nafsu anda. Sedangkan kaum Sufi tidak memiliki hasrat dan kehendak, namun mereka semata hanya mengaksentuasi perintah Allah Azza wa-Jalla Dalam ucapan, tindakan dan pengaturan.

Wahai orang yang lepas dari jalan yang lurus jangan anda berhasrat pada sesuatu, karena anda tidak mempunyai argument kuat untuk mempertahankannya. Halal itu jelas dan haram itu jelas. Namun betapa buruknya dirimu pada Allah Azza wa-Jalla, betapa sedikitnya rasa takutmu padaNya, namun betapa banyaknya anda merendahkan nilai memandangNya. Nabi saw, bersabda:
“Takutlah kepada Allah Azza wa-Jalla seakan-akan engkau melihatNya, dan bila engkau tidak melihatNya, sesungguhnya Dia melihatmu.” (Hr Bukhari)

Mereka yang sadar diri senantiasa memandsng Allah Azza wa-Jalla dengan qalbunya, ketika terpadu jadi lah keteguhan yang satu yang menggugurkan hijab-hijab antara diri mereka dengan DiriNya.
Semua bangunan runtuh tinggal maknanya. Seluruh sendi-sendiri putus dan segala milik menjadi lepas, tak ada yang tersisa selain Allah Azza wa-Jalla. Tak ada ucapan dan gerak bagi mereka, tak ada kesenangan bagi mereka hingga semua itu jadi benar. Jika sudah benar sempurnalah semua perkara baginya. Pertama yang mereka keluarkan adalah segala perbudakan duniawi kemudian mereka keluarkan segala hal selain Allah Azza wa-Jalla secara total, dan senantiasa terus demikian dalam mennjalani ujian di RumahNya.
“Maka itulah Dia memandang bagaimana mereka beramal.” (Sal-A’raaf 129).

Sirr (rahasia batin) adalah raja, dan qalbu adalah perdana menteri. Nafsu, lisan dan seluruh banggota tubuh adalah pasukan yang mengabdi pada sirr dan qalbu. Sirr meminum dari lautan Ilahi Aza wa-Jalla dan qalbu minum dari lautan sirr. Nafsu yang tenteram minum dari qalbu, lisan minum dari nafsu, serta seluruh anggoita badan minum dari lisan. Bila lisan bagus, pasti darti qalbu yang bagus, dan jika rusak maka rusak karenanya. Lisan anda butuh kendali ketaqwaan dan taubat dari bicara pada hal-hal yang hina dan munafik. Bila bisa langgeng lisan anda demikian, kefasihan lisan akan berbalik pada kefasihan qalbu dan akan memancarkan cahaya dari qalbu itu, lantas memancar pada lisan serta seluruh tubuh. Bila segalanya sempurna, lisan yang dekat pada taqarrub akan menyerap jiwa taqarrub, lalu lisan tak ada lagi ucapan, tak adsa doa, dan tak ada dzikir yang terucap. Doa, dzikir maupun ucapan begitu jauh darinya, sedangkan yang dekat adalah diam, beku dan menerima dengan memandang dan menikmati bersamaNya.

Ya Allah jadikanlah kami tergolong orang yang memandangMu di dunia dengan kedua mata hatinya dan di akhirat memandang dengan kedua mata kepalanya. Dan berikan kami di dunia kebajikan dan di akhirat kebajikan pula, dan lindungi kami dari azab neraka.

Ikhlas dan Jujur


Al-Ghazali

Ikhlas memiliki hakikat, prinsip dan kesempurnaan. Prinsip ikhlas adalah niat, sebab dalam niat itu

terdapat keikhlasan. Sedangkan hakikat ikhlas adalah kemurnian niat dari kotoran apapun yang mencampuri kesempurnaan adalah kejujuran.



Pilar-Pilar Ikhlas

PILAR PERTAMA : Niat
Allah Swt. berfirman: “Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi hari dan di petang hari, sedang mereka menghendaki keridhaan-Nya.” (Q.s. Al-An’am: 52).

Arti niat adalah kehendak dan keinginan memperoleh ridha Allah Swt. Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya seluruh pekerjaan itu bergantung niat.”
Beliau juga bersabda, “Sesungguhnya para malaikat melaporkan amal seorang hamba. Kemudian Allah Swt. berfirman, ‘Lemparkanlah! buanglah amal itu, sebab dia itu tidak meniatkannya demi memperoleh ridha-Ku, dan tulislah untuknya begini dan begitu!’ Para malaikat berkata, ‘Sungguh, ia sedikit pun tidak melakukan perbuatan demikian!’ Lalu Allah Swt. berfirman, ‘Sesungguhnya dia meniatkannya, sungguh, dia meniatkannya’.”

Sabda Rasulullah Saw. berikutnya:
“Manusia itu ada empat macam, (yaitu): Orang yang oleh Allah dikaruniai ilmu dan harta. Dia memanfaatkan hartanya dengan ilmu yang dimilikinya. Lalu ada orang lain berkata, ‘Andaikata Allah mengaruniai aku seperti yang dikaruniakan kepada orang itu, tentu aku akan beramal sebagaimana dia beramal!’ Kedua orang ini pahalanya sama. Dan ada orang yang oleh Allah dikaruniai harta, tapi tidak dikaruniai ilmu, maka dia akan tersesat dengan kebodohannya dalam menggunakan hartanya. Lalu ada orang berkata, ‘Andaikata Allah mengaruniaiku seperti yang dikaruniakan kepadanya, tentu aku akan berbuat seperti apa yang ia perbuat!’ Maka kedua orang ini dosanya sama.” (Al-Hadis).

Sabdanya yang lain, “Barangsiapa berperang dan tidak berniat, kecuali hanya satu ikat saja, maka baginya adalah pahala yang diniatkan.”

Dikisahkan bahwa seseorang dari bani Israil melintasi sebuah bukit pasir pada masa paceklik. Menyaksikan bukit dan gundukan pasir itu ia bergumam dalam dirinya, “Andaikata aku memiliki makanan sebanyak bukit pasir ini, tentu dan pasti aku bagi-bagikan kepada manusia.” Kemudian Allah menurunkan wahyu kepada Nabi mereka (bani Israil) di masa itu: “Katakan kepadanya, bahwa Allah Swt. telah menerima sedekahmu, memberi balasan terhadap kebaikan niatmu, dan memberimu pahala andaikata kamu memiliki makanan sebanyak (gundukan bukit pasir itu), lalu kamu menyedekahkannya.”

“Barangsiapa menikahi seorang wanita dengan suatu maskawin, sedangkan ia punya niat untuk tidak memenuhinya, maka dia adalah seorang pezina. Dan barangsiapa berhutang, kemudian Ia punya niat tidak akan membayar, maka dia itu adalah pencuri.”
Hakikat Niat

Hakikat niat adalah, kemauan yang mendorong kekuatan yang lahir dari pengetahuan. Penjelasannya, bahwa seluruh pekerjaan Anda tidaklah absah tanpa kekuatan, kemauan dan ilmu. Ilmu menggerakkan kemauan. Kemauan merupakan motivasi dan pendorong kekuatan; dan kekuatan adalah alat, sarana dan pembantu kemauan dengan menggerakkan seluruh organ.

Misalnya, Allah menciptakan nafsu makan kepada diri Anda, hanya saja nafsu makan itu tenang, seakan-akan tidur. Bila mata Anda terantuk pada makanan, secara otomatis timbul pengetahuan tentang makanan tersebut, lalu bangkitlah nafsu makan Anda. Kemudian tangan Anda memungutnya. Sementara kerja tangan Anda memungut makanan itu dengan kekuatan yang tersimpan di dalamnya, yakni kekuatan yang patuh pada isyarat perintah nafsu makan. Nafsu makan itu bangkit karena adanya pengetahuan tentang makanan yang lahir dan penjelajahan indera rasa. Begitu juga ketika diciptakan selera nafsu/keinginan kepada sesuatu yang tampak di depan Anda, juga diciptakan pada diri Anda keinginan pada kelezatan-kelezatan yang akan datang. Kecenderungan dan kemauan semacam ini bangkit dari pengetahuan yang lahir dari akal pikiran. Dan kekuatan ikut membantu kecenderungan atau kemauan ini dengan menggerakkan organ.




Jadi niat itu adalah, kecenderungan atau kemauan kuat yang merupakan motivator bagi kekuatan. Karenanya, orang yang berperang, bisa saja motifnya adalah kecenderungan pada harta-benda, jadi itulah niatnya. Bisa juga motifnya adalah kecenderungan pada pahala akhirat, maka itulah niatnya.
Jadi niat itu adalah kemauan yang mendorong. Kemudian, makna dan keikhlasan niat itu sendiri adalah kemurnian unsur pendorong, yang bersih dari unsur lainnya.

Dorongan Niat
Jika suatu amal perbuatan dapat terealisasi dengan dorongan niat, maka niat dan amal merupakan ibadat yang sempurna. Niat merupakan satu dari dua sisi ibadat, namun merupakan sisi yang terbaik dan paling vital. Karena amal perbuatan dengan organ tubuh tidak akan mengenai sasaran, kecuali punya pengaruh dalam hati, yakni agar cenderung pada kebaikan dan jauh dari keburukan. Sehingga berpikir dan berdzikir mampu mengantarkan pada kesenangan jiwa dan ma’rifat, yang keduanya merupakan faktor bagi kebahagiaan di akhirat. Jadi, tujuan dan maksud dari meletakkan dahi di atas tanah bukanlah semata-mata peletakan dahi di atas tanah ansich; tetapi, ketundukan hati, sedangkan hati itu dapat dipengaruhi dengan perbuatan-perbuatan organ tubuh.

Tujuan zakat itu bukan untuk menghilangkan hak milik, tapi untuk memusnahkan kehinaan sifat kikir. Yakni, memotong ketergantungan hati dengan harta-benda. Tujuan dari penyembelihan binatang kurban bukanlah daging dan darahnya, tapi rasa ketakwaan hati dengan mengagungkan dan membesarkan syiar-syiar Allah Swt. Dan niat merupakan kecenderungan hati itu sendiri pada kebaikan. Itu adalah inti dari yang dituju dan lebih baik dari perbuatan organ-organ tubuh, dimana tujuan sebenarnya adalah penyerapan pengaruhnya ke dalam kalbu, yang menjadi tempat yang dituju. Karena itulah seluruh amal hati mewarisi pengaruh bentuk apa pun, namun bukan amal anggota badan. Perbuatan anggota badan tanpa kehadiran hati merupakan hal yang sia-sia belaka.

Walaupun memang disengaja, pengobatan sakit perut dengan obat yang diminum, jelas Iebih mujarab daripada obat yang dioleskan pada bagian luar perut, agar reaksi olesan obat itu mengalir ke dalam perut. Demikian sebaliknya, bila pengaruh obat oles itu tidak dapat meresap ke dalam perut, tentu sakit perut itu tidak akan sembuh. Dengan penjelasan ini, diketahuilah rahasia sabda Rasulullah Saw:
“Niat seorang Mukmin lebih baik dari amal perbuatannya.” (Al-Hadis).

Keutamaan Niat.
Niat memiliki keutamaan, karena di situlah inti tujuan itu bersemayam dan berpengaruh. Karena itu, banyak-banyaklah Anda berniat dalam seluruh amal perbuatan, bahkan Anda bisa beramal satu amaliah saja dengan niat yang banyak. Jika kemauan dan kecintaan Anda itu benar, niscaya Anda akan diberi petunjuk jalannya. Dalam hal ini, cukup bagi Anda satu contoh saja. Masuk dan berdiam di dalam masjid adalah ibadat, dan itu bisa dilakukan dengan delapan macam niat:
Pertama, Anda yakin bahwa masjid adalah rumah Allah (Baitullah). Orang yang memasuki masjid berarti datang menemui Allah; Anda pun berniat untuk berjumpa dengan Allah Swt.
Rasulullah Saw. bersabda, “Barangsiapa duduk di dalam masjid, berarti dia berkunjung kepada Allah Swt.” Hak pihak yang dikunjungi adalah menghormati pengunjungnya.

Kedua, niat untuk mengikat diri dengan Allah Swt. (murabathah).
Firman Allah Swt.: ”...dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga...” (Q.s. Ali-Imran: 200).

Ada yang berkomentar, maksudnya adalah menunggu datangnya salat setelah melaksanakan salat sebelumnya.

Ketiga, niat i’tikaf. Maksudnya adalah, mencegah pendengaran, penglihatan dan organ tubuh dari kebiasaan bergerak-gerak. I’tikaf adalah bentuk lain dari puasa.
Rasulullah Saw. bersabda:
“Kerahiban ummatku adalah duduk di dalam masjid.” (Al-Hadis).

Keempat, niat untuk khalwat dan meninggalkan segala kesibukan untuk merenungkan kehidupan akhirat, serta cara mempersiapkan diri menghadapinya.

Kelima, memusatkan diri untuk dzikir dan mendengarkan dzikir, atau memperdengarkannya. Sesuai dengan sabda Rasulullah Saw., “Barangsiapa menuju masjid untuk mengagungkan Allah Swt. atau menyebut-Nya, maka dia itu seperti pejuang di jalan Allah Swt.”

Keenam, bermaksud untuk mengamalkan ilmu, memberi peringatan kepada orang yang keliru ketika melakukan salat, ber-amar ma’ruf nahi munkar, sehingga dengan demikian kebaikan itu terwujud bersamanya.

Ketujuh, meninggalkan dosa-dosa karena malu kepada Allah Swt., dengan jalan melakukan niat yang baik dalam diri, perkataan dan amal perbuatan, sehingga orang yang berbuat dosa pun merasa malu.

Kedelapan, Anda berniat mengambil faedah pada saudara seakidah, sebab yang demikian itu merupakan simpanan berharga bagi kehidupan akhirat.
Masjid merupakan tempat utama (markas) pemeluk agama yang cinta kepada dan, dalam Allah. Analogikan seluruh amal perbuatan dengan hal ini, dengan berhimpunnya niat-niat tersebut dapat membersihkan amal-amal Anda, sehingga mencapai derajat amal muqarrabun. Sebagaimana juga, kontra pada niat baik tersebut dapat mengantarkan pada perbuatan setan. Seperti orang yang berdiam di masjid dengan niat berbicara batil, memfitnah dan membicarakan sifat-sifat orang lain, menemani orang yang suka bermain-main dan bersenda-gurau, memperhatikan wanita dan anak-anak, melihat orang yang berdebat dengan sesama teman dengan motivasi egois dan popularitas, agar orang-orang yang mendengarkan ucapan dan pembicaraannya merasa rendah.




Demikian pula tidaklah semestinya melalaikan niat yang baik dalam urusan-urusan yang dibolehkan (mubah) di masjid.
Disinyalir dalam sebuah hadis, bahwa pada hari Kiamat nanti seorang hamba ditanya tentang segala sesuatu, hingga tentang celak pada kedua matanya, pecahan-pecahan tanah yang diremukkan oleh jari-jemarinya, dan sentuhan tangannya terhadap pakaian saudaranya.

Contoh niat dalam hal-hal yang dibolehkan adalah, orang yang mengenakan parfum atau bersolek pada hari Jum’at. Bisa saja tujuannya untuk menikmati kenyamanannya dan memamerkan kekayaannya untuk menarik simpati wanita, dan menebarkan kerusakan. Ada pula yang niatnya mengikuti sunnah, menghormati rumah Allah, menghormati hari Jum’at, untuk menghilangkan bau tidak sedap yang bisa dihirup oleh orang lain, agar bau semerbak itu sampai kepada mereka, sehingga mencegah timbulnya ghibah bila mereka mencium bau tidak sedap darinya.
Tentang dua kelompok ini, Rasulullah Saw. bersabda:
“Barangsiapa mengenakan wewangian karena Allah, pada hari Kiamat nanti semerbak harumnya lebih dari semerbak minyak misik. Dan barangsiapa mengenakan wewangian karena selain Allah, pada hari Kiamat nanti baunya lebih busuk dari bangkai.” (Al-Hadis).

Kategori Niat
Perlu diingat, bahwa niat bukanlah masuk dalam kategori ikhtiar. Karena itu, seharusnya Anda tidak tertipu, sehingga Anda berkata dengan lisan dan hati Anda, ”Aku duduk di masjid dengan niat ini dan itu.” Lalu Anda mengira bahwa diri Anda telah melakukan niat. Padahal sebelum itu, Anda telah tahu bahwa niat itu adalah pendorong yang menggerakkan amal. Apabila niat tidak ada, amal pun tidak terwujud.
Niat yang dibuat-buat, seperti ucapan Anda, “Aku berniat untuk menyayangi si Fulan, mencintai dan mengaguminya.” Atau Anda berkata, “Aku berniat untuk haus, atau lapar, atau kenyang.”
Pertama, Anda yakin bahwa masjid adalah rumah Allah (Baitullah). Orang yang memasuki masjid berarti datang menemui Allah; Anda pun berniat untuk berjumpa dengan Allah Swt.

Seluruhnya memiliki faktor dan sebab, yang bisa mewujudkannya.
Dengan kata lain, semuanya tidak dapat terwujud tanpa sebab dan faktor-faktor dimaksud. Orang yang berkata, “Aku meniatkannya sebelum terwujud.” Hal itu sebenarnya merupakan angan-angan belaka, bukan niat.

Orang yang bersetubuh karena dikuasai gejolak nafsu seks, bagaimana mungkin menggunakan niatnya, ”Aku berniat melakukan persetubuhan untuk mendapatkan keturunan,” dan mungkin untuk memperbanyak anak dengan tujuan berbangga-bangga diri. Bahkan niat ketika bersetubuh, tidak akan terbersit dari hati Anda, kecuali iman Anda kokoh dan pengetahuan tentang kerendahan nilai kebahagiaan dunia dan besarnya nilai pahala akhirat merupakan pengetahuan yang sempurna; sehingga iman dan pengetahuan dapat menguasai Anda. Dari situlah secara otomatis lahir kecintaan Anda kepada segala hal yang mengantarkan pada perolehan pahala akhirat. Sebaliknya, bila rasa cinta itu tidak lahir, berarti Anda ketika itu tidak punya niat. Karena itulah, sejumlah ulama salaf menahan diri untuk melakukan beberapa kebaikan; bahkan dituturkan bahwa Muhammad bin Sirin tidak menyalati jenazah Hasan Al-Bashri dengan alasan, “Niat belum hadir di hatiku.”

Konon pernah dikatakan kepada Thaus, “Doakan kami!”
“Aku akan mendoakan kalian setelah mendapatkan niat untuk kepentingan itu.”

Di antara mereka berkata, ”Aku, sejak sebulan yang lalu berupaya mencari niat untuk menjenguk seseorang. Maka, aku menunggu kebenaran niatku.”
Orang yang tahu tentang hakikat niat dan mengetahui pula bahwa niat merupakan jiwa (ruh) dari amal perbuatan, maka dia tidak akan disibukkan oleh amal perbuatan yang tanpa jiwa (ruh). Hal ini menguatkan bahwa suatu hal yang mubah bisa saja lebih utama dari suatu ibadat jika disertai dengan niat.
Orang makan dan minum tanpa niat berpuasa saat itu, dengan niat agar mampu melaksanakan ibadat, maka tindakan makan dan minum itu lebih utama.
Orang yang bosan melakukan ibadat dan tahu bahwa dengan tidur semangatnya bisa pulih kembali, maka tidur lebih utama baginya. Bahkan jika pada saat-saat tertentu menghibur diri dengan kelakar dan senda-gurau mampu membangkitkan semangatnya, maka kegiatan menghibur diri itu lebih utama baginya daripada melakukan salat yang disertai dengan rasa bosan.

Rasulullah Saw. bersabda:
“Sesungguhnya Allah tidak merasa bosan, kecuali kalian merasa bosan.” (Al-Hadis).

Abu Darda’ berkata, ”Aku berupaya mengistirahatkan jiwaku, dengan suatu bentuk senda-gurau. Itu bisa menjadi sarana pembantu bagiku untuk mewujudkan kebenaran.”

Ali r.a. berkata, “Hibur dan istirahatkanlah jiwa itu, sebab bila terusmenerus merasa sedih, dia jadi gagap dan tidak cakap.”
Hal-hal mendetail seperti inilah yang terasa amat sulit dan berat di mata para ahli dzahir, fuqaha’, seperti ketidakberdayaan seorang dokter untuk mengobati orang yang sakit panas dengan daging. Sementara dokter ahli kadang-kadang menyuruh mengembalikan tenaga sang pasien, sehingga hal itu menjadi obat yang mujarab.


PILAR KEDUA : Keikhlasan Niat.
Allah Swt. telah berfirman:
“Padahal mereka tidak disuruh, kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus.” (Q.s. Al-Bayyinah: 5).

“Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik).” (Q.s. Az-Zumar: 3).

Firman-Nya pula:
“Kecuali orang-orang yang tobat dan mengadakan perbaikan dan berpegang teguh kepada (agama) Allah yang tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah.” (Q.s. An-Nisa’: 146).

Nabi Muhammad Saw. bersabda, ”Allah Swt. berfirman dalam Hadis Qudsi: ‘Ikhlas itu adalah salah satu rahasia dan rahasia-Ku, yang Kutitipkan dalam kalbu beberapa hamba-Ku yang Kucintai’.”

Rasulullah Saw. bersabda kepada Mu’adz, “Ikhlaslah dalam beramal, niscaya kamu dapat imbalan (banyak) dan amal yang sedikit .“

Sabda beliau pula: “Siapa pun seorang hamba melakukan amal perbuatan dengan ikhlas selama empatpuluh hari, maka memancarlah hikmah dari kalbu melalui lisannya.”

Hakikat Ikhlas
Hakikat ikhlas adalah pemusatan satu motivasi. Lawannya adalah dualisme. Yakni, dualisme dalam motivasi, sehingga setiap hal yang berkembang selalu dicampuri dengan unsur lain. Apabila terbebas dari segala bentuk campur unsur lain bisa disebut murni.



Anda telah tahu, bahwa niat itu merupakan pendorong. Orang yang beramal tanpa riya’ itu disebut mukhlish. Orang yang beramal hanya karena Allah disebut mukhlash. Namun ada istilah khusus bagi keduanya. Ingkar misalnya, adalah bentuk kecenderungan, namun kecenderungan dalam konteks kebatilan. Kami telah mensinyalir tentang punahnya keikhlasan karena intervensi riya’, namun demikian, rasa ikhlas itu dapat punah pula karena motif-motif dan tujuan-tujuan lainnya. Orang yang berpuasa kadang-kadang bermaksud untuk memperoleh perlindungan, kesehatan yang prima yang bisa dilahirkan dengan berpuasa. Orang yang memerdekakan seorang budak bisa saja bertujuan supaya aman dari kejahatan budak tersebut.
Orang yang menunaikan ibadat haji mungkin saja bertujuan agar sehat dengan gerakan-gerakan tubuh dalam perjalanannya itu. Atau dia lari dari problem keluarga, atau lari dari penganiayaan musuh ataupun kejenuhan bersama keluarga.

Seorang pelajar menuntut ilmu, ada pula yang bertujuan agar mudah mencari penghidupan, atau agar aman —dengan kekuatan ilmu yang diperoleh— dari kezaliman, atau untuk menulis buku-buku agar bisa menulis dengan lancar. Atau dia melakukan haji dengan berjalan kaki untuk memperingan bekal. Dia berwudhu’ untuk membersihkan diri atau agar mendinginkan organ tubuh.

Orang mandi, ada yang berniat agar berbau sedap. Beri’tikaf untuk memperingan beban tempat tinggal. Dia berpuasa untuk memperingan beban untuk memasak dan membeli makanan. Memberi sedekah untuk menahan diri dari kejembelan seorang pengemis, atau menjenguk orang sakit agar dijenguk pula bila sakit. Niat-niat dan tujuan-tujuan semacam itu kadang-kadang lepas dan kadang-kadang bercampur-aduk dengan tujuan ibadat. Jika salah satu tujuan seperti disebutkan di atas terbetik dalam sebuah amal perbuatan, itu artinya keikhlasan telah punah. Ini merupakan suatu hal yang cukup alot dan sulit. Karena itulah sebagian mereka berkata, “Ikhlas satu jam adalah kesuksesan abadi. Namun hal itu sangat berat.”
“Berbahagialah orang yang satu langkah hidupnya tidak ditujukan, kecuali demi Allah Swt.,” kata Abu Sulaiman Ad-Darany.
Ma’ruf Al-Karkhy memukul-mukul dirinya seraya berkata, “Wahai jiwaku, wahai diriku, bertulus-ikhlaslah engkau, agar engkau selamat!”

Derajat Dualisme.
Perlu diingat, bahwa dualisme niat itu berperingkat: Kadang-kadang menang, kadang-kadang kalah, tapi terkadang juga berimbang (sejurus) dengan tujuan ibadat, dan itu tidak menafikan pahala dalam hal-hal mubah. Sungguhpun unsur lain dari tujuan karena Allah itu ada, tapi pahala atau imbalan yang diterimanya sesuai dengan kadar unsur tersebut, yang mencampurinya. Sedangkan sisanya tidak memperoleh imbalan pahala.
Jika dalam suatu ibadat yang harus dilaksanakan dengan ketulus ikhlasan kepada Allah Swt., unsur dualisme niatnya menang atau lebih tinggi, maka ibadat itu batal (gugur). Kemudian apabila dualisme niat itu sama (sebanding) atau kalah, maka keikhlasannya batal. Bisakah seluruh unsur dualisme itu dinafikan secara keseluruhan?
Dalam hal ini terdapat beberapa penjelasan dalam Bab “Riya”. Untuk lebih jelasnya, silakan Anda merujuk pada kitab Al-Ihya’.

PILAR KETIGA : Kejujuran
Kejujuran adalah kesempurnaan ikhlas. Allah Swt. berfirman, ”Ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah ...“ (Q.s. Al-Ahzab: 23).

Nabi Muhammad Saw. bersabda: “Sesungguhnya orang yang jujur dan membiasakan diri berlaku jujur, maka dicatat di sisi Allah sebagai orang yang sangat jujur.” (H.R. Bukhari-Muslim).

Allah Swt. berfirman: “Ceritakanlah (hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam AlKitab (Al-Qur’an) ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan (sangat jujur) lagi seorang Nabi.” (Q.s. Maryam: 41).

Ada enam tingkatan kejujuran. Orang yang mencapai derajat kejujuran yang sempurna layak disebut sebagai orang yang benar-benar jujur, antara lain:
Pertama, jujur dalam perkataan, di setiap situasi, baik yang berkaitan dengan masalalu, kini dan yang akan datang. Kejujuran ucapan ini punya dua sisi kesempurnaan:

Waspada terhadap ucapan yang bersifat pamer. Walaupun ucapan itu sendiri benar adanya, tapi dipahami sebagai lawan kata dan kebenaran. Kedustaan yang diwaspadai dipahami sebagai lawan kebenaran, sebab hati mendapatkan bentuk kedustaan yang berasal dari dusta lisan. Dan bila arah hati telah bergeser dari kebenaran menuju arah yang menyimpang, maka kebenaran itu tidak dapat mengejawantah pada hati secara benar, sehingga penglihatan-penglihatan hati tidak benar/jujur pula. Penampakan amal itu tidak masuk dalam kategori ini sebab ia sendiri merupakan kejujuran, atau suatu hal yang benar adanya. Namun, penampakan amal itu terjerumus dalam larangan.
Masa bodoh terhadap arti ucapan. Ini tidak seharusnya dilakukan, kecuali dengan tujuan yang benar. Penyempurnaan sisi kedua ini adalah hendaknya memelihara kejujuran dalam seluruh pembicaraan bersama Allah Swt. Jadi, ketika mengucapkan, ”Aku hadapkan wajahku,” kemudian dalam hatinya terbetik sesuatu selain Allah, maka dia itu adalah pendusta.

Selanjutnya, pada saat mengucapkan, “Kepada-Mu aku menyembah,” padahal dirinya adalah budak dunia atau budak hawa nafsunya, atau budak orang lain, tentu sulit sekali pembenaran ucapan itu pada hari Kiamat nanti. Karena itulah, Nabi Isa as. berkata, “Wahai budak dunia!”
Dan Nabi Saw. kita bersabda: “Celakalah hamba dirham dan hamba dinar!” (Al-Hadis).

Kedua, kejujuran dalam niat. Hal itu berupa pemurnian, yang menjurus pada kebaikan. Jika di dalamnya terdapat unsur campuran lainnya, berarti kejujuran kepada Allah Swt. telah sirna. Karenanya, orang semacam itu disebut, “Si jujur bermuka masam, dan si jujur bermuka manis”.
Apabila murni, hal itu dikembalikan pada substansi keikhlasan itu sendiri.

Ketiga, kejujuran dalam bertekad. Seseorang bisa saja mempunyai tekad yang bulat untuk bersedekah bila dikaruniai rezeki. Juga bertekad untuk berbuat adil bila dikaruniai kekuasaan. Namun adakalanya tekad itu disertai dengan kebimbangan, tapi juga merupakan kemauan bulat yang tanpa keragu-raguan. Orang yang mempunyai tekad yang bulat lagi kuat disebut sebagai orang yang benar-benar kuat dan jujur.

Keempat, memenuhi tekad. Seringkali jiwa dibanjiri dengan kemauan yang kuat pada mulanya, tapi ketika menginjak tahap pelaksanaan, bisa melemah. Karenajanji tekad yang bulat itu mudah, namun menjadi berat ketika dalam pelaksanaan.
Oleh karena itu, Allah Swt. berfIrman: ”Ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah.” (Q.s. A1-Ahzab: 23).

Allah swt. juga berfirman: “Dan di antara mereka ada yang telah berikrar kepada Allah, ‘Sesungguhnya jika Allah memberikan sebagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah ... dan pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh.’ Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran). Maka Allah menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai pada waktu mereka menemui Allah, karena mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan (juga,) karena mereka selalu berdusta.” (Q.s. At-Taubah: 75-7).


Kelima, kejujuran dalam beramal. Tidak mengekspresikan hal-hal batin, kecuali batin itu sendiri memang demikian adanya. Artinya, perlu adanya keselarasan dan keseimbangan antara yang lahir dan yang batin. Orang yang berjalan tenang misalnya, menunjukkan bahwa batinnya penuh dengan ketentraman. Bila ternyata tidak demikian, dimana kalbunya berupaya untuk menoleh kepada manusia, seakan-akan batinnya penuh dengan ketentraman, maka hal itu adalah riya’. Sebaliknya, bila hatinya tidak berpaling kepada manusia, tapi tiba-tiba lalai, itu bukanlah riya’. Namun dengan demikian, kejujuran menjadi sirna, karenanya Rasulullah Saw. pun berdoa: “YaAllah, jadikanlah batinku lebih baik daripada lahirku, dan jadikanlah untukku ekspresi lahir yang baik.”



Abdul Wahid berkata, “Hasan Bashri adalah orang yang paling tekun melakukan amal yang diperintahkan, dan paling keras meninggalkan sesuatu yang dilarang. Aku belum pernah menyaksikan orang yang batinnya sama dengan lahirnya.”

Keenam, kejujuran dalam maqam-maqam agama. Ini adalah peringkat kejujuran tertinggi. Seperti maqam takut (khauf), harapan (raja’), cinta (hubb), ridha, tawakal dan lain-lain.

Seluruh maqam tersebut memiliki titik tolak, hakikat dan puncak akhir (klimaks). Sebab dinyatakan pula, “Ini adalah rasa takut yang benar (al-khaufus-shadiq)”, dan, ”ini ada!ah kesenangan yang jujur/ benar (as-syahwah as-shadiq)”. Itu!ah sebabnya Allah Swt. berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar.” (Q.s. Al-Hujurat: 15).

Firman-Nya pula: ”Akan tetapi, sesungguhnya kebaktian itu ialah kebaktian orang yang beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, Nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan salat dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); ....“ (Q.s. Al-Baqarah: 177).

Inilah tingkatan-tingkatan kejujuran. Orang yang mampu mewujudkannya secara keseluruhan, dialah orang yang benar-benar jujur. Orang yang belum mampu mencapai sebagian peringkat kejujuran, tingkatan dirinya sesuai dengan kadar peringkat kejujuran yang telah digapainya.
Di antara sejumlah kejujuran adalah, pembenaran kalbu bahwa Allah Swt. adalah Maha Pemberi rezeki, dan bertawakal kepada-Nya. Inilah yang perlu kita ingat!

Pendidikan Sufi Anak-Anak Kita


Berbagai pertanyaan muncul dari kalangan orang tua, yang berhasrat agar jiwa anak-anaknya tumbuh dalam pantulan Cahaya Allah Hasrat yang sungguh wajar dan mulia, karena anak-anak kita adalah diri kita di masa depan, harapan-harapan kesalehan yang disebut dalam Al-Qur’an sebagai generasi yang “Qurrotu A’yun” (menyejukkan matahati)

Kemudian generasi itu disebut sebagai anak-anak saleh. Sebuah figur kesalehan bukan pada ornament pakaian, bukan pula pada disiplin mereka belajar, juga bukan pada kepandaiannya membaca Qur’an, kepiawaiannya menghafal doa-doa. Namun justru tertumpu pada naluri-naluri jiwa yang tumbuh dengan penuh kebajikan, kepekaan terhadap nuansa Ilahiyah, dan kesadarannya terhadap akhlaq ibadah.

Mari kita tengok sejenak anak-anak kita yang tersebar di sekolah-sekolah, mulai SD sampai SMA, mulai Madrasah Ibtidaiyah sampai Madrasah Aliyah, berapa persen dari mereka yang masih mendoakan kedua orang tuanya setiap habis sholat?

Coba bayangkan, ketika pagi hari saat matahari mulai memancarkan cahayanya di bumi, berjuta-juta anak sedang bersiap menuju sekolah, tinggal berapa persen diantara mereka yang pamit pada kedua orang tuanya sembari mencium telapak tangannya dengan rasa hormat dan patuh?
Lebih menyakitkan lagi, tinggal berapa dari sekian juta anak-anak kita yang masih mencintai pelajaran agamanya dan bahkan memprioritaskan pelajaran agama dibanding pelajaran lainnya?

Sementara sampah gaya hidup modern, televisi, game, facebook, sms di HP, sudah merampok hati anak-anak kita. Lalu berjuta-juta anak-anak kita seperti robot, terseret oleh teknologi komunikasi dan permainan yang membuat kreativitas psikhologisnya terganggu?
Alangkah nestapanya jika bertahun-tahun situasi itu berlalu tanpa koreksi yang fundamental atas dunia pendidikan kita.

Pendidikan di sekolah, pendidikan di tengah keluarga, pendidikan di masjid-masjid, pasang surut tanpa ada jedah refleksi untuk merenungkan kembali, “Mau dibawa kemana 20 tahun lagi anak-anak kita nanti?”.

Tujuh tahun silam ketika 3000 guru agama se Kabupaten Banyuwangi dikumpulkan oleh Bupatinya, di Stadion kota itu, saya bertanya kepada mereka, “Apakah bapak-bapak dan ibu guru, ada yang mendoakan murid-muridnya setiap habis sholat?”. Mereka terdiam hening. Ya, para guru agama saja, sedang lalai mendoakan para muridnya setiap mereka berdoa.

Pantaslah jika para siswa kita, kehilangan “Bapak Spiritual” di sekolah, sedangkan di rumah, ayah bundanya sibuk bekerja. Siapa yang bertanggung-jawab kelak di akhirat nanti?

Doa Sang Sufi
Coba kita ambil pelajaran dari doa sang Sufi. “Oh Tuhan, jadikan anak cucuku sampai akhir zaman nanti, anak-anak yang soleh dan solihah, hidupnya manfaat dunia akhirat, diberi tetap iman, terang hati dan selamat dunia akhirat.” Doa pendek yang dahsyat, yang menggetarkan jiwa kita semua.
Generasi soleh dan solihat, generasi yang manfaat dunia akhirat, adalah konsep agung yang mesti kita terjemahkan dalam dunia pendidikan kita. Dan semua harus kita mulai dari lingkungan paling dekat kita: keluarga, sekolah, tempat-tempat dan wilayah kreativitas mereka.

Para Sufi mengenalkan Allah kepada anak-anaknya sejak dalam kandungan. Memperdengarkan suara-suara dzikrullah, sementara detak jantung ibundanya yang mengandung terus mendetakkan Allah Allah Allah. “Awwaluddiin Ma’rifatullah”. Mengenal Allah itu awal agama, dasar agama, mengenalkan Tauhid, disertai perilaku kebajikan yang luhur.

Ketika anak lahir ke dunia, suara adzan dan iqomah sudah dibunyikan di kedua telinganya. Sejak itulah, para Sufi mengajari bicara sang bayi, dengan bunyi-bunyian Ismu Dzat, agar kata yang pertama kali bisa diucapkan oleh sang bayi adalah kata Allah.
Sang bayi berkembang menjadi anak dengan segenap pertumbuhan. Dengan segala kepasrahannya kepada Allah, kedua orang tuanya mendidik anak itu, tanpa memaksakan harus menjadi Ulama atau Kiai.

Namun, rasa cinta kepada Allah dan RasulNya, adalah atmosfir yang terus diliputkan dalam setiap pertumbuhan usianya. Ia tumbuh ibarat sebuah pohon “Syajarah Toyyibah”. Apa pun, mulai dari akar, ranting, batah tubuh pohon itu, daun, bunga dan buahnya senantiasa menjulang ke wilayah Samawat (Langit-langit Kebajikan dunia akhirat).




Pendidikan sholat, pembentukan karakter, membangun jiwa besar dalam dirinya, baru kemudian hal-hal yang berkaitan dengan pertumbuhan otak rasionalnya. Orang tua mencintai dan menyayangi anak, bukan karena rasa sayang ansich, sebagaimana umumnya orang tua mencintai anak. Namun, cinta kepada anak karena cintanya kepada Allah swt. Bukan mencintai anak untuk mencintai Allah. Namun mencintai Allah, dan pantulan cinta kepadaNya itu bertabur ke anak-anak mereka hingga ke akhirat.

Sejak kanak-kanak – oleh karenanya – mereka terus diingatkan untuk mendawamkan Ismu Dzat dalam hatinya. Dengan berbagai cara, orang tua mengingatkan mereka itu. Kelak ketika mereka tumbuh di masa depan, dengan lingkungan beragam seperti apa pun, kepekaan kepada Allah akan terus berjalan, sekaligus mengontrol jiwanya.

Namun, tugas berat bagi kedua orang tua, bukan saja menyiapkan mental ruhani mereka, kecerdasan jiwa mereka, bahkan pada satu sisi hadirnya anak-anak bisa menjadi cobaan bagi iman mereka. Dalam Al-Qur’an disebutkan: “Sesungguhnya harta dan anak-anakmu adalah ujian.”
Ujian harta selalu muncul ketika, manusia mulai mencintai harta itu. Lalu ia menjadi budaknya. Begitu juga ujian anak muncul ketika seseorang mencintai anak itu, dan merebut hatinya dari cintanya kepada Allah swt. Kecemburuan Allah menimbulkan cobaan, yang tak lain hanya untuk mengngingatkan “Kisah Cinta Ilahiyah”nya, jangan sampai ternoda.

Disinilah Cinta pada Allah menimbulkan tanggung-jawab terhadap keberlangsungan regenerasi manusia, agar generasi berikutnya juga mencintai Allah, karenanya, cinta kepada anak biar sebagai pantulan atau akibat cahaya cinta anda kepada Allah Azza wa-Jalla.
Sebuah cinta penuh penyelamatan, karena memang pendaran cahayanya bermuatan daya keluhuran dariNya, dan semua itu memang harus kita pinta dalam doa-doa dan munajat kita. Sebab tanpa Tarikan Tangan ‘InayahNya, dan ketersingkapan HidayahNya, segalanya hanya sia-sia 
belaka.

Cinta


Syeikh Abul Hasan Asy-Asyadzily

Beliau r.a. menceritakan dari gurunya: Tekunilah bersuci dari kesyirikan; setiap kali berhadas, maka kamu bersuci; jangan sekutukan Allah dengan sesuatu pun. Dan dari noda cinta dunia; setiap kali condong kepada suatu syahwat, kamu meluruskan

dengan tobat apa yang telah atau hampir dirusak oleh hawa nafsu.



Kamu harus mencintai Allah Swt. dalam pengagungan dan kesucian. Biasakanlah minum dengan gelas-Nya (sekaligus) bersama kemabukan dan kesegaran: Setiap kali tersadar atau terbangun, teruslah minum sehingga jadilah mabukmu dan segarmu dengan-Nya. Hingga kamu lenyap dengan keindahan-Nya dari cinta dan dari minuman, kemuliaan, dan gelas, dengan apa yang tampak bagimu dari cahaya keindahan-Nya dan kegungan-Nya yang suci dan sempurna.

Barangkali aku berbicara kepada orang yang tidak mengenal cinta dan minuman, minum, gelas, kemabukan, maupun kesegaran. Seseorang berkata kepadanya, “Benar. Berapa banyak orang yang tenggelam dalam sesuatu, tetapi ia tidak mengetahui ketenggelamannya. Karena itu, kenalkanlah kepadaku dan ingatkan aku terhadap apa yang tidak aku ketahui atau terhadap apa yang telah Dia anugerahkan kepadaku sedangkan aku lalai.”

Aku berkata kepadanya, “Baiklah. Cinta adalah pikatan dari Allah terhadap hati hamba yang mencinta dengan apa yang Dia singkapkan untuknya dari keindahan-Nya, kesucian kesempurnaan keagungan-Nya, cahaya-cahaya dengan cahaya-cahaya, nama-nama dengan nama-nama, sifat-sifat dengan sifat-sifat, dan perbuatan-perbuatan dengan perbuatan-perbuatan (af’al). Dan menjadi luas pandangan padanya bagi orang yang Allah kehendaki.

Minum adalah penuangan hati, sendi-sendi, dan nadi-nadi dari minuman ini hingga memabukkan. Dan minum itu adalah dengan pelatihan demi pelatihan dan pembersihan (pendidikan). Karena itu, masing-masing dituangkan sesuai dengan kadarnya, Sebagian mereka dituangkan tanpa media atau perantara, Allah Swt. yang menangani hal ini untuknya. Sebagian lagi dituangkan dari sudut media-media dengan perantara-perantara seperti malaikat, para ulama, tokoh-tokoh besar dari kalangan muqarrabin (dekat kepada Allah). Dan, sebagian lagi bahkan mabuk dengan menyaksikan gelas sebelum mencicipinya sedikit pun. Bagaimana adanya menurutmu setelah mencicipi, setelah minum, setelah puas, setelah mabuk dengan minuman? Kemudian, kesegaran setelah itu di atas ukuran-ukuran yang berbeda sebagaimana kemabukan demikian juga halnya.

Gelas adalah makrifat kepada al-Haqq. Dia mengerjakan minuman yang suci murni lagi jernih itu kepada siapa yang Dia kehendaki dari hamba-Nya yang diberikan kekhususan di antara para makhluk-Nya. Maka, kadang-kadang peminum menyaksikan gelas itu secara bentuk lahir, kadang-kadang menyaksikan nya secara maknawi, dan kadang-kadang menyaksikan nya secara ilmiah. Bentuk adalah jatah fisik badan dan nafsu, maknawi adalah jatah akal dan hati, dan ilmiah adalah jatah bagian roh dan sir (matabatin). Oh duhai minuman, betapa lezatnya.

Sungguh beruntung orang yang meminum darinya, senantiasa terus-menerus, dan tidak diputus darinya. Maka, kita memohon kepada Allah semoga mendapatkan karunia-Nya. Itu adalah karunia Allah, Dia berikan kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan, Allah memiliki karunia yang sangat besar.

Kadang-kadang jemaah para pencinta berkumpul lalu minum dituangkan kepada mereka dari satu gelas. Kadang-kadang dituangkan kepada mereka dari gelas-gelas yang banyak. Kadang-kadang dituangkan kepada seorang saja dengan satu gelas dan beberapa gelas. Kadang-kadang minuman berbeda sesuai dengan jumlah gelas. Dan kadang-kadang juga berbeda minumnya padahal dari satu gelas, meskipun banyak orang yang telah minum darinya.
Beliau juga ditanya tentang cinta. Beliau menjawab, “Cinta adalah pikatan dari Allah untuk hati hamba-Nya dari setiap sesuatu selain-Nya. Sehingga kamu melihat ego condong kembali ketaatan terhadap-Nya, akal berbenteng dengan maghfirah-Nya, roh terpikat di dalam hadirat-Nya, dan matabatin tercurah dalam musyahadah kepada-Nya. Dan hamba selalu minta tambah, lantas ditambahkan dan meminta dibukakan dengan apa yang lebih manis dari kelezatan munajat-munajat kepada-Nya, lantas dia dibusanai perhiasan-perhiasan pendekatan diatas permadani kedekatan. ltulah yang dinamakan pikiran-pikiran hakikat dan kekokohan ilmu. Oleh karena itu, mereka mengatakan: ‘Para wall Allah itu pengantin-pengantin.’

Seseorang berkata kepadanya, “Sungguh aku telah mengetahui cinta. Lalu, apa minuman cinta, apa gelas cinta, siapa penuang, bagaimana rasanya, siapa peminum, apa kepuasan, apa kemabukan, dan apa kesegaran?” Beliau r.a. menjawab, “Minuman adalah cahaya yang bersinar tajam dari keindahan Kekasih. Gelas adalah kelembutan yang menyampaikan hal itu ke mulut-mulut hati. Penuang adalah Yang Menangani bagi orang istimewa paling agung, dan orang-orang saleh dari para hamba-Nya, Dialah Yang Maha Mengetahui segala ukuran dan kemaslahatan para kekasih-Nya.

Siapa yang disingkapkan untuknya keindahan itu dan menikmatinya dalam satu napas atau dua napas kemudian dibentangkan tirai atasnya, maka dialah pencicip yang merindu, Siapa yang berlangsung baginya hal tu selama satu jam atau dua jam, maka dia adalah peminum sejati. Dan, siapa yang berkelanjutan padanya perkara itu dan penuangan minuman berlangsung terus hingga tenggorokan penuh dan sendi-sendinya dari cahaya-cahaya Allah yang tersimpan, maka itulah kepuasan. Dan, karena ia kehilangan indra dan pikiran, sehingga dia tidak tahu apa yang dikatakan dan apa yang ia katakan, maka itulah kemabukan.

Dan kadang-kadang gelas-gelas beredar di seputar mereka, keadaan mereka pun berbeda-beda. Mereka dikembalikan kepada zikir, keadaan-keadaan, dan ketaatan-ketaatan, serta mereka tidak berhasil dalam menggapai sifat-sifat bersama berdesakannya takdir. Maka, ilmu lah waktu kesegaran mereka, keluasan pandangan mereka, dan bertambahnya amal mereka. Maka, dengan bintang-bintang ilmu dan purnama tauhid, mereka mendapat petunjuk di malam mereka. Dengan matahari-matahari makrifat mereka memperoleh cahaya. Mereka itulah partai Allah. Ingatlah, sesungguhnya golongan Allah itu golongan yang menang.

Allah


Syeikh Abdul Halim Mahmud.

Perbincangan tentang Allah cukup banyak dari berbagai dimensinya. Namun dimensi Sufi memandang Allah lebih istemewa dan khusus, yaitu pada tinjauan Cinta kepada Allah. Dalam dunia Sufi soal cinta kepada Allah swt, juga tiada terhingga banyaknya.

Kajian tentang Allah sangat berbeda dengan kajian para Ahli Kalam (teologi) , apalagi jika dibandingkan kajian para Filosuf.

Kaum Sufi dalam cintanya kepada Allah mengikuti jejak cintanya Rasulullah saw, sebagaimana orang Arab pernah mengomentari, “Sesungguhnya Muhammad telah asyik dengan Tuhannya.” Sayangnya orang-orang kafir Arab tidak beriman kepada Rasulullah saw. Atas cintanya kepada Allah swt.

Kaum Sufi kemudian menggelorakan cintanya kepada Allah swt, seperti yang diungkapkan oleh Rasbi’ah Adawiyah, Asy-Syibly, Imam Ibnu Masyisy, dan mayoritas kaum sufi lainnya, hingga disebutkan, “Tasawuf adalah cinta. Cinta pada Allah dan RasulNya, serta patuh pada Allah dan RasulNya.”
Diantara para pengkaji Allah ada yang meninjau dari segi WujudNya, sedangkan kaum Sufi sama sekali tidak meninjau WujudNya, baik dengan cara berdalil maupun bukti. Sehingga Ibnu Athaillah as-Sakandary mengungkapkan perspektif akademi Tasawuf dalam kitabnya, Lathaiful Minan, tentang Allah swt:
“Apabila makhluk ciptaan Allah swt, tidak memerlukan bukti untuk menjelaskan dan menegakkan dalilnya, maka – apalagi – Sang Pencipta sudah tidak perlu bukti untuk AdaNya.”

Pemikiran ini mengembalikan perspektif yang benar berhubungan dengan pandangan para teolog tentang , “Penetapan Wujud Allah.”
Pandangan Ibnu Athaillah merupakan sisi yang dikembangakan para Sufi, dan mayoritas pengikut Imam Abul Hasan asy-Syadzily, yang mengatakan, “Bagaimana Allah diketahui melalui orang yang ‘arif (mengenal Allah) sedangkan segala pengetahuan itu diketahui melalui Allah? Atau bagaimana Allah diketahui dan dikenal melalui sesuatu sedangkan Wujud Allah mendahului segala sesuatu?” (Lihat Lathaiful Minan)

Beliau juga menegaskan:
“Nah, seharusnya, kita memandang Allah swt dengan mata iman, sehingga kita tidak lagi perlu bukti dan dalil, karena kita tidak pernah melihat siapa pun dari makhluk, apakah masih ada Wujud selain Allah swt Sang Diraja? Kalau toh ada, maka seperti ruang hampa di udara, jika anda teliti anda tidak temukan apa-apa”.

Ibnu Athaillah juga mengikuti jejak beliau, yang kemudian menegaskan:
“Diantara hal yang sangat mengherankan bila semesta alam mini dianggap bisa menghubungan dengan Allah – menurutku – apakah masih ada wujud lain selain Allah? Ataukah masih ada yang lebih jelas – untuk menjelaskan – sehingga alam ini menjadi penjelas bagi Allah?”

Bagaimana alam semesta bisa menjelaskan tentang Allah? Sedangkan Allahlah yang memunculkan alam semesta ini, atau bagaimana alam mini bisa mengenalkan Allah sedangkan alam mini dikenalkan oleh Allah?”

Inilah pandangan yang dikenalkan oleh Syeikh Abul Hasan asy-Syadzili kepada para muridnya dan tersebar di kalangan mereka yang kelak dikutip oleh Syeikh Ibnu Athaillah as-Sakandary dalam kitab-kitabnya. Diantaranya adalah:
“Bagi yang masih membutuhkan dalil dan bukti, itu hanya bagi kalangan publik umum yang selalu ingin memandang dengan nyata, karena mereka ini menyucikan Allah swt melalui manifestasi tampilanNya yang dinilai butuh bukti. Namun bagaimana membutuhkan bukti pada Dzat yang menegakkan bukti itu sendiri? Bagaimana bisa dikenal melalui bukti, sedangkan Dialah yang mengenalkan bukti itu?”

Syeikh Abul Hasan asy-Syadzili dan para pengikutnya telah mengembalikan Islam yang benar sehubungan dengan Wujud Allah. Bahwa WujudNya itu lebih jelas dan lebih gamblang sehingga sama sekali tidak butuh bukti lagi. Bahwa Kemahasucian Allah swt itu, tidak bisa dikhayalkan WujudNya oleh orang yag beriman kepadaNya. Sedangkan Kemaha AgunganNya – yang merupakan pandangan keimanan orang beriman– sama sekali jauh dari perspektif sedemikian rupa dengan mengimajinasikan dan mengkhayalkan Wujud tersebut, sehingga malah menimbulkan penyimpangan.

Yang jelas segala upaya untuk memproyeksikan Wujud Allah, malah akan menimbulkan penyimpangan dari manhaj Islam yang benar. Apa yang diarahkan dalam metode pendekatan Syeikh Abul Hasan, adalah cara pandang Qur’any yang murni: Yaitu bahwa Al-Qur’anul Karim, dan semua Rasul – sholawat salam bagi mereka – telah memurnikan pandangan dari segala upaya untuk membuktikan wujudNya, dan mereka menyucikan dari pandangan bahwa Wujud allah itu butuh bukti dari sejumlah argument dan bukti lainnya. Tidak sama sekali!

Wacana adsy Syadzili ini telah diikuti dan menjadi panutan. Namun dewasa ini sempat dianggap aneh oleh kalangan yang pandangannya tersekat oleh ketololan, yang mengatakan bahwa upaya membuktikan wujud Allah itu adalab bid’ah yag menebar, hingga merasuk dalam wilayah beragama, sehingga banyak yang bertanya:
“Apakah pandangan Syeikh Abul Hasan ini benar?”

Dari segi penjelasan pemikiran abul Hasan asy Syadzily, memang perlu dijelaskan, karena topik tersebut telah membawa pertanyaan lebih jauh. Kami ingin menjelaskan pandangan Syeikh abul Hasan, yang bisaanya oleh khalayak seringkali dianggap kontroversial hanya karena keawaman mereka. Sehingga pandangan mereka tidak sampai pada titik kebenaran yang jelas berakhir dengan pemahaman yang menyimpang pula.


Sejak mula, saat Rasulullah saw, berdakwah secara terang-terangan, – setelah melewati tiga tahun dalam merahasiakan missinya – Rasulullah saw, tidak pernah memulai dakwahnya dengan menetapkan Wujud Allah. Namun Rasulullah saw, memulai bukti atas pembenaran pada Allah, dan menantang pada Bangsa Arab untuk membenarkannya. Sebelumnya, Rasulullah saw, berada dalam Gua , kemudian wahyu turun. Malaikat atau wahyu yang dibawanya juga sejak mula tidak menetapkan Wujud Allah. Tetapi dimulai dengan perintah kepada Rasul saw, untuk membaca degan Nama Tuhannya:

“Bacalah dengan Nama Tuhanmu Yang Menciptakan”. (Al-‘Alaq 1)

Pada kurun awal yang telah lewat itu pun, tak ada perbincangan mengenai penetapan Wujud Allah, bahkan melewati kurun kedua Islam, tak ada perbincangan mengenai Wujud Allah, tidak dijadikan topic kajian.

Karena Wujud Allah adalah masalah yang naluriyah, sama sekali tidak layak untuk dikaji oleh kaum beriman, baik dalam metode penafian maupun penetapan. Wujud Alah adalah sesuatu yang sudah Fitrah Naluriyah dalam diri orang beriman.

Manakala ada orang beriman mencoba membahas Wujud Allah berarti ada “sesuatu” dalam imannya yang mulai merusak.
Al-Qura’an malah menjelaskan mengenai Allah sebagai sebagai Wujud yang sudah tidak perlu dijelaskan, bahkan terhadap kaum yang menyimpangkan akidahnya sekali pun.
“Bila kamu bertanya kepada mereka, siapa yang menciptakan langit dan bumi, pastilah mereka mengatakan: Allah.” (Luqman : 25)

Mereka pun tetap mengatakan: Sang Pencipta itu Allah, walaupun mereka itu musyrik, dan menyimpang dari kebenaran. Agama tidak pernah diturnkan untuk menetapkan Wujud Allah, tetapi agama diturunkan untuk membenarkan kesalahan akidah tentang Allah, cara bertauhid yang benar.
Sedangkan ayat yang begitu banyak tentang Allah, yang diduga oleh berbagai kalangan untuk menetapkan Wujud Allah, sungguh tidak demikian! Ayat-ayat tersebut semuanya menjelaskan Keagungan Allah, Kebesaran, dan PerlindunganNya terhadap semesta ini, dimana semua gerak gerik kehidupan alam hingga sekecil-kecilnya tidak lepas dari Kekuasaan dan Kehendak Allah. Semua dalam rangka mengarahkan agar ummat Islam dalam hidup ini berorientasi kepada Allah swt. sehingga menjadi Muslim yang paripurna, dimana ekspressi maupun arahnya tidak lepas dari Nama Allah swt, menempuh Jalan Allah swt.

Abad pertama dan kedua berlalu cukup signifikan dan murni dalam fitrah, tetapi setelah itu muncul transformasi dari filsafat Yunani di bidang teologi, yang sesungguhnya filsafat ini sangat paganis dan singkretis. Karena filsafat ini murni tumbuh dari akal. Bukan bersumber pada wahyu, dalam mengungkapkan soal metafisika dan akidah.

Pemikiran Yunanian (Helenisme) adalah paganis (bersifat berhala) sama sekali tidak punya pijakan kebenaran di dunia ini, karena akidah itu sangat spesifik dari Allah Ta’ala, yang dijelaskan melalui para RasulNya.
Setiap intervensi manusia terhadap soal akidah itu, pasti tumbuhnya adalah intervensi yag menyimpang, karena bukan wilayah manusiawi. Akidah adalah wilayah suci yang sangat terhormat, yang tidak layak untuk dimasuki manusia kecuali dengan kepatuhan, khusyu’, tunduk, pasrah, karena semua itu datang dari Wahyu Ilahi.

Sedangkan pandangan filsafat Yunani soal akidah sifatnya paganisme sinkretisme, apalagi ketika menetapkan Wujudnya Allah. Apa yang diungkapkan tentang Wujud Allah tak lebih dari berhala, yang kelak bisa menimbulkan pemberhalaan pada akal manusia.
Sehingga ketika membuktikan wujud Allah secara rasional, nilai dan gunanya tidak ada sama sekali, sebab nilai pengingkaran dan penetapan atas wujud Allah sama, dimana akal bisa menetapkan dan sekaligus juga bisa mengingkari. Jadi pemikiran intelektual Barat maupun Timur, sama sekali tidak bisa menetapkan dan memproyeksikan Wujud allah.

Kita tidak ingin akidah kita didasarkan produk pemikiran manusia, walau pun pemikiran tersebut rasional dan akademik. Siapa pun tidak bisa membuat timbangan pandangan metafisika dengan dasar rasio manusia. Baik rasionalisme tadi berselaras dengan akidah maupun tidak. Karena kita mengikuti agama Allah dan hanya kepada Allah saja sumber segalanya, hanya Allahlah sebagai Sang Pemberi Hidayah, Allahlah yag Memberi Petunjuk. “Siapa yang berpegang teguh padaAllah maka benar-benar diberi hidayah Jalan Lurus.” (Ali Imran : 101)

Siapa yang berpegang teguh pada Allah maka Allah mencukupinya. Segala petunjuk yang bukan petunjuk Allah dalam alam keagamaan, pastilah paganis dan sesat. Sedangkan filsafat Yunani adalah filsafat paganisme manusia, dan produknya pasti pemberhalaan demi pemberhalaan akal manusia (dengan mengacu logika), yang tidak meraih kebenaran mutlak. Dan Hellenisme inilah yang memunculkan berhala-berhala pemikiran setiap zaman.
Bangsa Yunani, dalam sebagian kurunnya tidak terdapat agama wahyu yang turun dari Langit yang dijadikan petunjuk, sehingga era tersebut persis seperti era Jahiliyah di jazirah Arab, yang mengembalikan semuanya pada akal dan berhala-berhalanya, yang kadang mereka kokohkan dan kadang mereka ingkari.




Lalu datanglah agama Nasrani yang mengoreksi atas kesalahan ummat Yunani itu, sehingga paganisme mulai luntur, sehingga Wujud allah ditepiskan dari tema pembahasan. Namun akhirnya terjadi percampuradukan yang kotor di era berikutnya, sampai pada era dimana Allah hanyalah dogma gereja belaka, sehingga pemikiran keagamaan yang suci malah jauh dari Allah, sampai berkembang menjadi pemikiran paganisme rasional. Islam dating membersihkan akidah yang demikian, mencyucikan iman manusia, dimana manusia tidak bisa intervensi terhadap ajaran Allah swt dalam soal akidah dan Risalahnya.
Islam tidak lain adalah kepatuhan dan kepasrahan total kepada Allah swt: Bersinambung dengan Allah swt sesuai dengan apa yang dirihoiNya. Apakah masih ada peluang lain untuk mencari kerelaan selain Allah? Apakah jika masih bergelayut dengan selain Allah dalam akidah ini bisa disebut mu’min?
Bersinambung dengan Allah swt melalui apa yang diwajibkan oleh Asllah swt adalah Islam. Yaitu agama, dan tak ada agama lain lagi. “Sesungguhnya agama enurut Allah adalah Islam>” (Ali Imran 19), “Dan siapa yang mencari agama lain selain Islam tidak akan diterima…” (Ali Imran 85). Sedikit maupun banyak, orang yang yang tidak pasrah total kepada Allah swt, akan mudah ternodai melalui penyimpangannya terhadap Islam.

Islam memiliki pandangan dan prinsip dasar; Diantaranya adalah Wujud Allah itu tidak dijadikan topik pembahasan. Siapa yang menjadikan tema Wujud Allah sebagai tema kajian berarti ia akan berubah orientasinya dari menuju Allah swt, menuju orientasi manusiawi yang nantinya jauh dari agama.
Periode Islam sangat murni sedemikian rupa, yang kahirnya sempat ternoda oleh pandangan filsafat Yunani yang mempengaruhi atmosfir Islam di era Al-Ma’mun, yang kelak lebih menerima pandangan Mu’tazilah. Sehingga pengarhnya luar bisaa terhadap ummat, sehingga logika agama dan fitrah yang benar tidak menjadi pelindung ummat ketika itu, lebih banyak mengalir logika Aristoteles. Lambat laun paganisme rasional berpengaruh kuat mengalahkan agama.

Rasionalisme paganis – semoga Allah Ta’ala melindungi – tidak bisa mengotori akidah Islam yang agung – Iman kepada Allah dan RasulNya, dan hari akhir - . Rasionalisme hanya bisa ditoleransi dalam bidang metode, paradigma dan system kajian. Bukan merasuk pada pandangan teologis. Karena sangat, membahayakan akidah dan melemahkan iman.

Di sinilah anda harus membedakan metode rasional untuk merubah wahyu mengikuti selera rasional, dengan metode rasional untuk menjelaskan dan menyimpulkan ajaran Wahyu untuk kepentingan tertentu. Ini berarti juga, anda harus membedakan antara memaksa wahyu agar berselaras dengan akal rasio kita, dengan menerjemahkan wahyu agar difahami oleh rasio kita. Banyak orang yang tidak bisa membedakan hal ini.
Sehingga banyak pihak yang mentakwilkan wahyu yang dipaksakan agar mengikuti logika rasionalnya, bukannya wahyu yang menjadi penuntun akalnya. Pihak yang mekasa wakyu mengikuti akal rasionya adalah paradigma kaum filsafat Helenis, dan yang menjadikan wahyu sebagai penuntun akal adalah kaum mu’min sejati.

Pandangan paganis rasional memaksa dirinya untuk menetapkan metode memproyeksi Wujud Allah, yang akhirnya mengingkari pandangan keagamaan, malah berakhir dengan mengingkari Wujud Allah Yang Paripurna itu sendiri.
Ketika tema mengenai Wujud Allah menjadi sentra bahasan, pada saat yang sama seseorang kanan masuk dalam proses pengingkaran agama Allah dan mengkafiri Allah swt.

Kesimpulan kedua, adalah pelemahan iman, karena ketika anda masuk dalam bahasan Wujud Ilahi, berarti anda tengah masuk dalam lingkaran skeptisisme (keraguan), karena memang anda sedang membahas Wujud itu sendiri disebabkan keraguan atas wujud.
Lambat laun keimanan kita kepada Allah swt terkikis, sampai tanpa iman. Inilah yang menggerogoti ummat Islam, yang boleh disebut sampai pada frekwensi tanpa iman. Semua itu muncul ketika skeptisisme metodologis memasuki dasar-dasar agama. Apakah ada kesimpulan semakin membuat anda yaqin kepada Allah swt. Setelah mengkaji Wujud Allah swt.?

Kita memhon ampunan kepada Allah dan bertobat kepadaNya. Dan kita kembali bahwa agama itu sendiri senantiasa dijaga oleh Allah swt.:
“Sesungguhnya Kami turunkan Adz-Dzikr, dan sesungguhnya Kami sangat menjaganya.” (Al-Hijr 9)
Sebagian akum ‘Arifin ketika ditanya tentang dalil tentang Allah, maka ia menjawab: “Allah”.
“Lalu akal gunanya untuk apa?” ditanya lagi.
“Akal itu lemah, dan tidak bisa menunjukkan sesuatu kecuali lemah pula.” Jawabnya.

Imam agung, yang sangat terknal sebagai pemadu dunia syariat dan hakikat, Ibnu Athaillah as-Sakanday menegaskan:
“Oh Tuhanku, bagaimana orang membuktikan diriMu melalui sesuatu yang wujudnya sangat butuh kepadaMu? Apakah ada yang lebih jelas dibanding diriMu? Sehingga sesuatu itu bisa menjelaskan tentangMu? Kapankah Engkau hilang, sehingga harus ada sesuatu yang menjadi petunjuk kepadaMu? Kapankah Engkau pernah menjauh
Sehingga makhluk ini menjadi jembatan yang menghubungkan padaMu?”

Beliau juga menegaskan:
“Bagaimana bisa digambarkan bahwa sesuatu itu menghijab Allah, sedangkan Allah itulah yang memunculkan segala sesuatu.”
“Bagaimana bisa digambarkan bahwa seuatu itu menghijab Allah, sedangkan Allah itu Tampak menyertai segala sesuatu.”
“Bagaimana bisa digambarkan sesuatu itu menghijab Allah, sedangkan Allah itu Tampak di dalam segala sesuatu.”
“Bagaimana bisa digambarkan sesuatu itu menghijab Allah, sedangkan Allah Tampak bagi segala sesuatu.”
“Bagaimana bisa digambarkan sesuatu itu menghijab Allah, sedangkan Allah itu Tampak sebelum segala sesuatu ini ada.”
“Bagaimana bisa digambarkan seuatu itu menghijab Allah, sedangkan Allah itu Tampak dari berbagai sesuatu.”
“Bagaimana bisa digambarkan sesuatu itu menghijab Allah, sedangkan Allah adalah Satu-satunya, yang tidak satu pun menyertai-Nya.”
“Bagaimana bisa digambarkan, sesuatu itu menghijab Allah, sedangan Allah lebih dekat padamu dibanding segalanya.”
“Bagaimana bisa digambarkan sesuatu itu menghijab Allah, sedangkan tanpa adanya Allah, segala sesuatu tidak pernah ada.”
“Betapa mengherankan, bagaimana Yang Maha Ada, tampak dalam ketiadaan. Atau bagaimana seuatu yang baru berada beserta Dzat yang memiliki sifat Qidam?”

Juga beliau menegaskan:
“Jauh sekali: Antara orang yang mencari bukti adanya Allah melalui selain Allah, orang yang mencari bukti adanya Allah melalui Allah. Orang yang mencari bukti melalui selain Allah tandanya ia belum sampai pada Allah, dan yang membuktikan Allah melalui Allah adalah cara membuktikan dari Wujud asalnya.”

Betapa indah dan elok orientasi yang dikumandangkan Syeikh Abul Hasan asy-Syadzily yang diikuti oleh para muridnya, semoga Allah memberikan balasan kepadanya dan seluruh pandangannya yang benar ini, dengan balasan sebaik-baiknya. Amin.

Wasiat Kalangan Sufi



Syeikh Abu Nashr As-Sarraj

Sebagian guru Sufi mengatakan: Saya pernah berkata kepada Ruwaim —rahimahullah—, “Berilah saya suatu wasiat (pesan).” Ia pun memberikan wasiat, “Wahai anakku, tidak ada cara lain kecuali hanya dengan mengorbankan jiwa (ruh), jika engkau mampu melakukannya, maka silakan. Tapi jika tidak, maka jangan sekali-kali rnenyibukkan diri dengan ketidakbenaran tasawuf.”

Suatu ketika teman-temanYusuf bin al-Husain berkumpul di kediaman Yusuf —rahimahullah— kemudian mereka berkata kepadanya, “Berilah kami suatu wasiat.” Maka Yusuf berpesan, “Ikutilah semua apa yang kalian lihat dari perbuatan saya kecuali dua perkara: Janganlah kalian berhutang kepada Allah dan jangan berteman dengan orang yang congkak.”

Dikatakan kepada Sari as-Saqathi —rahimahullah—: “Berilah kami wasiat.” Maka ia berwasiat, “Janganlah kalian berhutang kepada Allah Swt. dan jangan melihat wajah pemuda yang belum tumbuh jenggotnya.”
Ada seseorang berkata kepada Abu Bakar al-Barizi, “Berilah aku wasiat.” Maka ia berwasiat, “Waspadalah terhadap kesukaan Anda, kebiasaan dan kecenderungan Anda pada hal-hal yang enak.”

Abu al-Abbas bin ‘Atha’ —rahimahullah— berkata dalam sebagian wasiatnya kepada teman-temannya, “Hati-hatilah, jangan sampai kesedihan kalian hanya karena apa yang tampak pada kalian. Kalian hendaknya mengikuti apa yang dikehendaki Allah Swt., dan bukan pada apa yang kalian inginkan.”
Dari Ja’far al-Khuldi —rahimahullah— yang berkata: Suatu ketika al-Junaid memberi wasiat kepada seseorang, dan berkata, “Dahulukan dirimu daripada keinginanmu. Dan jangan mendahulukan keinginanmu kemudian baru dirimu, maka akibatnya adalah pemborosan waktu.”

Saya menemukan dalam kitab yang ditulis Abu Said al-Kharraz —rahimahullah— ia memberi wasiat kepada seorang murid atau sahabatnya, “Saudaraku, pergaulilah sahabat Anda dengan tulus ikhlas, bergaullah dengan para pemburu dunia sekadar pergaulan. saksikan mereka dengan lahiriah Anda, tapi berbedalah dengan mereka dalam tindakan Anda dan jangan melecehkan agama Anda, menangislah bila mereka tertawa, bersedihlah di kala mereka bersenang-senang, bersungguh-sungguhlah ketika mereka santai, laparlah saat mereka kenyang, ingatlah akhirat ketika mereka ingat dunia, dan bersabarlah untuk mengurangi pembicaraan, pandangan, gerak, makan, minum dan pakaian hingga Allah Swt. menempatkan Anda di surga Firdaus dengan rahmat-Nya sesuai dengan yang Dia kehendaki.”

Abu Said al-Kharraz juga memberi wasiat kepada sebagian sahabatnya, “Wahai seorang murid, jagalah wasiatku ini dan senanglah dengan pahala Allah. Sebab kejelekan hanya akan kembali pada diri (nafsu) Anda, lalu Anda memperbaikinya dengan berbuat ketaatan. Anda menjauhi dan mematikannya dengan menentang keinginannya, ‘menyembelihnya’ dengan memutuskan harapan terhadap apa yang selain Allah, membunuhnya dengan perasaan malu kepada Allah Azza wajalla, dan Allah-lah yang mencukupi Anda, bersegeralah dalam melakukan segala kebaikan, dan ketika Anda berbuat dalam segala tingkatan spiritual, hati Anda merasa takut bila apa yang Anda lakukan tidak diterima-Nya. Inilah hakikat penerimaan, keikhlasan dan kejujuran hingga akhirnya Anda bisa bersih, murni dan kembali kepada Allah Swt. Sementara itu Allah Swt. melakukan apa saja yang Dia inginkan dan memberi pijakan dengan apa yang Dia kehendaki.”

Sebuah wasiat yang pernah disampaikan Dzun-Nun kepada thagian sahabatnya, dimana ia mengatakan, “Saudaraku, perlu Anda ketahui, bahwa tiada kemuliaan yang mengungguli Islam, tiada kehormatan yang lebih terhormat daripada ketakwaan, tiada akal yang lebih terpelihara daripada sikap wara’, tiada penolong (pemberi syafaat) yang lebih bisa menyelamatkan daripada tobat, tiada pakaian yang lebih agung daripada ampunan (atlat), tiada pelindung yang lebih kokoh daripada keselamatan, tiada gudang simpanan harta yang lebih mencukupi daripada merasa puas dengan apa yang ada (qana‘ah) dan tiada harta yang lebih bisa menghilangkan kerniskinan daripada rela dengan apa saja yang bisa mengganjal rasa lapar. Barangsiapa merasa cukup dengan bekal rezeki sekadar mencukupi kebutuhannya maka ia benar-benar telah mengatur ketenangan hidup. Sementara itu banyak keinginan merupakan kunci kelelahan dan kendaraan kesengsaraan, ketamakan adalah faktor pendorong untuk membabi buta dalam melakukan dosa, sedangkan kerakusan adalah yang mengumpulkan segala kejelekan dan aib. Sudah cukup banyak ketarnakan yang bohong, cita-cita yang tak tercapai dan harapan yang hanya mengakibatkan nasib buruk dan usaha mencari keuntungan yang hanya berakhir pada kerugian.”

Sementara itu, al-Junaid pernah berwasiat kepada sebagian sahabatnya, “Saya berwasiat kepada Anda untuk tidak melirik pada kondisi yang telah berlalu ketika tiba kondisi yang ada sekarang.” Al-Junaid berkata: Saya pernah berkata kepada Abu Abdillah al-Khayyath ad-Dinawari, “Berilah aku wasiat.” Lalu ia berkata, “Saya berwasiat kepada Anda dengan suatu sifat tertentu dimana saya tahu, bahwa sifat itu tidak akan disertai oleh cacat yang lain.” Lalu saya bertanya. “Sifat apakah itu?” Ia menjawab, ‘Anda menuturkan kebaikan saudara Anda ketika ia tidak hadir dan mendoakan untuk keselamatannya.”
Diceritakan dan Abu Bakar al-Warraq —rahimahullah— yang mengatakan, “Saya menjual kemuliaan karena menginginkan kemuliaan dan membeli kehinaan karena takut hina. Inilah balasan bagi orang yang melanggar wasiat Allah Swt.”
Ada seseorang datang ke Dzun-Nun al-Mishri —rahimahullah— lalu ia berkata, “Berilah aku wasiat.” Maka Dzun-Nun berwasiat kepadanya, “Saya berpesan kepada Anda, bila Anda dibantu dalam kekuatan ilmu gaib dengan tauhid yang benar, maka sebenarnya itu telah ada sebelum Anda diciptakan, sejak zaman Nabi Adam a.s. hingga sekarang ini, yaitu doa para nabi dan rasul. Maka itu lebih baik bagi Anda, jika Anda tidak demikian, lalu bagaimana panggilan dapat menyelamatkan orang-orang yang tenggelam?”

Saya mendengar Abu Muhammad al-Mahiab bin Ahmad bin Marzuq al-Mishri berkata: Ketika kematian siap menjemputAbu Muhammad al-Murta’isy, ia sempat berwasiat kepadaku agar aku melunasi hutangnya sebanyak delapan belas dirham. Setelah jenazahnya dikebumikan, maka pakaian yang biasa ia pakai dihargai delapan belas dirham, aku pun menjualnya dengan harga delapan belas dirham. Sehingga klop untuk melunasi hutangnya. Saat itu beberapa guru Sufi berkumpul kemudian mengambil kantong yang biasa digunakan menyimpan barang dagangan al-Murta’isy, di mana dalam kantong tersebut berisi gamis. Kemudian masing-masing mengambil potongan kain itu lalu mereka pergi.”

Ada seseorang datang kepada Ibrahim bin Syaiban —rahimahullah— lalu ia berkata, “Berilah aku wasiat.” Ibrahim pun memberinya wasiat, “Ingatlah kepada Allah Swt. dan jangan sekali-kali melupakan-Nya, jika Anda tidak bisa melakukan hal itu maka jangan lupa akan kematian.”
Dikatakan kepada sebagian guru Sufi, “Berilah aku wasiat.” Maka ia memberi wasiat, “Hapuslah nama Anda dari daftar nama para qari’ (orang yang bisa membaca al-Qur’an dengan baik).”

Sementara itu Abu Bakar al-Wasithi pernah diminta untuk memberi wasiat, lalu ia berwasiat, “Hitunglah nafas dan waktu Anda. Wassalam.”
Dan yang lain juga berwasiat, “Meminimalkan kepentingan, merendah dan menyusul Allah Azza wajalla.”

Dzun-Nun al-Mishri —rahimahullah— berkata: Ketika aku berjalan di gunung al-Muqthim tiba-tiba seseorang berada di depan pintu gua, lalu ia berkata, “Mahasuci Tuhan Yang telah mengosongkan hatiku dari perasaan putus asa dan mengisinya dengan harapan. Putus asa dari-Nya telah memisahkanku denganNya, sedangkan harapan kepada-Nya telah mengantarkanku kepada-Nya, maka aku selalu berharap kepada-Nya.” Ternyata orang tersebut telah banyak sengsara dalam beribadah dan banyak ‘terlukai’ oleh zuhud. Kemudian aku mendekatinya, tapi ia keburu pergi meninggalkanku. Lalu aku membuntutinya dan berkata kepadanya, “Berilah aku wasiat.” Ia pun memberi wasiat, “Ingatlah, janganlah Anda putus harapan kepada Allah walau sekejap mata, kumpulkan antara kenikmatan dan sengsara, sambunglah hubungan antara Anda dengan Allah, tentu Anda akan melihat kebahagiaan di saat orang-orang yang tidak benar merasakan kekecewaan.” Kemudian aku berkata lagi, “Tolong tambahkan lagi.” Ia menjawab, “Cukup, dan cukup untuk Anda.”

Seseorang berkata kepada Dzun-Nun, “Bekalilah aku suatu kalimat.” Kemudian ia berkata, “Janganlah Anda mengutamakan keraguan daripada keyakinan, jangan rela terhadap diri Anda tanpa adanya ketenangan, dan jika Anda tertimpa musibah maka terimalah dengan kesabaran yang tulus, sandarkan harapan Anda kepada Tuhan Yang Mahaabadi lagi Mahatahu, tentu Anda akan menemukan harapan yang besar, gunakan kesempatan untuk berhubungan dengan Allah Swt., karena sesungguhnya Allah memiliki hamba-hamba yang apabila mereka mencintai-Nya maka merasa terhibur, dan ma’rifat dengan-Nya lalu mereka banyak berharap kepada-Nya atas ma’rifatnya, bermunajat kepada-Nya pada tingkat ‘ainul-yaqin, sehingga mata hatinya tinggi menuju Dzat Yang Mahaagung, Mulia Kekuasaan-Nya, lalu mereka disirami dari manisnya bermunajat kepada-Nya, disuapi dari lezatnya keikhlasan.

Tangis mereka akan menggema di sekitar Arasy dan rintihan doa mereka berdesing di pintu-pintu langit, karena cepat terkabulkannya doa mereka.”
Al-Junaid dalam beberapa wasiatnya mengatakan, “Saudaraku, beramallah, dan bersegeralah sebelum kematian segera menjemput Anda, cepat-cepatlah sebelum ia lebih cepat memanggilmu. Sementara itu, Allah Swt. telah memberi Anda nasihat dan kejadian-kejadian teman-teman Anda yang telah mendahului Anda, sahabat-sahabat Anda yang sudah dihijrahkan dan alam dunia menuju ke alam baka, maka pelajaran itulah bagian Anda yang masih tersisa dan yang sangat bermanfaat bagi Anda. Bila tidak demikian, maka celakalah Anda. Inilah nasihat dan wasiatku kepada Anda, terimalah mudah-mudahan Anda bisa memuji masalahnya dengan menerima nasihat itu, dan beruntung bila Anda mengamalkannya. Wassalam.”
Demikianlah sekilas wasiat kaum Sufi dan berbagai kekhususan tujuan mereka dalam berwasiat. Semoga Allah memberi taufik kepada kita.

Selasa, 15 Februari 2011

Dzun Nun Al-Mishri


Dzunnun al Misry Sufi agung yang memberikan kontribusi besar terhadap dunia pemahaman dan pengamalan hidup dan kehidupan secara mendalam antara makhluk dengan sang pencipta, makhluk dan sesama ini mempunyai nama lengkap al-Imam al- A'rif al-Sufy al-Wasil Abu al-Faidl Tsauban bin Ibrahim, dan terkenal dengan Dzunnun al-Misry. Kendati demikian besar nama yang disandangnya namun tidak ada catatan sejarah tentang kapan kelahirannya. Perjalanan menuju Mesir Waliyullah yang bangga dan dibanggakan oleh Mesir ini berasal dari Nubay (satu suku di selatan Mesir) kemudian menetap di kota Akhmim (sebuah kota di propinsiSuhaj). Kota Akhmin ini rupanya bukan tempat tinggal terakhirnya. Sebagaimana lazimnya para sufi, ia selalu menjelajah bumi mensyiarkan agama Allah mencarijati diri, menggapai cinta dan ma'rifatulah yang hakiki. Suatu ketika dalam perjalanan yang dilalui kekasih Allah ini, ia mendengar suara genderang berima rancak diiringi nyanyi-nyanyian dan siulan khas acara pesta. Karena ingin tahu apa yang terjadi ia bertanya pada orang di sampingnya : "ada apa ini?". Orang tersebut menjawab : Itu sebuah pesta perkawinan. Mereka merayakannya dengan nyanyi-nyanyian dan tari-tarian yang diiringi musik ". Tidak jauh dari situ terdengar suara memilu seperti ratapan dan jeritan orang yang sedang dirundung duka. "Fenomena apa lagi ini ?" begitu pikirsang wali. Iapun bertanya pada orang tadi. Dengan santai orang tersebut menjawab: "Oh ya, itu jeritan orang yang salah satu anggota keluarganya meningal.Mereka biasa meratapinya dengan jeritan yang memekakkan telinga ". Di sanaada suka yang dimeriahkan dengan warna yang tiada tara. Di sini ada duka yang diratapi habis tak bersisa. Dengan suara lirih, ia mengadu : "Ya Allahaku tidak mampu mengatasi ini. Aku tidak sanggup berlama-lama tinggal di sini.Mereka diberi anugerah tidak pandai bersyukur. Di sisi lain mereka diberi cobaantapi tidak bersabar ". Dan dengan hati yang pedih ia tinggalkan kota itumenuju ke Mesir (sekarang Kairo). Perjalanan ke dunia tasawuf Banyak cara kalau Allah berkehendak menjadikan hambanya menjadi kekasihnya.Kadang berliku penuh onak dan duri. Kadang lurus bak jalan bebas hambatan. Kadang melewati genangan lumpur dan limbah dosa. Tak dikecualikan apa yang terjadi pada Dzunnun al-Misri. Bukan wali yang mengajaknya ke dunia tasawuf. Bukan pulaseorang alim yang mewejangnya mencebur ke alam hakikat. Tapi seekor burung lemah tiada daya. Pengarang kitab al-Risalah al-Qusyairiyyah bercerita bahwa Salim al-Maghriby menghadap Dzunnun dan bertanya "Wahai Abu al-Faidl !" begitu ia memanggil demi menghormatinya "Apa yang menyebabkan Tuan bertaubat dan menyerahkan diri sepenuhnya pada Allah SWT ? ". "Sesuatu yang menakjubkan, dan aku kira kamu tidak akan mampu". Begitu jawab al-Misri seperti sedang berteka-teki.Al-Maghriby semakin penasaran "Demi Dzat yang engkau sembah, ceritakanpadaku" lalu Dzunnun berkata : "Suatu ketika aku hendak keluar dariMesir menuju salah satu desa lalu aku tertidur di padang pasir. Ketika aku membukamata, aku melihat ada seekor anak burung yang buta jatuh dari sangkarnya. Cobabayangkan, apa yang bisa dilakukan burung itu. Dia terpisah dari induk dan saudaranya.Dia buta tidak mungkin terbang apalagi mencari sebutir biji. Tiba-tiba bumiterbelah. Perlahan-lahan dari dalam muncul dua mangkuk, yang satu dari emassatunya lagi dari perak. Satu mangkum berisi biji-bijian Simsim, dan yang satunyalagi berisi air. Dari situ dia bisa makan dan minum dengan puas. Tiba-tiba adakekuatan besar yang mendorongku untuk bertekad : "Cukup… aku sekarangbertaubat dan total menyerahkan diri pada Allah SWT. Akupun terus bersimpuhdi depan pintu taubat-Nya, sampai Dia Yang Maha Asih berkenan menerimaku". Perjalanan ruhaniah Ketika si kaya tak juga kenyang dengan bertumpuknya harta. Ketika politisi tak jua puas dengan indahnya kursi. Maka kaum sufipun selalu haus dengan kedekatanlebih dekat dengan Sang Kekasih sejati. Selalu ada kenyamanan yang berbeda. Selalu ada kebahagiaan yang tak sama. Maka demikianlah, Dzunnun al-Misri tidak puas dengan hikmah yang ia dapatkan dari burung kecil tak berdaya itu. Baginya semuanya adalah media hikmah. Batu, tumbuhan, wejangan para wali, hardikan pendosa, jeritan kemiskinan, rintihan orang hina semua adalah hikmah. Suatu malam, tatkala Dzunnun bersiap-siap menuju tempat untuk ber-munajat ia berpapasan dengan seorang laki-laki yang nampaknya baru saja mengarungi samuderakegundahan menuju ke tepi pantai kesesatan. Dalam senyap laki-laki itu berdoa"Ya Allah Engkau mengetahui bahwa aku tahu ber-istighfar dari dosa tapitetap melakukannya adalah dicerca. Sungguh aku telah meninggalkan istighfar,sementara aku tahu kelapangan rahmatmu. Tuhanku… Engkaulah yang memberikeistimewaan pada hamba-hamba pilihan-Mu dengan kesucian ikhlas. Engkaulah Zatyang menjaga dan menyelamatkan hati para auliya' dari datangnya kebimbangan.Engkaulah yang menentramkan para wali, Engkau berikan kepada mereka kecukupan dengan adanya seseorang yang bertawakkal. Engkau jaga mereka dalam pembaringan mereka, Engkau mengetahui rahasia hati mereka. Rahasiaku telah terkuak di hadapan-Mu. Aku di hadapan-Mu adalah orang lara tiada asa ". Dengan khusyu' Dzunnun menyimak kata demi kata rintihan orang tersebut. Ketika dia kembali memasang telinga untuk mengambil hikmah di balik ratapan lelaki itu, suara itu perlahan menghilang sampai akhirnya hilang sama sekali di telan gulitanya sang malam namun menyisakan goresan yang mendalam di hati sang wali ini. Di saat yang lain ia bercerita pernah mendengar seorang ahli hikmah di lereng gunung Muqottom. " Aku harus menemuinya " begitu ia bertekad kemudian. Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan iapun bisa menemukan kediamanlelaki misterius. Selama 40 hari mereka bersama, merenungi hidup dan kehidupan, memaknai ibadah yang berkualitas dan saling tukar pengetahuan. Suatu ketikaDzunnun bertanya : "Apakah keselamatan itu?". Orang tersebut menjawab "Keselamatan ada dalam ketakwaan dan al- Muroqobah (mengevaluasi diri)"."Selain itu ?". pinta Dzunnun seperti kurang puas. "Menyingkirlah dari makhluk dan jangan merasa tentram bersama mereka!". "Selain itu ?" pinta Dzunnun lagi. "Ketahuilah Allah mempunyai hamba-hamba yangmencintai-Nya. Maka Allah memberikan segelas minuman kecintaan. Mereka itu adalahorang-orang yang merasa dahaga ketika minum, dan merasa segar ketika sedanghaus". Lalu orang tersebut meninggalkan Dzunnun al-Misri dalam kedahagaanyang selalu mencari kesegaran cinta Ilahi. Kealiman Dzunnun al-Misri Betapa indahnya ketika ilmu berhiaskan tasawuf. Betapa mahalnya ketika tasawuf berlandaskan ilmu. Dan betapa agungnya Dzunnun al-Misri yang dalam dirinya tertataapik kedalaman ilmu dan keindahan tasawuf. Nalar siapa yang mampu membanyahhujjahnya. Hati mana yang mampu berpaling dari untaian mutiara hikmahnya. Dialahorang Mesir pertama yang berbicara tentang urutan-urutan al-Ahwal dan al-Maqomaatpara wali Allah. Maslamah bin Qasim mengatakan "Dzunnun adalah seorang yang alim, zuhud wara', mampu memberikan fatwa dalam berbagai disiplin ilmu. Beliau termasuk perawi Hadits ". Hal senada diungkapkan Al-Hafidz Abu Nu'aim dalam Hilyah-nya dan al-Dzahabi dalam Tarikh-nya bahwasannya Dzunnun telah meriwayatkan haditsdari Imam Malik, Imam Laits, Ibn Luha'iah, Fudail ibn Iyadl, Ibn Uyainah, Muslimal-Khowwas dan lain-lain. Adapun orang yang meriwayatkan hadis dari beliau adalahal-Hasan bin Mus'ab al-Nakha'i, Ahmad bin Sobah al-Fayyumy, al-Tho'i dan lain-lain.Imam Abu Abdurrahman al-Sulamy menyebutkan dalam Tobaqoh-nya bahwa Dzunnun telahmeriwayatkan hadis Nabi dari Ibn Umar yang berbunyi " Dunia adalah penjaraorang mu'min dan surga bagi orang kafir". Di samping lihai dalam ilmu-ilmu Syara', sufi Mesir ini terkenal dengan ilmulain yang tidak digoreskan dalam lembaran kertas, dan datangnya tanpa sebab. Ilmu itu adalah ilmu Ladunni yang oleh Allah hanya khusus diberikan pada kekasih-kekasih-Nya saja. Karena demikian tinggi dan luasnya ilmu sang wali ini, suatu ketika ia memaparkansuatu masalah pada orang di sekitarnya dengan bahasa Isyarat dan Ahwal yangmenawan. Seketika itu para ahli ilmu fiqih dan ilmu 'dhahir' timbul rasa iridan dan tidak senang karena Dzunnun telah berani masuk dalam wilayah (ilmu fiqih) mereka. Lebih-lebih ternyata Dzunnun mempunyai kelebihan ilmu Robbany yang tidakmereka punyai. Tanpa pikir panjang mereka mengadukannya pada Khalifah al-Mutawakkil di Baghdad dengan tuduhan sebagai orang Zindiq yang memporak-porandakan syari'at.Dengan tangan dirantai sufi besar ini dipanggil oleh Khalifah bersama murid-muridnya. "Benarkah engkau ini zahidnya negeri Mesir?". Tanya khalifah kemudian. "Begitulah mereka mengatakan". Salah satu pegawai raja menyela : " Amir al- Mu'minin senang mendengarkan perkataan orang yang zuhud, kalau engkau memang zuhud ayo bicaralah". Dzunnun menundukkan muka sebentar lalu berkata "Wahai amiirul mukminin…. Sungguh Allah mempunyai hamba-hamba yang menyembahnya dengan cara yang rahasia,tulus hanya karena-Nya. Kemudian Allah memuliakan mereka dengan balasan rasasyukur yang tulus pula. Mereka adalah orang-orang yang buku catatan amal baiknyakosong tanpa diisi oleh malaikat. Ketika buku tadi sampai ke hadirat Allah SWT,Allah akan mengisinya dengan rahasia yang diberikan langsung pada mereka. Badanmereka adalah duniawi, tapi hati adalah samawi…….". Dzunnun meneruskan mauidzoh-nya sementara air mata Khalifah terus mengalir. Setelah selesai berceramah, hati Khalifah telah terpenuhi oleh rasa hormat yangmendalam terhadap Dzunnun. Dengan wibawa khalifah berkata pada orang-orang datangmenghadiri mahkamah ini : "Kalau mereka ini orang-orang Zindiq maka tidakada seorang muslim pun di muka bumi ini". Sejak saat itu Khalifah al-Mutawaakilketika disebutkan padanya orang yang Wara' maka dia akan menangis dan berkata"Ketika disebut orang yang Wara' maka marilah kita menyebut Dzunnun". Pujian para ulama' terhadap Dzunnun Tidak ada maksud paparan berikut ini supaya Dzunnun al-Misri menjadi lebih terpuji.Sebab apa yang dia harapkan dari pujian makhluk sendiri ketika Yang Maha Sempurnasudah memujinya. Apa artinya sanjungan berjuta manusia dibanding belaian kasihYang Maha Penyayang ?. Dan hanya dengan harapan semoga semua menjadi hikmahdan manfaat bagi semua paparan berikut ini hadir. Imam Qusyairy dalam kitab Risalah-nya mengatakan "Dzunnun adalah orang yang tinggi dalam ilmu ini (Tasawwuf) dan tidak ada bandingannya. Ia sempurna dalam Wara', Haal, dan adab". Tak kurang Abu Abdillah Ahmad bin Yahya al- Jalakmengatakan "Saya telah menemui 600 guru dan aku tidak menemukan sepertikeempat orang ini : Dzunnun al-Misry, ayahku, Abu Turob, dan Abu Abid al-Basry". Seperti berlomba memujinya sufi terbesar dan ternama Syaikh Muhiddin ibn ArabySulton al-Arifin dalam hal ini mengatakan "Dzunnun telah menjadi Imam,bahkan Imam kita". Pujian dan penghormatan pada Dzunnun bukan hanya diungkapkan dengan kata-kata.Imam al-Munawi dalam Tobaqoh-nya bercerita : “Sahl al-Tustari (salah satuImam tasawwuf yang besar) dalam beberapa tahun tidak duduk maupun berdiri bersandarpada mihrab. Ia juga seperti tidak berani berbicara. Suatu ketika ia menangis,bersandar dan bicara tentang makna-makna yang tinggi dan Isyaraat yang menakjubkan.Ketika ditanya tentang ini, ia menjawab "Dulu waktu Dzunnun al-Misri masihhidup, aku tidak berani berbicara tidak berani bersandar pada mihrab karenamenghormati beliau. Sekarang beliau telah wafat, dan seseorang berkata padakupadaku : berbicaralah!! Engkau telah diberi izin". Cinta dan ma'rifat Suatu ketika Dzunnun ditanya seseorang : "Dengan apa Tuan mengetahui Tuhan?"."Aku mengetahui Tuhanku dengan Tuhanku ",jawab Dzunnun. "kalau tidak ada Tuhanku maka aku tidak akan tahu Tuhanku". Lebih jauh tentang ma'rifat ia memaparkan : "Orang yang paling tahu akan Allah adalah yang paling bingung tentang-Nya". "Ma'rifat bisa didapat dengan tiga cara:dengan melihat pada sesuatu bagaimana Dia mengaturnya, dengan melihat keputusan- keputusan-Nya,bagaimana Allah telah memastikannya. Dengan merenungkan makhluq, bagaimana Allah menjadikannya". Tentang cinta ia berkata : "Katakan pada orang yang memperlihatkan kecintaannya pada Allah, katakan supaya ia berhati-hati, jangan sampai merendah pada selainAllah!. Salah satu tanda orang yang cinta pada Allah adalah dia tidak punyakebutuhan pada selain Allah". "Salah satu tanda orang yang cinta padaAllah adalah mengikuti kekasih Allah Nabi Muhammad SAW dalam akhlak, perbuatan,perintah dan sunnah-sunnahnya". "Pangkal dari jalan (Islam) ini adapada empat perkara: “cinta pada Yang Agung, benci kepada yang Fana, mengikutipada Alquran yang diturunkan, dan takut akan tergelincir (dalam kesesatan)". Karomah Dzunnun al-Misri Imam al-Nabhani dalam kitabnya “Jami' al-karamaat “ mengatakan:“Diceritakan dari Ahmad bin Muhammad al-Sulami: “Suatu ketika akumenghadap pada Dzunnun, lalu aku melihat di depan beliau ada mangkuk dari emasdan di sekitarnya ada kayu menyan dan minyak Ambar. Lalu beliau berkata padaku "engkau adalah orang yang biasa datang ke hadapan para raja ketika dalam keadaan bergembira". Menjelang aku pamit beliau memberiku satu dirham. Dengan izin Allah uang yang hanya satu dirham itu bisa aku jadikan bekal sampaikota Balkh (kota di Iran). Suatu hari Abu Ja'far ada di samping Dzunnun. Lalu mereka berbicara tentang ketundukan benda-benda pada wali-wali Allah. Dzunnun mengatakan "Termasuk ketundukan adalah ketika aku mengatakan pada ranjang tidur ini supaya berjalan di penjuru empat rumah lalu kembali pada tempat asalnya". Maka ranjangitu berputar pada penjuru rumah dan kembali ke tempat asalnya. Imam Abdul Wahhab al-Sya'roni mengatakan: “Suatu hari ada perempuan yang datang pada Dzunnun lalu berkata "Anakku telah dimangsa buaya". Ketika melihat duka yang mendalam dari perempuan tadi, Dzunnun datang ke sungai Nilsambil berkata "Ya Allah… keluarkan buaya itu". Lalu keluarlahbuaya, Dzunnun membedah perutnya dan mengeluarkan bayi perempuan tadi, dalam keadaan hidup dan sehat. Kemudian perempuan tadi mengambilnya dan berkata "Maafkanlah aku, karena dulu ketika aku melihatmu selalu aku merendahkanmu. Sekarang akubertaubat kepada Allah SWT".