Senin, 23 Mei 2011

Surat Sufi Imam Syadzili kepada Sidi Ali bin Makhluf


Syeikh Abul Hasan Asy-Asyadzily
Imam Syadzili berkirim surat kepada Sidi (tuanku) Ali bin Makhluf di Tunis. Almarhum dimakamkan di sebuah ketinggian (burj) di Tunis. Berikut ini petikan surat tersebut:

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan seru sekalian alam. Shalawat kesejahteraan dan salam kedamaian semoga senantiasa terlimpah kepada junjungan kita, Muhammad, penutup para utusan.



Dari Ali bin Abdullah yang dikenal dengan nama Syadzili kepada anandanya yang baik budi, diberkati, murni nan suci, terbebaskan dari jalur-jalur kerusakan, Ali bin Makhluf ash-Shaqali.
Assalamu‘alaikum warahmatullah wabarakatuhu.

Ketahuilah, semoga Allah senantiasa menyokongmu dengan keluasan dan kebeningan wawasan, sesungguhnya Rasulullah SAW pernah ditanya mengenai siapa gerangan para wali kekasih Allah, Beliau menjawab, “Mereka adalah orang-orang yang jika mereka dipandang, maka disebut (nama) Allah.” Pahamilah dengan baik makna sabda Rasulullah: “Jika mereka dipandang”! Maka, berpalinglah dari pandangan materi ke pandangan immateri dan nilai-nilai, jauh dan pandangan alla awam termasuk di dalamnya pandangan hewan-hewan yang tak memiliki matahati (bashIrahj, Mereka itulah orang-orang yang dinyatakan Allah SWT dalam firman: “Dan kamu melihat berhala-berhala mereka itu memandang kepadamu padahal ia tidak melihat.” (QS. Al-A’raf [7]: 198) Carilah petunjuk melalui cahaya Allah yang dititipkan di dalam hati, yang hanya dengannyalah para wali Allah memandang, berekspresi, mendapat taufik, dan akhirnya mencermati dan menggapai kebenaran.

Hal ini terlihat nyata pada diri manusia yang terharum dan tercerahkan dengan cahaya-Nya, yang keharumannya menjadikan harum segala sesuatu (yang dimaksud adalah diri Rasulullah SAW—ed.). Pilihan dan kegemaran beliau terhadap wewangian dan segala yang baik merupakan sesuatu yang menakjubkan. Dan, menurut kesepakatan para ulama, aroma beliau melebihi wewangian segala sesuatu yang wangi.

Cobalah pahami dan masuk ke dalam khazanah pengetahuan Rasulullah SAW. Toh, apalah status dinimu hingga tidak kamu amini apa yang beliau sabdakan berikut: “Demi Allah, tiadalah makanan melainkan untuk kita, tiadalah minuman melainkan untuk kita, tiadalah pernikahan melainkan untuk kita, begitujuga tiadalah wewangian melainkan untuk kita.” Beliau dengan demikian merupakan pangkal segala wewangian, dan magnet keindahan segala sumber mineral, Sebab, beliau adalah mineralnya segala mineral. Petiklah lentera cahaya beliau, ciduklah bahtera cinta beliau, minumlah telaga pengetahuan beliau. Berbekallah dengan kepatuhan kepada beliau, niscaya segala sesuatu akan tunduk dan patuh kepadamu.

Demi Allah, beliau adalah manifestasi ilmu ladunni, amal saleh, dan rezeki yang selaksa. Ya Allah, jadikanlah segala sesuatu dalam genggaman tangannya dan zuhudkanlah ia bersama kepemilikan terhadapnya. Ya Allah, jadikanlah ia termasuk dalam keluarga Ibrahim. Sungguh telah Engkau anugerahkan Kitab dan Hikmah kepada keluarga Ibrahim, dan Engkau berikan kepadanya kerajaan yang besar. Dan, jadikanlah ia termasuk keluarga Muhammad.

Perhatikanlah kezuhudan ini, Hapuslah ia dari dirimu dan tutupilah ia dari sesamamu kecuali terhadap Dzat yang memberimu status tersebut. Sebab, di manakah lagi engkau bisa menemukannya setelah bagian cahaya profetik kenabian dan sumber ke-shiddiqiyyah-an jika bukan dan Dzat pemilik al-Ism al-A’zham (nama agung) yang bersanding dengan titah “kun”, dan yang mengatur prima qadha’ dan takdir semesta.

Kepada-Nyalah ridha tunggal tanpa reserve (pengecualian) tercurahkan. Dari-Nyalah qadha’ dan takdir mencabang hingga Locus pembagian dan hal-hal yang saling berlawanan, ketika Syara’ memberikan rambu-rambu apa yang Dia cintai dan apa yang Dia benci. Barang siapa menyepelekan atau meragukan ini, maka perhatikanlah permisalan Adam a.s., entitas pertama manusia yang menjadi pangkal seluruh anak manusia. Adakah kau temukan padanya sesuatu yang dibenci Syara’? Tidak! Dia merangkum segala jenis manusia: Yang beriman dan kafir, yang taat dan pemaksiat, yang mengesakan dan menyekutukan, yang ikhlas dan munafik. Barulah ketika muncul perbedaan dan keragaman, Syara’ mewacanakan cinta dan benci, ridha dan murka. Jadi, asal-muasal segala sesuatu adalah diridhai dan dicintai.

Dan dialah Adam, Sedangkan keturunannya sebagaimana yang telah aku jelaskan kepadamu.

Begitu juga perihal qadha’ awal (prima qadha’) bersama takdir-takdir yang berbeda-beda. Para nabi, rasul, dan tokoh-tokoh sentral terkemuka telah menekuninya dengan rahasia-rahasia mereka, dan mereka tidak menyaksikan apa-apa selain Allah dan qadha’-Nya. Mereka pun menjelaskan, menjabarkan, dan mensyariatkan kepada orang-orang di bawah mereka sampai datang perintah Allah kepada orang yang Dia kehendaki dan kaum pembenar (shiddIq), yang bersih, yang tulus untuk menyingkap pengetahuan ini beserta pengetahuan mengenai prinsip, pengetahuan mengenai (alam) roh, dan pengetahuan mengenai (alam) barzakh sebelum permulaan eksistensi semesta.


Dan merekalah sekat-sekat segala sesuatu terbelah, antara segala sesuatu yang saling berlawanan (kontradiktif), yang saling serupa, dan yang saling bergesekan. Barang siapa yang berprasangka bahwa ilmu ini, yakni pengetahuan mengenai roh dan lainnya, baik yang telah disebut maupun yang belum disebut, tidak dimiliki oleh kelompok khash, golongan orang-orang yang dianugerahkan kedudukan pertama yang tinggi, maka ia telah terjerembab dalam dua masalah besar berikut ini:



Pengabaian terhadap wali Allah lantaran menuding mereka tidak tahu-menahu dan lalai mengenai hal tersebut serta berprasangka buruk terhadap Tuhan yang senantiasa bersama mereka. Bagaimana mungkin boleh berprasangka buruk pada orang yang telah diberi keistimewaan?!
Pendustaan terhadap qudrah kekuasaan Allah dan Syara’ yang membicarakan ihwal kaum Yahudi dan badui-badui Arab yang berselisih paham mengenai roh dalam firman: “Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: “Roh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan metainkan sedikit.”” (Q.S. Al-Isra’ [17]: 85). Apa bukti yang kamu miliki sampai lancang menyatakan ketidaktahuan kaum shiddiqln dan para wali yang mendapatkan keistimewaan dari Allah yang terluhur mengenai hal tersebut?
Lontaran pertanyaan tentang roh ini memiliki empat komponen kata tanya: Apakah? Bagaimana? Mengapa? Siapa?

Pertanyaan “apakah” berarti menanyakan apakah roh itu ada atau tidak. Lalu pertanyaan “bagaimana” berarti menanyakan tentang kondisi, dan “mengapa” menanyakan tentang illat (kausa), sementara di dalam ayat ini tidak ada keterangan sama sekali mengenai kepastian hal tersebut.
Jika kamu katakan bahwa di dalam pertanyaan mereka mengandung makna “apakah”, sedangkan kata tanya “apakah” mengandaikan pertanyaan apakah roh itu ada atau tiada, dan apakah keberadaannya telah diketahui sebelumnya. Satu hal yang pasti, mereka jelas-jelas sudah mengetahui keberadaan roh. Jika tidak, Allah tentu tidak akan berfirman: “Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh.” Jadi, kemungkinan pertanyaan ini otomatis gugur.

Pertanyaan mereka ini juga tidak mengandung unsur “bagaimana” maupun “mengapa”. Sebab, jika mereka menanyakan keduanya, tentu mereka tidak akan puas dengan jawaban: “Katakanlah: ‘Roh itu termasuk urusan Tuhanku.’” Dan, niscaya mereka akan terus berusaha mendapatkan jawaban yang memuaskan dan menentang hal tersebut sebagaimana kebiasaan, kesibukan, dan keinginan mereka pada waktu itu.

Jadi, jelas bahwa pertanyaan mereka ini mengarah pada “di manakah roh itu?” dengan bukti jawaban dan penjelasan yang gamblang dan memuaskan: “Katakanlah: ‘Roh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.” Rasulullah SAW sudah mengetahui arah pertanyaan mereka, sehingga beliau pun lantas mengembalikannya kepada Allah.

Hal ini sama seperti orang yang menanyakan ihwal Adam. Orang yang ditanya tentu bisa mengetahui arah pertanyaannya, sehingga ia menjawab, “Adam diciptakan dari tanah,” Jika memang ia puas dan menerima jawaban tersebut, dan penanya tidak kembali kecuali dengin membawa pemahaman yang agung dan tak terbantahkan dan Dzat Pengatur Yang Mahaagung, maka bagaimana mungkin seseorang mau menuding bahwa seorang wali tidak mengetahui masalah roh dan tidak seharusnya mengetahui hal tersebut?

Allah telah menetapkan kepada kita untuk mengetahui hal tersebut, dan di sini tidak ada perumpamaan. Seandainya Dia memberikan perumpamaan, kemudian kita menyia-nyiakannya, tentu kita kafir atau durhaka kepada-Nya. Maka, bagaimana dengan entitas makhluk yang banyak sekali permisalannya? Kebodohan yang nyata sekali jika dikatakan bahwa masalah ini tidak boleh diketahui, sedangkan itu adalah sesuatu yang ada perumpamaan dan perbandingan, yaitu roh.

Dan, Allah menetapkan untuk mengenal Dzat yang tidak ada penyerupaan maupun bandingan, Semoga Allah melindungi kita dari kebodohan orang-orang bodoh dan kezaliman orang-orang zalim.
Satu hal yang ingin saya tegaskan di sini, Allah memiliki rahasia-rahasia yang tidak dapat diungkap oleh deskripsi tulisan, dan tidak sepantasnya rahasia-rahasia tersebut ditutup-tutupi kecuali dengan deskripsi tulisan di dalam diwan-diwan (buku catatan) para ulama ahli hikmah yang dianugerahkan matahati yang jernih dan tajam. Tidak sepantasnya mereka menutup-nutupi hal tersebut karena sudah begitu jelas dan gamblang. Jangan terlalu memedulikan mereka meskipun mereka banyak memiliki dalih dan argumen. Akan tetapi, tunduklah kepada Allah al-Haqq dan patuhlah kepada-Nya dalam hal-hal yang memang mereka kuasai, dan kesampingkanlah mereka dalam hal-hal yang tidak ada pengetahuan mereka tentangnya.

Allah SWT telah memerintahkan Nabi kita, Muhammad SAW, untuk meneladani Nabi Ibrahim a.s. dan para nabi Iainnya, padahal beliau adalah pemilik keutamaan yang tak tergapai oleh siapa pun. Namun, beliau tetap mengatakan, “Saya sejajar dengan mereka dalam hal kenabian, kerasulan, hidayah, dan dalam hal-hal yang berlaku pada diri, badan, hati, dan roh.” Beliau mengikuti mereka dalam hal-hal yang ada titik kesamaan, sementara yang kita khususkan bagi beliau merupakan target kita dan kembali kepada apa yang ditentukan bagi kita (sebagai umat beliau).

Begitu juga dengan orang yang memahami rahasia ini. Allah bersama orang-orang Mukmin kelompok awam, juga bersama kelompok menengah, dan bersama orang-orang Mukmin yang mendapatkan kedudukan yang tinggi. Namun, Dia memilah-milah mereka dalam hal yang memang dikhususkan hanya kepada orang-orang yang mendapatkan kekhususan.

Jika kamu termasuk orang-orang yang diberi kekhususan tersebut, tambahlah terus ilmu dan amalmu dalam kefakiran kepada Allah dan ketawadhuan terhadap para hamba (sesama manusia). Bersikaplah lembut dan kasih sayang terhadap orang-orang Mukmin, kendati mereka berbuat zalim kecuali dalam hal-hal yang Dia perintahkan kepadamu untuk bersikap tegas terhadap mereka, sembari tetap mendoakan kebaikan bagi mereka dan mencegah kezaliman mereka.

Jika kamu ingat ini, sementara kamu sadar belum mampu melakukannya dengan pertimbangan agar tidak mengguncang hati orang-orang awam tersebut, maka tinggalkanlah apa yang belum kamu mampu ini. Duduklah tafakur di depan pintu-Nya, niscaya kamu akan memperoleh apa yang kamu inginkan dan Tuhan Yang Maha Pengatur. Selama itu, peganglah tata krama di hadapan Hadirat Ilahi jika kamu sudah mengetahuinya. Jika belum, pahamilah dari ayahandamu apa yang masih tersamar bagimu.

Bagi orang yang duduk di hadapan Hadirat Ilahi ada empat posisi pokok yang keseluruhannya merupakan pusat batin, yakni jiwa, raga, hati, dan akalnya, Dia tenang dan mantap dengan keimanan, tauhid dan cahaya, ilmu dan makrifat, keyakinan, rasa malu, segan, keintiman, dan kecintaan, sambil mulutnya berucap dengan ucapan yang jelas, melantunkan doa dengan etika semua posisi pokok tersebut:
“Ya Allah, hamba mohon kepada-Mu kelekatan memandangMu, perolehan mendengar di hadapan-Mu, dan kebetahan menempati apa yang datang kepada hamba dan-Mu. Jika Engkau kembalikan hamba pada makhluk-Mu, maka tuntunlah hamba untuk menempuh kehalusan tata krama dengan menghadap orang yang menghadap kepada-Mu dan berpaling dari orang yang berpaling dari-Mu. Jika Engkau kembalikan hamba pada hak-hakMu, maka hamba memohon kepada-Mu agar bisa berperilaku sebagaimana laku sopan santun Rasul-Mu dan jangan Engkau halangi hamba dan-Mu dengan amal hamba. Jika Engkau kembalikan hamba pada bagian-bagian peruntungan hamba, maka hamba memohon kepada-Mu kepastian memperoleh izin-Mu dengan persetujuan kata dari-Mu atau dengan isyarat yang datang dari-Mu. Jadikanlah hamba termasuk orang yang mengambil hal itu dengan hal tersebut. Dekatkanlah hikmah (kebijaksanaan) kepada mulut kami, berikanlah kuasa pada lidah-lidah kami untuk menuturkannya, penuhilah hati-hati kami dengannya, dan pastikanlah kami beramal dengannya dalam hal yang tampak dan terpendam dari kami. Sokonglah kami dengan roh (spirit) dari-Mu agar kami tidak menyakiti diri kami dengan hawa nafsu kami dan tidak menuruti setan-setan dalam diri kami. Jadikanlah kami ke dalam golongan yang patuh kepada Mu, sebab hanya pengikut agama-Mulah yang pasti menang,”

Ketahuilah, suratmu telah sampai kepada kami, Ia telah memancarkan kegembiraan dalam hati kami dan melambaikan sorai keceriaan di dada kami. Bahasa kebersamaan di dalamnya terbentang, sementara bahasa perpisahan tertahan. Namun, kebersamaan ini tidak seyogianya diumbar, akan tetapi simpanlah sebagai rahasiamu dengan kesaksian tauhid pada Tuhanmu, Di atas segalanya Dialah Tuhanku dan Tuhanmu.

Telah kamu sampaikan, “Aku mengatakan kepada orang sebelummu dan seakan-akan kamulah lawan bicara (mukhathab) di baliknya.” Jika kamu inginkan sesuatu yang tidak ada cela padanya, hendaklah ‘perpisahan’ tetap ada di lisanmu, sementara ‘kebersamaan’ disaksikan dalam rahasia batinmu. Jangan kamu bosan dan mundur dengan kefanaanmu darinya, begitu juga dengan keabadianmu. Berlarilah menuju Allah dari segala dualisme, dan jangan kembali dengan apa pun, baik besar maupun kecil, kecuali dengan seizin-Nya. Bagaimana mungkin kamu melalaikan-Nya, sementara Dia telah mencurahkan kasih sayang kepadamu melalui gurumu yang selalu berdiri mengawasimu dalam segala gerak-gerikmu yang disaksikan oleh matabatin, seolah-olah kamu adalah dia? Lalu, bagaimana pendapatmu dengan Dzat Yang Maha Mengawasi setiap jiwa?

Terkait dengan izin Allah, perlu saya jelaskan firman Allah SWT: “Dan (ingatlah) di waktu Aku mengajar kamu menulis, hikmah, Taurat, dan Injil.” (QS. Al-Maidah [5]: 110) Dalam konteks pengajaran ini, gurumu mengatakan berulang-ulang: Dengan izinku dan izin Allah, yakni dengan ilmu Allah. Merujuk pada ayat ini, Allah telah memberikan kuasa pengetahuan tersebut pada Isa a.s, Maka, sesuatu yang disertai perkataan itu adalah lebih sempurna. Pengetahuan atau izin tersebut kebanyakan berlaku dalam hal yang mubah dari bagian-bagian peruntungan diri. Sementara itu, yang wajib dan yang sunah sudah disentuh oleh perintah dan larangan; telah keluar dan dua hal di atas, Jadi, di sinilah seorang wali (kekasih Allah) membutuhkan izin. Karena itu, jangan kamu campur adukkan izin dengan perintah, niscaya kamu akan keliru langkah dan menggugurkan satu dimensi dan hukum-hukum syariat. Jika sudah demikian, maka kamu termasuk orang-orang yang bodoh.

Perlu kami perjelas lagi, yang dimaksud dengan izin pada hak wali itu adalah cahaya yang menyinari hati yang kemudian Allah pancarkan di dalam dan di atas diri wali. Lalu, cahaya tersebut membentang kepada sesuatu yang diinginkan oleh wali sehingga ia mendapati bersama cahaya itu suatu cahaya lain atau kegelapan di bawah cahaya. Cahaya tersebut lantas memberitahumu untuk bersikap sesuai dengan kehendakmu antara mengambil atau menolak, menenima atau menampik, memberi atau menahan, berdiri atau duduk, pergi atau tetap tinggal, ini adalah persoalan mubah yang diberi keleluasaan izin untuk memilih. Jika disertai ‘perkataan’, hukum mubah menjadi semakin kuat dengan kehendak Allah. Dan, jika disertai niat yang benar, ia akan memantul dan hukum mubah dan berubah menjadi mandub (sunah, anjuran). Apabila yang muncul di bawah cahaya yang membentang dari hati itu adalah kegelapan maka itu adalah isyarat adanya amarah yang menyertai. Karena: itu, waspadai dan jauhilah hal tersebut, sesungguhnya ia dilarang atau hampir-hampir dilarang.

Status hukum sesuatu tersebut tidak bisa dipastikan dan ditetapkan kecuali dengan bukti (sandaran) dan Kitab Allah, sunah Rasul-Nya, ijma’, atau ragam ijtihad para imam mazhab yang kamu anut, seperti Imam Malik, Syafi’i, dan selain keduanya dari kalangan khulafaurrasyidin. Dengan demikian, tetapkanlah keputusan hukum atas dasar yang sahih. Jika kegelapan yang ada menyerupai mendung di mana hati tidak bersinar terang bersamanya dan pikiran tidak bisa berkonsentrasi secara jernih di dalamnya, maka jagalah jarak dengannya, sebab ia hampir merupakan sesuatu yang makruh.

Jangan tetapkan suatu hukum berdasarkan nalar dan pendapatmu. Sungguh banyak orang yang telah tersesat dari sini. Jangan berikan fatwa pada seseorang meskipun ia meminta fatwa kepadamu. Dan, berikan tempat bagi sikap wara pada : haknya dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Jika kamu praktikkan tata krama ini tak lama lagi kamu akan memperoleh bukti yang nyata dan penjelasan dari Tuhanmu serta kesaksian yang mengikutinya. Inilah sekelumit penjelasan mengenai persoalan ini. Tidak sedikit pun niatan atau unsur kesengajaaan dalam diri kami untuk menggariskannya. Akan tetapi, ia mengalir begitu saja dari lisan dan hati, menuruti kehendak-Nya. Kepada-Nya kami memohon anugerah, ampunan, dan musydhadah di atas maqam tertinggi derajat Ihsan.

Terkait dengan apa yang kamu kirimkan, kami telah menerimanya dan kami merasa sangat gembira. Kami menjadi teringat dengan kemurahan-kemurahan pada waktu sebelumnya. Seandainya bukan karena sangat ingin bertemu, tentu kami ingin memberikan kepadamu lebih banyak lagi dari apa yang bisa kami berikan. Semoga Allah segera mempertemukan kita sesuai dengan apa yang Dia cintai dan ridhai.

Ihwal perjalanan yang kamu ceritakan sudah kami pahami. Meskipun harapan hati begitu berhasrat, sampai kapal pemberangkatan al-Mahdiyah tiba yang seakan-akan telah melayukan harapan kedatangan kalian, Sementara soal az-Zaituni, sesungguhnya hati saya juga sudah teringat kepadanya jauh sebelum kedatangan surat kalian pada kami dan kami pun ikut bersedih.

Katakan kepadanya agar tetap tegar dan tabah hingga Allah memberikan ketetapan sesuai dengan yang Dia kehendaki. Dia masih memiliki ribuan bahkan ratusan ribu pengganti kekasih yang hilang. Dia Maha Mendengar segala sesuatu, melihat segala sesuatu. Para kekasih menjadi patah harapan dan bersedih sedangkan kita jangan sampai demikian. Ujian tersebut adalah hukum yang baik dan penuh hikmah. Dan, (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin? Kegembiraan dari Allah pasti akan datang, hingga seolah-olah tidak ada sesuatu yang terjadi. Semoga Allah berkenan menganugerahkan rasa syukur pada kita atas nikmat-nikmat Nya, serta membebaskan saudara dan kekasih kita dari kehinaan tersebut menuju kemuliaan anugerah kekayaan dan kesaksian atas karunia-karunia dan kebaikan budi-Nya.

Telah kami terima juga berita keterguncangan hati kalian, Haji Zakaniya, Haji Yahya, Haji Abdullah, az-Zaruti, al-Warsyisi, Abdullah al-Faitur, ahli rthdth Muhammad, juga Si gluslam Mas’ud. Saya pernah berpapasan dengan Ali, sepupu mereka dan mempersilakan untuk mampir ke tempat kami. Namun, ia memilih untuk melanjutkan perjalanan haji dan tidak mampir di tempat kami meski dia sangat ingin sekali.

Begitu kami terima berita mengenai prahara perjalanan kalian, hati kami pun ikut bersedih. Namun, jangan sampai hal tersebut melemahkan tekad kalian yang telah begitu menggunung bak Gunung Qabis, kendati ada di antara kalian yang emosi, diam, dan larut dengan kesedihannya.

Demi Allah yang tidak ada tuhan selain Dia, andai saja saya masih memiliki kekuatan yang cukup membantu saya dalam menyeberangi setiap daratan dan lautan, sehingga saya dapat menyelamatkan para sahabatku dari segala fitnah dengan kehendak dan pertolongan Allah. Dan, tiada daya upaya maupun kekuatan melainkan hanya bersama Allah Yang Mahatinggi lagi Mahaagung.


Telah meminta pendapat orang yang meminta pendapat untuk melakukan perjalanan darat maupun laut, dan atau apa yang membawa kepada kesedihan. Ketahuilah, kapal pemberangkatan al-Mahdiyah singgah selama 19 hari. Dan, kami melihat Ahmad ash-Shabuni sangat berhasrat untuk berangkat ke Baitullah dan kami telah memutuskan berangkat pada waktu sebelum kedatangan kalian. Padahal, saya sangat berharap pada kalian, seandainya saja bukan karena 70 keluarga yang telah bertekad untuk melakukan perjalanan bersamaku pada tahun ini dan mereka telah menjual banyak barang mereka. Mereka berjumlah 200 orang lebih. Tujuh puluh orang di antaranya adalah tokoh-tokoh besar mereka, termasuk para ulama dan ahli fikih. Dan rombongan tersebut, saya tidak mengetahui golongan wali-wali khulafa’, ‘umana, nuqaba’, nujaba’, abdal akhfiya’, dan akhyar. Kemudian, saya menemukan perhimpunan mereka di Yaman dan saya berharap bisa bertemu dengan sebagian mereka.



Seandainya bukan karena golongan mereka ini, saya ingin bertahan setahun ini menunggu sampai kalian tiba. Namun, gelombang-gelombang mereka telah membawa diri dan hati saya untuk tunduk memenuhi panggilan Allah. Dan, Allah memberikan petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus.

Insya Allah kami akan melakukan perjalanan bersama seluruh keluarga saya pada bulan ini atau beberapa han setelahnya. Kami sudah terbiasa menahan diri sembari menggiatkan pengajian, dan hal itu telah berlaku di tiga tempat persinggahan yang kami lalui, tanpa kelelahan maupun kesia-siaan, juga tanpa kehabisan bekal, berkat karunia Allah yang mengalir pada orang-orang yang mencintai kami dengan kehendak-Nya. Kami pun tidak sampai tersesat di pedalaman padang pasir dan kehilangan asa. Semoga Allah senantiasa memberikan keberkahan pada para dermawan yang baik hati dan semakin menambahkan karunia-Nya pada mereka.

Sejak tiba di Mesir, kemudian selama perjalanan ke pedalaman Mesir bagian selatan, semua orang ingin melayani kami. Maka, kami pun ingin mengambil waktu setengah tahun sebelum waktu wukuf, insya Allah. Saya tidak khawatir dengan orang-orang yang mengusik saya kecuali para penggemar saya. Mereka tidak ingin saya pergi cepat-cepat sebagaimana yang telah saya tetapkan pada kalian. Dan, itu adalah keinginan saya. Kepada Allah-lah saya meminta pertolongan. Dia adalah Penolong, dan Dialah sebaik-baik Pelindung.

Keluarga saya juga telah merasa betah dengan keterangan-keterangan mereka. Mereka menjadikan pelabuhan sebagai tempat tinggal sementara. Dan, semua ini merupakan ketetapan Allah yang telah dibentangkan-Nya di atas kehendak dan kekuasaan-Nya. Segalanya adalah milik Allah, baik kata, urusan, rahasia, maupun kekuasaan (sulthan), juga kerajaan, Dia berikan kepada orang yang Dia kehendaki dengan pengawasan-Nya. Dia Mahakaya dari semua itu, dan Dia adalah pemilik karunia yang besar.
Terkait dengan hal yang kamu ceritakan mengenai perjalanan di darat dan laut, jangan sampai kalian menjadi terbebani dengan rasa takut dan lapar sedikit pun selama perjalanan di darat. Buah kismis susah sekali didapat dan makanan juga jarang diperoleh. Orang-orang berusaha mendapatkan dan sangat jarang seseorang dan mereka berhasil mendapatkan sesuatu.

Kendati dalam kecukupan dan kemakmuran, janganlah kalian tempuh jalan ini kecuali dengan bekal cukup dan perhatian dengan bimbingan Syekh pemuka, atau dengan keyakinan khusus dari aI-Haqq (Allah). Keyakinan ini diusung dengan ketulusan, sembari menyisihkan ego, menjadikan tawakal kepada-Nya sebagai petunjuk jalan, dan lindungan Allah di atas kepalanya, kuasa Allah mencukupinya, belai cinta (mahabbah) memandunya, dan kerinduan kepada Allah akan terus mengisi kalbu dan pikirannya. Neraka pun akan berkata kepadanya, “Hai orang Mukmin, lewatlah! Sungguh cahayamu telah memadamkan kobaran apiku.” Hal ini jarang ditemukan pada selain kalian. Barang siapa menemukan keistimewaan ini dalam dirinya, maka Ia tidak memerlukan yang lain, sebab hal itu tidak ada kedudukannya lagi dalam Kerajaan Allah,

Menangislah, kemudian buatlah orang-orang menangis atas perginya orang-orang yang memanggul beban berat kita (para wali dan ulama). Mereka adalah orang-orang yang mengerti benar kondisi kita, tetapi seolah-olah mereka adalah orang-orang bodoh dan tidak tahu-menahu bersama kita; dipandang sama seperti salah seorang kita. Padahal, mereka adalah orang-orang istimewa yang diturunkan oleh Allah di tengah-tengah komunitas umat ini di segala zaman.

Ironis sekali jika kita tenggelam dalam kemalangan, publisitas, dan melumuri amal kita dengan kotoran. Padahal, Allah SWT telah berfirman: “Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan, memberinya rezeki dan arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath-Thalaq [65]:2-3) SahI bin Abdullah menincikan takwa dan manifestasi daya dan kekuatan, dan memalingkan pengertiannya dan hal-hal yang dilukiskan oleh orang-orang bdthil berupa ketakwaan lahiriah sementara batin mereka berlumur kotoran.

Benar kiranya bahwa seorang hamba itu (berada dalam kondisi dua poros yang tarik-menarik) secara lahir berlumur maksiat dan syahwat hedonisme, tetapi tetap berusaha menjalankan amal-amal ketaatan, Sedangkan cakrawala telah tertutup dengan klaim-klaim palsu dari penyandaran daya dan kekuatan pada dirinya. Maka, hamba ini telah melampaui batas, melakukan rekayasa dan kebohongan yang amat besar.

Kebaikan tidak bisa berdiri tegak bersama keburukan. Orang-orang yang cermat (al-muhaqqiqun) menempuh dan melakukan banyak hal. Mereka memandang dorongan dan menanti-nanti buah hasil, Lalu, apabila tidak berhasil mendapatkan buah dan hasil, mereka menyadari bahwa ilmu dan amalnya tidak sempurna atau cacat. Dan, apabila kehilangan dorongan dan landasan yang sahih pada prinsip dasarnya, maka amal mereka pun tidak dianggap.

Allah SWT berfirman: “Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.” (QS. Ath-Thalaq [65]: 2). Hai orang yang mengklaim diri berada dalam takwa, mana jalan keluar itu? Apabila kamu melihat jalan keluar itu, maka apakah dengan janji dan jaminan Allah? Dan jika yang kamu dapati hanya kebingungan belaka, maka siapa yang benar dan siapa yang pembohong? Siapakah yang lebih benar ucapannya daripada Allah?! “Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS, Ath-Thalaq [65]: 3)

Tawakal tidak sah kecuali hanya bagi orang yang bertakwa. Dan, ketakwaan tidak sempurna kecuali dengan dorongan (syariat) dan buah (makrifat). Jadi, perhatikanlah baik-baik dorongan dan landasan tersebut (syariat), prinsip-prinsip dasar (hakikat), dan buah (makrifat). Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang sabar.

Perjalanan laut bagi saya Iebih dekat, Iebih saya sukai, dan Iebih hemat biaya. Karena itu, siapa saja yang mendapatkan kesempatan pemberangkatan dari Mahdiyah, maka kami sebenarnya telah berpesan tentang kalian kepada Syekh Abu Au as-Saqath. Dan, jangan sampai kalian bepergian ke tempat kami kecuali dengan keyakinan yang mantap agar jangan sampai perbekalannya kalah dengan semangat diri dan luapan hati.

Apabila sudah siap, maka perhatikan dan perkirakanlah perjalanan kami dari pelabuhan, Jangan sampai salah seorang kalian datang dan tidak menemukan orang yang bisa disinggahi, lalu hatinya tercabik-cabik (putus asa) dan dikejar-kejar waktu, sehingga ia tidak sampai ke Haram Allah (Mekah), tidak juga dapat kembali ke rumahnya. Kecuali, jika ia telah mengenal mata angin dengan baik di mana pun ia berada dan dia termasuk orang yang disinggung dalam firman Allah SWT: “Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya.” (QS. As-Sajadah [32]: 16)

Apakah menurutmu tidur itu telah menjauhkan lambung mereka dari tempat tidur dan membiarkan hati mereka tidur dan tenang bersama selain-Nya?! Tentu saja tidak. Akan tetapi, hati mereka terangkat dari segala sesuatu dan matahati mereka tidak pernah tidur sedikit pun. Coba pahamilah pengertian ini!

Lambung mereka jauh dari meniduri segala hal selain Allah dan melawan takdir. “Sedang mereka berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut dan harap,” (QS. As-Sajadah [32]: 16) Hanya kepada Allah dan karena ketakutan kepada-Nya, Dia pun membawa mereka kepada-Nya. Dan, karena kerinduan mereka kepadaNya, Dia pun meminumi mereka dengan cinta-Nya. “Dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.” (QS. As-Sajadah [321: 16)
Seandainya ada cukup waktu untuk berpanjang lebar membicarakannya, tentu akan saya tulis berlembar-lembar surat penjelasan mengenai hal ini untuk kalian. Namun, al-Haqq (Allah) telah menentukan kuasa-Nya pada hati, menyegarkannya dengan hikmah-Nya, dan mencukupkannya dari percakapa panjang dengan makhluk-Nya.

Soal kasus Haji Zakariya yang menggagalkan rencananya hanya gara-gara uang lima belas dinar, seandainya ia ikut dengan membawa uang yang jauh lebih rendah dari itu, maka masih diharapkan dan Allah semoga memenuhinya. Namun, kitab ketentuan membutuhkan lebih dari itu dalam hitungan pengetahuan. Semoga Allah memberinya taufik pertolongan untuk menapaki jalan kebenaran.
Mengenai al-FaqIr Abu Yahya, tekadnya yang menggebu-gebu sudah saya dengar. Sampaikan salam saya kepadanya dan beritahukan bahwa sepupunya pergi haji dan sekarang sedang di pelabuhan, di tempat kedua sepupunya, Ibrahim dan Muhammad, Keduanya merupakan orang yang terhormat dalam kemuliaan dan ilmu pengetahuan. Saudara yang tertua, Ibrahim, menggeluti dunia tasawuf, memiliki integritas (istiqamah) dan kemampuan yang cukup mumpuni dalam bidang agama, kebajikan, dan toleransi. Sementara adiknya, Muhammad, menggeluti disiplin ilmu AI-Qur’an dan Hadis, serta mempelajari

Bidang-bidang fura (pengembangan dan Al-Quran dan Hadis) sebagai makanan keseharian. Ia sudah menikah, sedang kakaknya masih membujang.
Pesan saya, jika ada salah seorang di antara kalian yang datang, antarkanlah ia kepada dua tokoh ahli fikih yang lurus dan terkemuka: Abu Umar dan saudaranya, Jamaluddin, juga kepada seorang ahli fikih, as-Sadid Abu Muhammad Abdul Wahhab. Sesungguhnya Allah telah memberikan anugerah kepadanya dan kepada iparku, Syarafuddin.

Soal kitab yang kalian katakan telah dibelikan, jika memang kalian telah mendapatkannya, suruhlah seseorang untuk membawanya (kemari) atau titipkan pada orang yang bisa dipercaya agar ia menyerahkannya kepada salah seorang ahli fikih tersebut, atau kepada Jamal, atau kepada ipar saya, atau kepada Sadid. Saya izinkan kalian untuk menyampaikan salam saya pada murid-murid saya di perkotaan maupun pelosok pedesaan, secara lisan langsung (musyafahatan), melalui penyampaian pesan (taballughan), atau secara tertulis (kitabatan), sesuai dengan kemampuan kalian.
Semoga salam keselamatan, rahmat Allah, dan keberkahanNya tercurah kepadamu, juga pada orang-orang yang telah disebut maupun yang tidak disebut, serta pada seluruh penduduk kampung dan wilayah.

Mendengar Suara yang Indah


Syeikh Abu Nashr As-Sarraj
Syekh Abu Nashr as-Sarraj —rahimahullah— berkata: Allah swt. berfirman: “Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya.” (Q.S. Fathir: 1).



Mereka menafsirkannya dengan akhlak yang mulia dan suara yang indah.
Diriwayatkan dalam Hadis Nabi Saw. bahwa beliau pernah bersabda:
“Allah tidak pernah mengutus seorang nabi kecuali ia memiliki suara yang indah.” (H.R. Tirmidzi).

Rasulullah Saw. juga bersabda:
“Allah Swt. tidak pernah mendengarkan dengan serius terhadap sesuatu sebagaimana Dia mendengarkan seorang nabi yang memiliki suara yang indah.” (H.R. Bukhari-Muslim, Abu Dawud dan Nasa’i dari Abu Hurairah).

Nabi Saw. juga bersabda:
“Sungguh Allah Swt. lebih serius mendengarkan seorang pembaca al-Qur’an dengan suara merdu daripada seorang pemilik biduan perempuan mendengar nyanyian biduannya.” (H.R. Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan Hakim dari Fudhalah bin Ubaid).

Dalam sebuah Hadis disebutkan, bahwa Nabi Dawud as. dianugerahi suara yang merdu sehingga ketika ia membaca Kitab Zabur, jin, manusia, binatangbuas dan burung khusyuk mendengarkan bacaannya. Bahkan seperti diriwayatkan dalam sebuah Hadis, bahwa kaum Bani Israel pernah berkumpul untuk mendengarkan suara Nabi Dawud, sementara itu ada empat ratus jenazah orang-orang yang telah mati di situ diboyong dari majelisnya. (Imam al-Hafizh al-Iraqi mengatakan, bahwa Hadis ini tak memiliki sumber yang jelas).

Sebagaimana pula diriwayatkan dan Nabi Saw bahwa beliau bersabda, “Sungguh Abu Musa diberi terompet (seruling) dan terompet keluarga Nabi Dawud a.s. karena ia telah diberi suara yang merdu.” (H.R. Bukhari-Muslim).

Disebutkan dalam sebuah Hadis, “Bahwa pada saat Pembukaan Kota Mekkah, Nabi Saw. membaca surat al-Fath, beliau membaca panjang bacaan mad dan mengulanginya kembali.” (H.R. Bukhari-Muslim dan Abu Dawud dari Anas dan Ubaidillah bin Mughafal).

Dari Mu’adz bin Jabal, bahwa ia pernah berkata kepada Rasulullah Saw., “Andaikan aku tahu bahwa engkau orang yang mendengar, niscaya aku akan memperindah suaraku dalam membaca al-Qur’an.” (H.R. Muslim dan Nasa’i).

Diriwayatkan pula dari Nabi Saw. yang bersabda, “Hiasilah al-Qur’an dengan suara kalian yang merdu.” (H.R. Abu Dawud, Nasa’i, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan Hakim).

Syekh Abu Nashr as-Sarraj —rahimahullah— mengatakan, bahwa Hadis di atas dimungkinkan memiliki dua pengertian —dan hanya Allah Yang Mahatahu: Pertama, yang dimaksud Hadis di atas adalah menghiasi bacaan al-Qur’an dengan mengeraskan suara ketika membacanya, kemudian memperindah suara dan lagunya. Sebab al-Qur’an adalah Kalam Allah dan bukan makhluk, maka ia tidak perlu dihiasi dengan suara makhluk atau diperindah dengan lagu yang direkayasa. Kedua, makna yang dimaksud dengan menghiasi bacaan al-Qur’an dengan suara yang indah adalah mendahulukan mana yang harus lebih dahulu dalam makna dan mengakhirkan mana yang harus di akhir, seperti dalam firman Allah Swt.:
“Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya al-Kitab (al-Qur’an) dan Dia tidak menjadikan di dalamnya suatu yang menyimpang, sebagai bimbingan yang lurus.” (Q.S. al-Kahfi: 1-2).

Artinya dalam uslub mendahulukan mana yang harus didahulukan dan mengakhirkan mana yang terakhir adalah bahwa Allah Swt. menurunkan al-Qur’an kepada hamba-Nya sebagai bimbingan yang lurus dan Dia tidak menjadikan suatu yang menyimpang (bengkok). Sementara ayat-ayat seperti ini banyak kita jumpai dalam al-Qur’an.

Allah Swt. mencela suara yang tidak disukai (buruk), sebagaimana dalam firman-Nya:
“Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.” (Q.S. Luqman: 19).

Tentu saja ketika Allah mencela suara yang buruk, Dia akan memuji suara yang indah.
Orang-orang bijak telah banyak berbicara tentang suara yang indah dan alunan lagu yang merdu. Misalnya Dzun-Nun —rahimahullah— pernah ditanya tentang suara yang bagus, maka ia mengatakan, “Itu adalah pembicaraan-pembicaraan dan isyarat-isyarat yang ditujukan kepada al-Haq yang dititipkan pada segala kebaikan.”

Diceritakan dari Yahya bin Mu’adz ar-Razi, yang mengatakan, “Suara yang indah merupakan hiburan dari Allah Swt. bagi hati yang di dalamnya ada rasa cinta kepada Allah.”
Sementara itu yang lain mengatakan, “Lagu yang indah adalah hiburan dari Allah Swt. yang digunakan untuk menghibur hati yang terbakar oleh api cinta Allah Swt.”
Saya mendengar Ahmad bin Au al-Wajihi mengatakan: Saya mendengar Abu Ali ar-Rudzabari —rahimahullah— yang mengatakan, “Bahwa Abu Abdillah al-Harits bin Asad al-Muhasibi pernah berkata: Ada tiga hal bila ditemukan maka akan menjadi hiburan, sementara saya telah kehilangan semuanya: (1) Suara yang indah dengan tetap berpegang teguh pada agama; (2) Wajah yang cantik dengan tetap menjaga diri; (3) Persaudaraan yang baik dengan penuh kesetiaan.”

Dari Bundar bin al-Husain —rahimahullah— yang mengatakan, “Suara yang bagus merupakan hikmah yang mengakibatkan kebijakan yang selamat. Suara yang merdu dan perkataan yang halus merupakan takdir dari Allah Swt. Yang Mahaagung lagi Mahatahu.”
Termasuk kelembutan yang Allah ciptakan pada keindahan suara adalah ketika seorang anak kecil menangis dalam buaian karena ada sesuatu yang dirasakan sakit, kemudian mendengar suara yang indah, maka ia akan berhenti menangis dan bisa tidur.

Suatu hal yang sudah cukup terkenal, bahwa orang-orang terdahulu mengobati orang yang sakit empedu dengan menggunakan suara yang indah. Dimana pada akhirnya si pasien bisa sehat kembali.
Syekh Abu Nashr as-Sarraj —rahimahullah— berkata: Di antara rahasia yang Allah ciptakan di dalam suara yang merdu dan indah akan memberi semangat baru. Coba Anda perhatikan unta yang melintasi gurun pasir, ketika telah lelah dan tidak mampu meneruskan perjalanannya, maka orang yang menggiringnya akan melantunkan senandung untuknya. Unta akan asyik mendengarkan lantunan senandungnya dengan memanjangkan lehernya dan memasang telinganya ke arah orang yang bersenandung, kemudian jalannya menjadi cepat sehingga barang-barang bawaannya bergoncang. Tapi barangkali nafasnya akan habis bila orang yang menggiring tidak melantunkan senandungnya lagi, setelah ia berjalan dengan cepat dan beban bawaannya cukup berat, dimana sebelumnya ia merasa ringan pada saat mendengar keindahan dan kemerduan suara orang yang menggiringnya.

Syekh Abu Nashr as-Sarraj —rahimahullah—juga mengatakan: Ketika ad-Duqqi di Damaskus ia pernah bercerita kepadaku tentang suatu kisah yang searti dengan hal di atas, dimana ia ditanya mengenai hal itu, maka ia bercerita: Ketika berada di gurun pasir aku mendatangi salah satu kabilah Arab, kemudian salah seorang dan mereka menyambutku dan mempersilakan masuk ke dalam sebuah kemah. Di dalam kemah aku melihat seorang budak hitam yang diikat dengan rantai, sementara di depan kemah kulihat beberapa ekor unta yang telah mati dan ada seekor unta kurus dan lunglai seperti mau mati. Maka si budak yang diikat oleh tuannya itu berkata kepadaku, “Pada malam ini Anda adalah tamu tuan saya. Sementara Anda adalah orang yang dihormatinya, maka tolonglah saya agar ia mau melepaskan saya dari ikatan ini, karena ia tidak mungkin menolak permintaan Anda.”


Ketika mereka menyuguhkan makanan kepadaku, maka aku tidak mau makan. Dan hal ini membuat temanku (tuan rumah) terasa sangat berat, lalu Ia bertanya kepadaku, “Mengapa Anda tidak mau makan?”



Maka aku menjawab, “Aku tidak akan makan makanan ini sebelum Anda mau memberitahu kepadaku tindak kejahatan budak ini dan melepaskan rantai yang mengikatnya.”
Ia pun menceritakan kasus kejahatannya, “Oh tuan yang mulia, sesungguhnya budak ini telah membuat saya miskin, menghancurkan semua harta saya dan membuat hidup saya dan keluarga saya sengsara.”
Kemudian aku bertanya kepadanya, “Apa yang telah ia lakukan?”

Ia menceritakannya, “Budak ini memiliki suara yang sangat indah, sementara hidup saya sangat bergantung pada punggung unta-unta ini. Ia telah memberi muatan yang sangat berat di atas punggung unta-unta ini, kemudian ia bersenandung dengan merdunya yang diperdengarkan untuk unta-unta ini sehingga mereka berjalan dengan cepat, dimana perjalanan yang semestinya ditempuh tiga hari hanya ditempuh semalam karena kemerduan suaranya yang disenandungkan untuk mereka. Namun begitu unta-unta ini telah sampai dari perjalanannya dan semua barang muatannya diturunkan, mereka langsung mati kecuali seekor unta ini yang keadaannya juga mengenaskan. Anda adalah tamu saya, dan demi menghormati Anda, maka ini saya berikan kepada Anda.”

Akhirnya ia melepaskan rantai yang mengikat budak hitam tersebut, dan kami juga makan makanan yang disuguhkannya. Ketika pagi hari aku ingin mendengarkan kemerduan suara budak hitam itu, kemudian aku memintanya agar ia memperdengarkan keindahan suaranya kepadaku seraya memerintahnya agar ia bersenandung untuk seekor unta yang masih hidup yang telah diberi minum dari air sumur yang ada di seberang sana. Kemudian ia berangkat dan mulai menggiring untanya dengan bersenandung. Ketika ia mengeraskan suaranya, maka unta ini pergi sehingga memutus tali kendalinya. Maka saya jatuh tersungkur ke tanah dan sama sekali tidak pernah mendengar suara sebagus suaranya. Kemudian tuan budak itu berteriak, “Wahai laki-laki, apa lagi yang Anda inginkan dari saya? Anda telah mencelakakan unta saya. Pergilah dar sini!” Ini sebagaimana yang diceritakan oleh ad-Duqqi atau searti dengan apa yang ia ceritakan. —Dan hanya Allah Yang Mahatahu.

Saya mendengar Ahmad bin Muhammad ath-Thili di Anthakiyah pernah mengatakan: Saya pernah mendengar Bisyr al-Hafi berkata: Saya bertanya kepada Ishaq bin Ibrahim al-Maushili, “Siapakah orang yang bagus suaranya dalam berlagu?” Ia menjawab, “Adalah orang yang memungkinkan nafasnya dan sanggup menahannya serta betul-betul memahami seluk-beluknya dengan teliti.”

Kebun Mawar Rahasia


Sa’di asy-Syirazi
Gulistan (Kebun Mawar) dan Bustan (Kebun Buah) karya Sa’di asy-Syirazi merupakan dua karya klasik Sufisme yang mengandung ajaran moral dan etika serta banyak dibaca orang di India, Persia, Pakistan, Afghanistan dan Asia Tengah. Pada masa hidupnya, Sa’di adalah seorang Darwis yang senantiasa berkelana. Ia pernah ditangkap bala tentara Perang Salib dan disuruh menggali parit sedemikian dalam.

Ia juga mengunjungi pusat-pusat pengajaran di Timur dan menulis puisi serta prosa yang bernilai sangat tinggi. Ia pernah belajar di perguruan tinggi Baghdad yang didirikan Nizham, Menteri Pengadilan Syah, sahabat Omar Khayyam. Ia mempunyai ikatan dengan para Sufi dari Tarekat Naqsyabandiyah, mempunyai hubungan dekat dengan Syekh Syahabuddin Suhrawardi, pendiri Tarekat Suhrawardiyah serta Najmuddin Kubra, Sang “Pilar Masa”, salah seorang Sufi terbesar sepanjang masa.

Pengaruh Sa’di terhadap kesusastraan Eropa diakui sangat besar. Tulisan-tulisannya merupakan salah satu acuan dasar bagi Gesta Romanorum, buku induk berbagai legenda dan alegori di Barat. Para sarjana (Barat) telah mencatat pengaruh-pengaruh Sa’di dalam kesusastraan, seperti dalam sastra jerman. Penterjemahan karya-karyanya pertama kali ditemukan di Barat pada abad ketujuh belas. Akan tetapi, seperti kebanyakan karya Sufi lainnya, maksud yang terkandung dalam karya Sa’di hampir tidak dipahami sama sekali oleh para pengkaji sastra. Ini terbukti dalam sebuah ulasan tipikal dari seorang komentator masa kini. Ulasannya memang bukan pendapatnya tentang Sa’di, namun merupakan indikasi pikiran di penanya: “Sangat diragukan apakah Sa’di benar-benar seorang Sufi. Sebab menurutnya pendidikan mengucilkan mistik.”

Sebenarnya, dongeng-dongeng berisi nasehat, syair, analogi penuh makna yang ditulis Sa’di mempunyai multifungsi. Pada tatanan masyarakat, semua tulisan Sa’di merupakan suatu kontribusi yang besar terhadap pemantapan etika. Namun di antara para pengulas sastra Barat, hanya Profesor Codrington yang memahaminya lebih dalam:
“Alegori dalam Gulistan memang khusus (digunakan) para Sufi. Mereka tidak mungkin menyampaikan ajaran rahasia kepada orang-orang yang tidak terbiasa menerima atau menafsirkannya secara tepat, sehingga mereka mengembangkan suatu terminologi khusus untuk menguraikan rahasia-rahasia tersebut bagi para calon murid. Bilamana tiada kata-kata yang tepat untuk menyampaikan gagasan-gagasan tersebut, maka ungkapan-ungkapan khusus atau alegori digunakan.”

Bukan hanya orang-orang Barat yang menganggap bahwa pengetahuan batiniah (esoteris) dapat dipahami seperti menyantap hidangan di atas piring. Sa’di sendiri telah menjelaskan hal ini dalam salah satu ceritanya.

Ketika ia mengadakan perjalanan dengan beberapa temannya yang saleh ke Hijaz Arabia, seorang anak laki-laki dekat Oasis Bani Hilal mulai menyanyi dengan cara khusus sehingga unta milik seorang pencibir mistisisme menari, kemudian melarikan diri ke padang pasir. “Aku berujar,” kata Syekh Sa’di, “baiklah Tuan, Anda tetap saja diam, padahal lagu itu telah mempengaruhi seekor binatang sekalipun.”[1]
Ajaran Sa’di tentang pelatihan diri tidak hanya mengacu pada kepatuhan biasa untuk menjalankan apa yang diajarkan guru. Dalam ajaran Sufi tentu ada suatu bentuk pelatihan din. Bentuk pelatihan ini sebenarnya merupakan tahap lebih awal daripada kemampuan untuk memahami nasehat-nasehat seorang guru. “Bila engkau tidak mau memarahi dirimu sendiri,” kata Sa’di, “maka engkau tidak akan mau menerima nasehat dari orang lain.”

Demikian pula tentang ketekunan dalam menjalankan hidup bertapa secara berlebih-lebihan. Pertama kali seorang calon murid harus dijelaskan tentang fungsi kehidupan mengasingkan diri yang sebenarnya. “Lebih baik tinggal bersama teman-teman daripada hidup di sebuah kebun dengan orang-orang asing,” tandas Sa’di. Kebutuhan mengasingkan diri dari dunia hanya berlaku dalam keadaan-keadaan tertentu. Para pertapa, yang tidak lebih dari para penggantang asap (orang-orang terobsesi), memberikan kesan bahwa padang pasir atau gunung-gunung adalah tempat-tempat yang harus digunakan para Sufi dalam menghabiskan seluruh hidupnya. Mereka sebenarnya tidak bisa melihat seutas benang dalam hamparan karpet.

Arti penting dan tempat dalam latihan-latihan Sufi juga merupakan masalah yang disorot Sa’di. Para intelektual biasa tidak mungkin akan percaya bahwa kualitas dan keberdayagunaan pemikiran beragam sesuai dengan tuntutan keadaan. Mereka merencanakan suatu pertemuan pada waktu dan tempat tertentu, memulai suatu perbincangan akademis dan selalu melakukan ini dalam keadaan apa pun. Mereka tidak dapat memahami pengertian Sufi bahwa hanya dalam “kesempatan” tertentu pikiran manusia dapat membebaskan diri dari mesin yang mengikatnya.

Prinsip ini, yang dikenal dalam hikmah kehidupan sehari-hari bahwa “segala sesuatu mempunyai waktu dan tempatnya sendiri”, ditekankan dalam Gulistan dengan suatu cara yang tipikal. Hikayat ketiga puluh enam yang mengungkapkan perilaku-perilaku para darwis kelihatannya hanya merupakan pelaksanaan aturan moral dan tata krama (etika). Namun bila diuraikan dalam atmosfir Sufi, maka hal itu menunjukkan dimensi-dimensi yang baru.

Seorang darwis memasuki rumah seorang dermawan dan melihat orang-orang terpelajar hadir di sana. Mereka saling bersenda-gurau di tengah suasana yang membicarakan hasil kerja intelektual mereka itu. Seseorang meminta darwis itu untuk ikut serta dalam perbincangan. “Hanya satu bait dari seseorang yang kurang intelek ini, bagi Anda,” kata si darwis. Mereka memintanya dengan hormat untuk diungkapkan.

Seperti seorang bujang di depan pintu kamar mandi perempuan, “Aku menghadap meja (makan), karena sudah begitu lapar.”
Bait ini tidak hanya mempunyai maksud bahwa sudah saatnya untuk makan, bukan berbicara; bait ini juga mengandung maksud bahwa perbincangan intelektual hanya sebagai latar untuk menuju pemahaman yang sebenarnya.

Kemudian, kisah berlanjut, si tuan pada saat itu segera memerintahkan (pelayannya) untuk menghidangkan semacam bakso. “Bagi orangyang lapar,” kata si darwis, “roti saja sudah cukup.”
Gulistan kerapkali menyinggung dalam bentuk puisi dan kisah, orang-orang yang tidak sabar mempelajari Sufisme tanpa menyadari bahwa mereka tidak dapat mempelajarinya dengan jiwa yang kosong. Dalam sebuah ungkapan Sufi yang terkenal, Sa’di bertanya, “Mungkinkah orang tidur membangunkan orang yang tidur?” Bilamana mungkin benar bahwa tindakan manusia seharusnya sesuai dengan kata-katanya, maka tentu saja benar bahwa pengamat sendiri pasti dapat menilai tindakan-tindakan tersebut. Namun kebanyakan orang tidak demikian. “Sebuah konferensi orang bijak adalah seperti bazar (pasar murah) para penjual pakaian. Engkau tidak bisa mengambil barang jualan apa pun di tempat itu, kecuali kalau engkau membayar uang. Tentu saja, engkau hanya bisa membawa barang jualan jika mempunyai kemampuan membeli.”

Pokok bahasan lain yang ditekankan para Sufi adalah kemandirian calon murid dalam upaya mengembangkan diri dan minatnya. Suatu keseimbangan harus dicapai antara kepentingan diri dan masyarakat. Hubungan antara para Sufi dan Persaudaraan Suci (Ikhwanush-Shafa) yang hampir tidak diperhatikan para pengamat, dibahas dalam beberapa bagian tulisan Sa’di. Persaudaraan Suci adalah sekelompok cendekiawan yang mempersiapkan resensi-resensi ilmu pengetahuan yang telah dicapai dan mempublikasikannya secara anonim untuk kepentingan pendidikan serta tak seorang pun yang berkeinginan untuk meningkatkan reputasi dirinya. Lantaran mereka adalah kelompok rahasia, maka mereka kurang dikenal, karena “ketulusan” itu berhubungan dengan Sufi; maka orang banyak bertanya kepada para guru Sufi tentang mereka. Sa’di memberikan penjelasan tentang persaudaraan rahasia ini dalam kisah keempat puluh tiga:

Seorang bijak ditanya tentang Persaudaraan Suci. Ia menjawab, “Bahkan sangat sedikit di antara mereka yang menghormati kehendak-kehendak para sahabatnya di atas kepentingan dirinya sandiri.” Ia menyatakan, “Seorang yang asyik dengan dirinya sendiri bukanlah saudara ataupun sanak keluarganya.”

Kedudukan Gulistan yang menawan sebagai sebuah kitab tentang peningkatan moral yang sepenuhnya ditujukan kepada kalangan muda terpelajar telah mempunyai pengaruh dalam membangun suatu dasar ajaran Sufi yang potensial dalam pikiran para pembacanya. Karya Sa’di dibaca dan digemari, karena berisi pemikiran dan puisi-puisi yang bersifat menghibur. Beberapa tahun kemudian, ketika ia mulai bergabung dengan salah satu madzhab Sufi, dimensi batiniah dari hikayat-hikayatnya dapat diajarkan kepada para murid. Ia telah mempunyai jasa dalam membangun dasar (pengajaran). Bahan (pelajaran) persiapan ini hampir tidak dikenal dalam kebudayaan lain.
Rahasia-rahasia yang disampaikan sebelum waktunya pun ada beberapa ajaran Sufi yang sebenarnya dapat disampaikan tanpa mengetahui dulu semua ajarannya — akan lebih banyak menimbulkan kesalahpahaman. Hanya saja bila murid telah mempunyai dasar, maka ia bisa menyalahgunakan kemampuan (kekuasaan) menuntun dari para Sufi. Sa’di menjelaskan hal ini dalam sebuah kisah yang sebenarnya merupakan penjelasan sedikit lebih panjang daripada peribahasa larva:
Seseorang mempunyai anak perempuan yang jelek. Ia telah menikahkannya dengan seorang laki-laki buta karena tidak ada orang lagi yang menyukainya. Seorang tabib menawarkan diri untuk mengobati mata orang buta tersebut. Namun si bapak tidak mengijinkannya, karena khawatir ia akan menceraikan anak perempuannya. Sa’di menyimpulkan, “Suami dari seorang perempuan yang jelek adalah orang buta terbaik.”

Kemurahan hati dan kebebasan adalah dua faktor penting yang, bila diterapkan dengan penuh semangat dan benar, dapat mempersiapkan calon murid untuk memasuki dunia Sufi. Bila ada yang menyatakan, “Engkau sama sekali tidak bisa memperoleh kebebasan,” maka sebenarnya ada lebih banyak peluang untuk memperoleh kebebasan itu. Cara memberi (menyampaikan), sesuatu yang diberikan (disampaikan), pengaruh pemberian (penyampaian) terhadap individu, kesemuanya adalah faktor-faktor yang menentukan kemajuan Sufi. Ada suatu kaitan erat antara konsep ketekunan dan keberanian dengan konsep kebebasan. Dalam sistem pendidikan biasa, dimana pemahaman mendalam tentang mekanisme kemajuan tidak utuh, para murid akan mengarah pada persaingan. Murid biasa berpikir bahwa ia tidak dapat memperoleh sesuatu tanpa perjuangan dan ia didorong untuk selalu berpikir begitu.

Sa’di juga menjelaskan masalah ini dalam salah satu aforismenya yang lebih sederhana. Ia menyatakan, “Seorang bijak ditanya, manakah yang lebih baik, berani atau bebas. Ia menjawab, ‘Orang yang bebas belum tentu berani’.” Sikap ini merupakan aspek terpenting dalam latihan Sufi. Perlu juga dicatat bahwa bentuk pengajaran tertulis membuka kemungkinan yang lebih luas bagi Sa’di untuk menjelaskan (melalui lisan orang bijak itu) bahwa pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dengan cara tertentu — juga/atau — tidak harus dijawab menurut pola pertanyaannya.

Dalam bab tentang keuntungan sikap qana’ah (mencukupkan diri), Sa’di mengisyaratkan ajaran-ajaran Sufi dalam beberapa kisah yang tampaknya ditujukan kepada para darwis yang tidak melakukan tindakan tepat. Sekelompok darwis yang sangat kelaparan, ingin memperoleh makanan dari seorang penjahat yang terkenal keserakahannya. Sa’di sendiri menasehati mereka dalam sebuah puisi terkenal:
Sang singa tidak akan memakan sisa-sisa anjing
Sekalipun ia harus mati kelaparan di sarangnya.
Biarlah tubuhmu menderita kelaparan
Janganlah merendah karena mengharap bantuan.

Cara dan fungsi kisah ini menunjukkan kepada Sufi bahwa Sa’di sedang memberi peringatan kepada darwis yang mengikuti keyakinan (paham) apa pun yang mengikat di luar dirinya sendiri, sementara ia berada dalam tahap latihan pengabdian Sufistik berikutnya.
Sufi sejati mempunyai kemandirian yang nilainya tidak dapat disamakan sedikit pun dengan orang-orang yang kurang beruntung.
Sa’di menulis tema yang sangat menarik ini dalam salah satu hikayat moralnya yang menawan, dan menunjukkan letak martabat yang sejati:

Seorang raja sedang berburu bersama beberapa pembesar istana di hutan belantara. Ketika cuaca begitu dingin, ia memerintahkan para pembesar istana agar menginap di sebuah gubuk petani. Mereka menandaskan bahwa martabat raja akan turun jika memasuki tempat semacam itu. Kemudian si petani mengatakan, “Baginda raja kalian tidak akan kehilangan martabat, namun akulah yang memperoleh kehormatan karena didatangi orang yang sangat terhormat.” Petani tersebut kemudian menerima sebuah jubah kehormatan dari raja.

Tawakkal


Al-Ghozali
Iman dengan hanya bertauhid pada Pekerjaan dan Dzat Allah Swt. tidaklah cukup, sebagai unsur yang mempengaruhi sikap tawakal (halatut-tawakkul), kecuali dalam keimanan tersebut telah terhimpun keyakinan akan kasih-sayang, rahmat dan hikmat Tuhan, dimana dengan hal itu, kebulatan keyakinan menyerahkan diri kepada Allah dapat terwujud.

Allah Swt. berfirman, “Dan hanya kepada Allah saja orang-orang yang bertawakal itu berserah diri.” (Q.S. Ibrahim: 12).
“Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (Q.S. Al-Maidah: 23).

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.” (Q.S. Ali Imran: 159).
“Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya.” (Q.S. Ath-Thalaq: 3).

Firman-Nya pula:
“Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-hambaNya?” (Q.S. Az-Zumar: 36).

“Sesungguhnya yang kamu sembah selain Allah itu tidak mampu memberi rezeki kepadamu; maka mintalah rezeki itu di sisi Allah.” (Q.S. Al-‘Ankabut: 17).

Rasulullah Saw. bersabda, “Andaikata kamu sekalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya Dia akan memberimu rezeki sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung: Pergi waktu pagi dalam keadaan lapar dan datang (pulang) waktu sore dalam keadaan kenyang.”
Beliau juga bersabda, “Barangsiapa mempergunakan seluruh waktunya untuk Allah, niscaya Allah mencukupkan seluruh kebutuhan makan minumnya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Dan barangsiapa mempergunakan waktunya untuk (urusan/kepentingan) duniawi, niscaya Allah menjadikan ia patuh pada dunia (urusan duniawi).”

Jika keluarga Rasulullah Saw. ditimpa kesengsaraan (kemiskinan), beliau bersabda, “Dirikanlah salat!” seraya menambahkan, “Beginilah Tuhanku memperintahkan aku. Dia berfirman, ‘Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan salat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu. Kami-lah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa’.” (Q.S. Thaha: 132).

Esensi dan Pilar-pilar Tawakal
Secara esensial (hakiki) tawakal merupakan kondisi ruhani yang lahir dari tauhid, dan pengaruhnya terwujud dalam amal nyata. Tawakal memiliki tiga pilar: Pengenalan diri akan Allah (ma’rifat), kondisi tawakal (haal) dan amal.

Pilar pertama: Ma’rifat. Inilah dasar tawakal. Yakni, tauhid. Orang yang bertawakal hanya berserah diri kepada Allah Swt, ia tidak melihat subyek lain selain Allah Swt. Kesempurnaan ma’rifat ini tersimpul dalam ucapan Anda:
“Tiada Tuhan selain Allah, sendiri tiada berserikat, milik-Nyalah segenap kekuasaan dan segala bentuk puja-puji. Dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Dalam ucapan tersebut terkandung keimanan penuh tauhid, mengandung kekuasaan yang sempurna dari Wujud yang paripurna, serta hikmah, yang karenanya, Dia berhak mendapat pujian.
Orang yang mengucapkan kalimat tersebut dengan penuh kejujuran dan ketulus-ikhlasan, berarti tauhidnya telah sempurna. Di dalam hatinya tertancap dasar yang dapat melahirkan kondisi tawakal.
Penuh kejujuran, artinya, makna dan ucapan lafadz tersebut telah menjadi predikat yang lazim bagi dirinya, dan predikat tersebut telah menguasai kalbunya.

Tauhid semacam ini memiliki dua saripati dan dua kulit dengan empat lapisan, seperti buah badam; memiliki isi, kemudian minyak yang merupakan saripatinya. Kulit bagian luar adalah kulit yang membungkus bagian dalamnya.
Jadi kulit bagian luar itu adalah, dengan pernyataan lisan belaka (lapisan pertama). Kulit bagian dalam adalah, meyakini dengan kalbu sepenuhnya (lapisan kedua). Tingkatan ini adalah tingkatan orang-orang awam dan para ahli kalam (mutakallimun).

Karena tidak ada perbedaan antara tingkatan orang awam dengan tingkatan ahli kalam, kecuali mengenal taktik dalam melawan kebingungan dan kesemrawutan yang berbau bid’ah dan keyakinan tersebut.

Lapisan ketiga adalah inti, yakni ketersingkapan hakikat tauhid dengan cahaya Allah dan ketersingkapan rahasia tauhid dengan hakikat. Fenomenanya, ketika diperlihatkan banyak hal dimana dia tahu betul bahwa keseluruhannya bersumber dari lahir dan subyek yang Satu secara teratur. Dalam hal ini seseorang harus mengetahui matarantai sebab-akibat serta keterkaitannya antara rangkaian pertama dengan Sebab Pertama. Orang yang telah mencapai maqam ini, jauh dari kondisi keanekaan, karena dia menyaksikan banyak perilaku dan keragamannya yang terikat, dengan Sang Pencipta.

Lapisan keempat adalah sari inti. Ia tidak menyaksikan dalam wujud ini kecuali hanya Satu, dan dia tahu bahwa pada hakikatnya yang Ada itu adalah Satu. Pluralitas yang terdapat di dalamnya, sebenarnya akibat dari keterpecahan penglihatannya saja. Seperti ketika melihat sosok orang, misalnya, lewat kakinya. Kemudian melihat tangan, wajah, lalu kepalanya; sehingga tampak banyak.
Berbeda jika ia melihat sosok orang secara utuh, dan keseluruhan, tentu dalam kalbunya tidak terbetik keragaman tersebut, bahkan justru Ia seakan-akan menyaksikan sesuatu yang tunggal. Demikian pula seorang yang manunggal (muwahhid) penglihatannya tidak terpecah pecah antara langit dan bumi, serta antara seluruh yang ada, tapi justru ia melihat seluruhnya sebagai satu kesatuan hukum.
Masalah ini memiliki kedalaman yang perlu disingkap secara panjang-lebar. Silakan Anda membacanya dalam kitab lhya’, Bab “AtTauhid was-Syukr”.

Fana’ dalam tauhid sebenarnya terjadi pada kondisi tauhid semacam itu. Dimana dalam kondisi demikian seseorang tenggelam dalam Dzat Yang Maha Tunggal lagi Maha Benar Al-Wahidul-Haq), sehingga kalbunya tidak menoleh kepada selain-Nya, juga tidak kepada diri sendiri, sebab dirinya sendiri—dan sisi dia sendiri adalah pihak lain selain Allah. Bagi dirinya tidak ada nilai lain dengan melihat pihak lain (selain Dia).
Hakikat Tawakal
Sebenarnya hakikat tawakal hanya membutuhkan penyatuan perbuatan (tauhidul fi’li), tidak membutuhkan fana’ dalam penyatuan Dzat. Bahkan orang yang bertawakal boleh menyaksikan fenomena ganda dan aneka sebab-akibat atau hukum kausalitas, namun dia harus tahu dan menyaksikan keterkaitan rangkaian sebab-akibat dengan Sebab Pertama.

Bagi saya, hal itu bukan merupakan suatu yang tersembunyi bagi Anda, dalam ikhtiar manusia. Sebab, jika melihat hujan sebagai sebab dari tumbuhnya nabati, Anda akan tahu bahwa hujan tercipta dengan perantaraan awan; awan tercipta dengan perantaraan angin dan asap gunung-gunung. Begitupun gunung-gunung itu merupakan benda mati yang terwujud dengan perantaraan, sampai pada Sebab Pertama, yang tidak mustahil lagi.

Jika Anda tidak tahu jumlah perantaraan-perantaraan tersebut, maka hal itu tidak membahayakan Anda. Hanya saja yang mengkhawatirkan bagi diri Anda adalah keterpakuan terhadap ikhtiar perbuatan-perbuatan manusia. Sebab Anda berkata, “Orang yang memberiku makan, sebenarnya ia melakukannya dengan ikhtiarnya. Jika mau, ia memberikannya atau tidak memberikannya. Bagaimana mungkin, aku tidak memandangnya sebagai subyek sebenarnya?”

Keterpalingan Anda itu, seperti perumpamaan ujung jari. Anda melihat garis di atas kertas putih terjadi karena gerak dari pena, sehingga Anda menyandarkan hal itu pada pena. Sebab, biji mata pena yang kecil dan lemah itu tidak memandang pada jari-jemari, tidak juga pada tangan, tidak pada kekuatan yang menggerakkan tangan, pada kemauan dimana kekuatan itu tunduk kepadanya, pada pengetahuan dimana kemauan itu bergantung kepadanya, dan tidak pula kepada Sang Pemilik Kekuasaan, Ilmu dan Iradat itu.

Demikian pula, Anda menisbatkan perbuatan manusia pada kemauan, pengetahuan dan kemampuan mereka, sebab penglihatan Anda tidak dapat memandang pena yang menggoreskan pengetahuan dalam papan-papan kalbu. Penglihatan Anda tidak pula memandang pada jari-jemari yang berakhir pada hati atau kalbu manusia, juga tidak pada Tangan yang membuat adonan tanah bagi penciptaan Adam, tidak pula pada Kekuasaan yang menggerakkan tangan untuk membuat adonan tanah, dan tidak pula kepada Yang Maha Kuasa dimana dari-Nya segalanya berawal dan berakhir.
Yang demikian dikarenakan Anda tidak tahu makna dan pengertian sabda Rasulullah Saw. yang berbunyi:
“Sesungguhnya Allah menciptakan Adam menurut gambaranNya” (Al-Hadis).

Dan pengertian firman Allah Swt. dalam Hadis Qudsi, “Aku mengadoni tanah (untuk penciptaan) Adam dengan tangan-Ku.”
Anda juga tidak tahu makna dari pengertian firman Allah Swt. yang berbunyi:
“Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan pena, Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas.” (Q.S. Al-’Alaq: 4-6).

Pengetahuan Anda tentang pena hanyalah pena yang terbuat dari bambu. Tangan dan jari-jemari yang Anda kenal hanyalah yang terdiri dari daging dan tulang; dan bentuk rupa yang Anda kenal hanyalah yang berwarna-warni dan berbentuk. Jika hal itu telah tersingkap pada diri Anda, niscaya Anda tahu, bahwa jika Anda melempar batu, sebenarnya bukan Anda yang melempar; akan tetapi, Allah-lah yang melempar, dimana pada waktu itu Anda dikuasai oleh motif-motif atau sebab-sebab yang pasti dan nyata, seakan-akan Andalah yang melempar.

Kekuasaan itu lahir sebagai instrumen kehendak, dan pengetahuan sebagai instrumen dan penundukan dan penaklukan. Anda tahu bahwa diri Anda dihadapkan pada realitas pilihan, kemudian jika mau, Anda melakukannya. Anda punya kemauan jika Allah berkehendak, baik pada saat itu Anda mau atau Anda menolak.

Di sini sekarang terdapat rahasia, yang menggerakkan Anda melalui hukum pemaksaan (al-jabru) dan pilihan bebas (ikhtiar). Suatu pandangan yang dikira bertentangan dengan tauhid dan taklif syariat. Kami telah menjelaskan dalam bab “At-Tauhid, wat Tawakkal was Syukr” pada kitab Al-Ihya’. Carilah di sana, bila Anda memang pakar.

Iman dengan hanya bertauhid pada Pekerjaan dan Dzat Allah Swt. tidaklah cukup, sebagai unsur yang mempengaruhi sikap tawakal (halatut-tawakkul), kecuali dalam keimanan tersebut telah terhimpun keyakinan akan kasih-sayang, rahmat dan hikmat Tuhan, dimana dengan hal itu, kebulatan keyakinan menyerahkan diri kepada Allah dapat terwujud. Suatu keyakinan yang nyata, bulat dan pasti. Atau melalui mata batin yang tersingkap pada diri Anda, bahwa jika Allah Swt. menciptakan seluruh makhluk yang memiliki akal paling cerdas dan sempurna, kemudian setelah itu ditambahkan pula kepada mereka dengan ilmu dan hikmat yang berlipat ganda, disingkapkan kepada mereka rahasia kerajaan jagat raya, rahasia detail hikmat dan rahasia baik serta buruk; kemudian mereka diperintahkan untuk mengatur dan mengurusi kerajaan jagat raya ini; niscaya mereka tidak akan dapat mengaturnya sebagaimana Allah Swt. mampu mengaturnya sedemikian rupa. Mereka tidak akan mampu menambah atau mengurangi sayap-sayap nyamuk, tidak akan mampu mencegah penyakit, menolak penyakit, cacat, kekurangan, kemiskinan, marabahaya, kebodohan dan kekufuran.

Mereka tidak akan mampu mengubah ketetapan Allah Swt. dalam masalah rezeki, ajal, kekuatan, kelemahan, kepatuhan dan kedurhakaan. Justru mereka akan menyaksikan bahwa semua itu ditetapkan oleh Allah dengan keadilan murni yang tidak terdapat unsur kelaliman di dalamnya, ketetapan yang pasti tanpa sedikit pun kekurangan, dan konsistensi yang sempurna tanpa penyimpangan dan celah. Bahkan segala hal yang mereka lihat penuh kekurangan ternyata berkaitan erat dengan kesempurnaan hal-hal lainnya yang jauh lebih besar dari hal sebelumnya. Apa yang mereka lihat berbahaya ternyata di balik itu terdapat manfaat yang lebih besar darinya, dan manfaat tersebut tidak dapat digapai kecuali dengan marabahaya tersebut.

Dari sana mereka tahu benar dan kenal secara pasti, bahwa Allah itu Maha Bijaksana, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Allah sama sekali tidak kikir kepada makhluk-Nya dan tidak meremehkan satu perkara pun dalam memperbaiki mereka.

Dan inilah samudera lain dalam ma’rifat. Ombak-ombaknya menggerakkan rahasia takdir, dimana orang-orang ahli mukasyafah dilarang untuk menyebut-nyebutnya, dan banyak orang yang bingung menilainya. Hanya orang-orang alim yang mampu memikirkannya, dan tidak ada yang mampu menafsirkannya, kecuali hanya orang-orang yang mendalam ilmunya (ar-rasikhun).

Hak orang awam adalah, meyakini bahwa setiap hal yang menimpa diri mereka belum tentu untuk menyalahkan mereka, dan setiap hal yang menjadikan mereka berdosa belum tentu jadi musibah mereka. Hal itu wajib terjadi karena ketetapan kehendak azali, tidak ada satu pun yang dapat menolak ketentuan dan ketetapan tersebut, bahkan segala yang kecil dan besar tercatat di dalamnya. Pengejawantahannya dengan ketentuan tertentu, yang ditunggu-tunggu.

‘‘Dan perintah Kami hanyalah satu perkataan seperti kejapan mata.” (Q.S. Al-Qamar: 50).
Pilar kedua: Kondisi tawakal. Maksudnya adalah, Anda menyerahkan urusan Anda kepada Allah Swt, kalbu Anda yakin kepada-Nya, jiwa Anda merasa tentram menyerahkan diri kepada-Nya, dan Anda tidak berpaling kepada selain Allah sepenuhnya. Dalam hal ini Anda serupa dengan orang yang menyerahkan perkaranya kepada orang (pengacara) yang paling pintar dan kuat membongkar kebatilan, untuk dihadapkan di sidang majelis hakim.

Dia percayakan perkara itu kepadanya karena tahu bahwa orang tersebut itu adalah paling mengerti tentang seluk-beluk kebatilan, dan orang yang paling giat untuk menegakkan keadilan. Karena itulah, Anda pasti tenang di rumah, hati Anda merasa tentram tidak ambil pusing dengan perkara perselisihan di pengadilan tersebut. Dia tidak minta bantuan kepada orang lain, karena tahu bahwa si pembelanya itu pasti memenuhi keinginan, dan bahwa dia tidak akan ditentang oleh pihak lain.

Orang yang ma’rifatnya telah sempurna, akan mengetahui bahwa persoalan rezeki, ajal, penciptaan dan kekuasaan itu ada di tangan Allah; Dia itu Maha Tunggal tiada berserikat, dan bahwa kasih, hikmah dan sayang-Nya tanpa batas dan tidak dapat disamai oleh kasih-sayang orang lain. Tentu, kalbunya hanya terpaut kepada-Nya, perhatiannya tidak terarah kepada selain Allah.

Sebaliknya, bila perhatiannya masih terarah pula kepada selain Allah, maka hal tersebut disebabkan oleh salah satu di antara dua faktor berikut:
Pertama, lemahnya keyakinan terhadap hal yang telah kami sebutkan di atas. Keyakinan yang lemah itu timbul karena rasa ragu masih dapat menembusnya, dan karena keyakinan itu tidak mampu menguasai kalbu.

Maut itu merupakan sesuatu yang pasti dan diyakini mesti tiba. Namun bila tidak menguasai kalbu, maka maut itu seperti sesuatu yang meragukan. Sehingga keyakinan terhadap maut itu tidak meyakinkan karena keraguan tersebut.

Kedua, kalbu dalam wataknya yang takut lagi lemah. Takut dan berani adalah dua watak. Rasa takut berakibat pada ketundukan dan kepatuhan jiwa pada angan-angan, padahal angan-angan itu jelas-jelas keliru; bahkan kadang-kadang orang yang takut untuk tidur bersama mayat di atas ranjang atau di sebuah rumah; padahal dia tahu bahwa Allah tidak akan menghidupkannya saat itu, dan kekuasaan Allah atas hal tersebut identik dengan kekuasaan-Nya untuk mengubah tongkat yang di tangannya menjadi ular besar, dimana ia tidak merasa takut pada ular tersebut.
Bahkan terkadang madu diserupakan dengan tinja, sehingga ia menolak untuk menerima dan memanfaatkannya, padahal dia tahu bahwa keserupaan itu adalah keserupaan yang dusta, tidak benar. ini adalah bentuk kelemahan jiwa dan kepatuhannya pada fantasi (baying-bayang/angan-angan).
Sebagaimana manusia tidak lepas dan kondisi semacam itu — walaupun dalam kadar yang lemah — maka dia pun tidak jauh untuk mencapai keyakinan dengan tauhid yang tidak disertai kebimbangan dan keragu-raguan.
Derajat Tawakal
Jika Anda telah tahu bahwa tawakal itu merupakan kondisi kalbu dalam bentuk keyakinan yang bulat kepada Sang Wakil Yang Maha Benar (Allah) dan ketidakpedulian kepada selain-Nya, maka selanjutnya Anda juga harus tahu bahwa tawakal itu memiliki tiga tingkatan, yaitu:

Sebagaimana telah kami sinyalir di atas, yaitu seperti kepercayaan kepada seorang pembela yang mewakilinya dalam sebuah persengketaan. Dimana ia telah yakin betul bahwa sang pembela tersebut sangat mumpuni dalam hal memberikan arahan, mampu mengatasi dan mempunyai rasa belas kasih.
Lebih tinggi dan kuat dari tingkatan pertama. Tingkatan ini serupa dengan kepercayaan anak kecil (bayi) kepada sang ibu dan refleksitasnya untuk minta perlindungan kepadanya setiap kali ada yang menimpanya. Yang demikian itu karena dia percaya akan kasih sayang dan pengayoman ibu. Namun bentuk kepasrahan si anak kecil itu musnah, lantaran terwujud tanpa proses pemikiran dan pertimbangan terlebih dahulu, walaupun bentuk kepasrahannya itu tidak lepas dari semacam pengetahuan. Sedangkan kepasrahan atau tawakal seseorang kepada pembela yang mewakilinya dalam sebuah persengketaan, terlebih dahulu melalui proses pemikiran dan pertimbangan.
Tingkatan yang tertinggi adalah, seorang yang bertawakal (mutawakkil) di hadapan Allah seperti mayit di hadapan orang yang memandikannya, bukan seperti bayi. Sebab, bayi itu selalu lengket pada sang ibu dan selalu membuntutinya.
Akan tetapi, seseorang itu dan satu sisi identik dengan anak kecil (bayi), dia tahu bahwa jika tidak meminta perlindungan kepada ibu, sang ibu justru mengusahakannya. Jika tidak membuntuti ibunya, sang ibu menggendongnya. Bila tidak minta disusui, sang ibu yang memulai untuk menyusuinya.
Jadi, di hadapan Allah orang ini tanpa ikhtiar, karena dia tahu bahwa dirinya sekadar menjalankan ketentuan Allah, tidak ada kesempatan atau upaya baginya, kecuali menunggu apa yang akan terjadi kepadanya. Pada tingkatan ini seseorang menolak untuk berdoa dan meminta kepada Allah.
Pada tingkatan pertama dan kedua, doa serta permohonan masih berlaku.

Pada tingkatan ketiga tidak berlaku perencanaan, begitu juga pada tingkatan kedua, kecuali dalam bentuk ketergantungan pada pihak yang menjadi wakil, yang menjadi tempat bergantung.
Pada tingkatan pertama, tidak berlaku perencanaan dalam bentuk ketergantungan pada selain tempat bergantung Allah), namun jalan dan perintah yang telah ditentukan oleh Sang Wakil (Allah) masih tetap berlaku.

Pilar ketiga: Amal nyata. Kadang-kadang orang-orang bodoh mengira, bahwa persyaratan tawakal adalah menganggur, tanpa berobat, pasrah dan menyerah pada hal yang membahayakan. Ini keliru, sebab yang demikian haram dalam ajaran syariat. Agama memuji tawakal dan menganjurkannya, lalu bagaimana mungkin tawakal itu bisa digapai dengan hal yang dilarang oleh agama?
Realisasinya, bahwa usaha manusia tidak lebih dari empat segi: 1) Mengupayakan kegunaan yang belum ada, 2) Memelihara yang ada, 3) Mencegah marabahaya agar tidak terjadi, 4) Menghilangkan marabahaya.

Yang pertama adalah mengupayakan kegunaan atau hal yang bermanfaat. Dalam hal ini ada tiga faktor: 1) Adanya kepastian, 2) Dugaan yang mendekati pasti secara lahiriah, 3) Angan-angan belaka,

Contoh dari yang sudah pasti: Tangan tidak mengambil makanan, padahal dia lapar, lalu berkata, “Ini adalah suatu usaha, sebab aku adalah orang yang berserah diri.” Atau seseorang menginginkan anak, namun tidak menyetubuhi istrinya, atau menginginkan tanaman, namun tidak menanam benih. Ini semua merupakan tindakan bodoh, sebab Sunnatullah tidak berubah. Allah telah memberi tahu Anda, bahwa keterkaitan sebab-akibat ini merupakan sunnah yang tidak ada gantinya.

Sebenarnya sikap tawakal dalam hal ini dilakukan dengan dua hal:
Pertama, hendaklah Anda tahu bahwa tangan, makanan, benih dan kemampuan untuk menggapainya merupakan kekuasaan Allah Swt.
Kedua, jangan bergantung pada tangan, makanan dan benih, tapi bergantunglah kepada Sang Penciptanya.

Bagaimana bisa bergantung pada tangan, padahal ada kemungkinan terpotong ketika itu atau makanan itu sendiri menjadi basi. Ini merupakan bentuk pengejawantahan dan ucapan Anda, “Laa haula wa laa quwata illa billaah (Tiada daya dan kekuatan, kecuali dengan Allah).”
Daya adalah gerak, dan kekuatan adalah kekuasaan. Jika demikian, Anda adalah orang yang bertawakal walaupun Anda berusaha.

Contoh dari yang berupa dugaan: Membawa bekal ketika mengembara di padang sahara atau ketika menempuh perjalanan jauh. Meninggalkan bekal atau tanpa membawa bekal bukan syarat tawakal, tapi itu merupakan kebiasaan orang-orang terdahulu. Namun yang harus dibuat pegangan adalah bentuk kepercayaan atas karunia Allah dengan mencegah perampokan dan menjaga bekal dan kehidupan serta kemampuan untuk berusaha.

Contoh dan angan-angan: Membatasi diri dan upaya penghidupan dan kehidupan, serta membatasi diri untuk menyimpulkan segala hal yang berhubungan dengan masalah tersebut. Ini adalah buah dari sifat tamak dan rakus, dan hal ini bisa menyeret pada tindakan menerima yang syubhat.

Semua itu bertentangan dengan sikap tawakal. Dalilnya adalah pernyataan Rasulullah Saw, bahwa orang-orang yang bertawakal itu tidak menyembunyikan diri dan merasa lemah. Beliau tidak menyatakan, bahwa mereka tidak berdiam di kota-kota besar dan tidak bekerja. Mengaitkan diri pada sebab, seperti jimat dan mantera-mantera, maka meninggalkannya merupakan syarat tawakal.
Di antara bentuk angan-angan pada faktor-faktor penyebab adalah menyimpan bekal. Jika seorang mutawakkil mewarisi harta-benda dan menyimpannya untuk kebutuhan satu tahun atau lebih, maka tawakal nya batal. Namun jika merasa puas dengan makanan hari ini dan memisahkan sisanya, maka yang demikian itu adalah tawakal yang sebenarnya.

Jika menyimpan untuk kebutuhan empatpuluh hari, tawakalnya batal. Menurut Sahi At-Tastury selain batal, tidak dapat menerima kedudukan terpuji, yang dijanjikan untuk para mutawakkilin. Namun menurut Al-Khawash, tawakalnya tidak batal.

Mereka bersepakat, bahwa lebih dari waktu itu dapat membatalkan tawakal, kecuali bila keluarganya banyak Ia boleh menyimpan makanan bagi keluarganya untuk jangka waktu setahun.
Demikian yang dilakukan oleh Rasulullah Muhammad Saw. dalam memenuhi hak keluarga dan hak diri beliau; beliau tidak menyimpan makanan untuk makan malam dan makanan siangnya. Tidak syak lagi bahwa panjang angan-angan bertentangan dengan tawakal.

Bila jangka waktu penyimpanan tersebut sebentar, yang demikian itu menempati kedudukan lebih tinggi, hanya saja Sunnatullah berjalan seiring dengan berulang-ulangnya rezeki ketika pengulangan tahun. Maka, menyimpan untuk keperluan lebih tinggi dari satu tahun merupakan bentuk kelemahan yang amat sangat dan tidak sedikit pun dapat dikategorikan sebagai sikap tawakal.

Menyimpan cangkir jabung dan perabot rumah boleh-boleh saja, sebab Sunnatullah tidak berlaku dengan pengulangan-pengulangan barang itu seperti pengulangan rezeki. Dan itu dibutuhkan setiap waktu, tidak seperti pakaian musim dingin, pakaian ini tidak terpakai lagi pada musim panas, menyimpannya bertolak belakang dengan sikap tawakal.

Rasulullah Saw. bersabda tentang seorang fakir yang telah dikebumikan, “Bahwasanya, kelak dikumpulkan pada hari Kiamat dan wajahnya seperti rembulan pada malam purnama. Kalau tidak karena satu sifat yang dimilikinya, tentu dia akan seperti matahari yang terang benderang. Dia, bila musim dingin telah tiba, menyimpan pakaian musim panasnya untuk dikenakan pada musim panas.”

Di antara sebab-sebab langsung yang bersifat menolak, seperti tindakan melarikan diri dari binatang buas, lari dari tembok yang miring dan lari menghindari banjir, serta menangkal penyakit dengan obat. Hal ini memiliki tingkatan-tingkatan pula, silakan Anda analogikan dengan apa yang telah kami sinyalir di atas. Kami telah membicarakannya secara panjang-lebar dan menginterpretasikannya dalam kitab Al-Ihya’.

Ketahuilah, bagi orang yang memiliki keyakinan kuat, dan kalbu yang kokoh, tidak menyimpan bekal itu sebagai tindakan terpuji. Sebaliknya, bagi orang berkalbu lemah, dimana bila tidak menyimpan ia gelisah, merasa tidak tentram, pikiran dan tenaganya tidak tercurah pada urusan ibadat, maka jalan paling utama baginya adalah meninggalkan cara hidup para orang yang berserah diri (mutawakkiiin). Jangan membebani diri dengan beban yang di luar batas kemampuannya, sebab kerusakan akan menimpa dirinya lebih besar daripada maslahatnya. Setiap orang hendaklah mengantisipasi sesuai dengan keadaan dan kekuatannya.

Kekuatan maksimal itu batasnya sampai pada kriteria perjalanan jauh di padang sahara tanpa bekal. Ini tentunya bagi orang yang dapat bersabar tidak makan dalam jangka waktu satu minggu dan merasa puas dengan rerumputan, dan itu tidaklah sulit di padang sahara.

Sebaliknya, bila orang lemah melakukan hal itu, berarti ia berbuat maksiat dan mencampakkan diri dalam kebinasaan. Orang kuat yang menahan diri di dalam sebuah gua di sebuah gunung yang tiada rerumputan dan tidak pernah dijamah oleh manusia, haram pula hukumnya, sebab dengan demikian dia telah melanggar dan menantang Sunnatullah yang berlaku pada makhluk-Nya.

Yang demikian boleh dilakukan bila bertepatan berada di padang-padang sahara, sebab biasanya di situ terdapat rerumputan dan kadang-kadang dilewati manusia.

Kecintaan Sang Arif Billah


Syeikh Abdul Qadir Al-Jilany, Selasa sore, 27 Ramadhan 545 H di Madrasahnya
“Setiap cobaan senantiasa menyertai kewalian, agar seseorang tidak gampang mengklaim.” Usaha dan cobaan senantiasa ada, apalagi dalam perspektif orang-orang yang mengaku-aku dirinya. Jika bukan karena adanya cobaan dan ikhtiar, pasti banyak orang yang mengaku jadi wali. Oleh sebab itu sebagian Sufi menegaskan, “Setiap cobaan senantiasa menyertai kewalian, agar seseorang tidak gampang mengklaim.”

Diantara tanda kewalian seseorang adalah kesabarannya menghadapi cobaan dari makhluk yang menyakitkan dan mampu melewatinya. Para wali itu tidak pernah mempedulikan haru biru makhluk, dan tuli dari ucapan-ucapan mereka. Harga dirinya sudah mereka serahkan pada mereka. Dalam hadits disebutkan:
“Cintamu pada sesuatu membuat dirimu buta dan tuli.” (Hr. Abu Dawud dan Imam Ahmad).

Cintailah Allah Azza wa-Jalla, butakan dan tulikan dirimu dari selain Dia Azza wa-Jalla. Mereka yang membuatakan dan menulikan diri dari makhluk itu senantiasa bertemu dengan makhluk disertai kalam yang indah, kasih sayang dan menata jiwa mereka. Kadang-kadang malah marah pada mereka karena takut pada kecemburuan Allah Azza wa-Jalla dan berselaras dengan MarahNya.

Mereka ini adalah para dokter, yang mengetahui bahwa setiap penyakit ada obatnya. Setiap dokter tidak mengobati semua penyakit dengan satu obat saja. Mereka mengobati penyakit hati dari titik pandang hati dan kedalaman batin mereka di hadapan Allah Azza wa-Jalla.

Seperti pada Ashabul Kahfi, dimana Jibril as, membalik situasi jiwa mereka. Dan mereka berada di Tangan Kekuasaan dan Kasih SayangNya, sedangkan kelembutan kasih telah membalik jiwa mereka. Tangan Cinta Kasih telah membalik hati mereka dan mentransformasikan dari situasi ke situasi dunia mereka untuk mencari kehidupan duniawi dan yang lain mencari kehidupan ukhrawi. Sedangkan Allah Azza wa-Jalla, Tuhan mereka, sama sekali tidak bakhil. Bila mereka dimintai harta dunianya, akan mereka berikan. Dan bila diminta pahala akhiratnya, juga mereka berikan. Harta dunia mereka, diberikan kepada fakir miskin, sedangkan pahala akhirat mereka, diberikan kepada orang yang terbatas dalam meraih pahala. Sesuatu yang baru (makhluk) diberikan pada yang baru pula. Mereka menyerahkan apa pun yang bersifat kulit, karena selain Allah Azza wa-Jalla adalah kulit. Sedangkan yang dicari mereka ini adalah isi dan taqarrub.

Sebagian sufi – semoga rahmat Allah padanya – mengatakan, “Tidak ada yang bisa tertawa di hadapan orang fasik kecuali orang yang ‘arif Billah.” Memang, karena dia memerintah dan melarang, bahkan menanggung beban deritanya. Tidak ada yang mampu melakukan ini kecuali orang-orang yang ma’rifat kepada Allah Azza wa-Jalla. Hal ini pun tidak mampu dilakukan oleh para ahli zuhud, para ahli ibadah dan para penempuh.

Bagaimana mereka tidak menyayangi ahli maksiat? Sedangkan ahl8i maksiat itu adalah wilayah bagi maqom taubat dan pengakuan dosa.

Sang ‘arif senantiasa berakhlak dari Akhlaq Allah Azza wa-Jalla. Ia senantiasa berjuang untuk membersihkan orang-orang maksiat dari pengaruh-pengaruh syetan dan hawa nafsu. Bila anda melihat seseorang, yang anaknya ditahan oleh orang kafir, pastilah orang tuanya berjuang membebaskannya. Begitu juga orang arif Billah. Semua manusia seperti anak-anaknya sendiri. Sang arif memberikan wejangan dengan bahasa hikmah, kemudian mengasihi mereka, karena sang arif diberi pengetahuan. Sehingga sang arif melihat Tindakan Allah Azza wa-Jalla pada mereka ini, yang memandang agar keluar dari ketentuan dan takdir, melalui intu hikmah dan pengetahuan. Namun ia tetap menyembunyikan dan merahasian itu.

Sang arif menasehati makhluk dengan kebijakan perintah dan larangan, bukan menasehati dengan pengetahuan rahasia. Allah swt, mengutus Rasul dan menurunkan Kitab, memperingatkan dan menyadarkan makhluk agar ada argumen bagi makhluk dan pengetahuan bagi mereka. Jangan masuk di “dalamnya” juga jangan menentangnya. Ulangi dan bergegas. Ada ketetapan ilmu di dalamnya yang membutuhkan aturan ganda bagimu dan bagi yang lain. Anda membutuhkan pengetahuan khusus. Bila seseorang mengamalkan ilmu dzohir, maka Rasulullah saw, menyuapinya dengan ilmu batin, sebagaimana induk burung menyuapi anaknya. Beliau melakukan itu agar dibenarkan dan diamalkan melalui ucapannya yang dzohir, yaitu syariatnya.

Manusia, bila telah benar, tidak ada lagi yang lebih benar dibanding kebenarannya, dan bila dekat tidak ada yang lebih dekat dibanding kedekatannya, bila bersih tidak ada yang lebih bersih dibanding dirinya.
Orang bodoh melihat dengan mata kepalanya, sedangkan orang pandai melihat dengan mata batin akalnya, sedangkan orang airf melihat dengan mata hatinya, begitu cemerlang bermutiarakan pengetahuan. Maka hendaknya makhluk teguh disana dengan totalitasnya, hingga tenggelam di dalamnya, sampai tak ada yang tersisa kecuali Allah Azza wa-Jalla. Maka disinilah seseorang berkata:
“Dialah Yang Maha Awal dan Maha Akhir, dan Maha Dzohir dan Maha Bathin.” (Al-Hadid 3)

Allah azza wa-Jalla menjadi perspektif awal, akhir, lahir dan batinnya, rupa dan maknanya, tak ada sesuatu pun di sisiNya. Maka disinilah cintanya mengabadi di dunia dan akhirat, berserasi dengan berbagai kondisi, hanya memilih ridhoNya, sedangkan amarah orang lain sama sekali tidak membuatnya bergeming, seperti dikatakan sebagian Sufi, ra: “Berserasilah dengan Allah azza wa-Jalla dalam bergaul dengan makhluk, dan jangan berserasi dengan makhluk ketika bersama Allah Azza wa-Jalla.”

Runtuhlah yang harus runtuh, kokohlah yang kokoh. Syetanmu, nafsumu dan geromobolan jahatmu adalah musuh-musuhmu. Hati-hati jangan sampai anda terjerumus di dalamnya. Belajarlah sampai anda tahu bagaimana melawan musush-musuhmu itu, hingga anda mengertyi bagaimana menyembah Tuhanmu Azza wa-Jalla. Karena orang bodoh itu ibadahnya tidak diterima. (bersambung)

Perilaku Wara'


Syeikh Abul Hasan Asy-Asyadzily
Bahkan, orang-orang yang cerdas bersikap wara’ dari wara’-wara’ tersebut, dan mereka berlindung kepada Allah darinya. Imam Syadzili ditanya tentang wara, beliau menjawab: Wara’ adalah kenikmatan-kenikmatan jalan ini (tasawuf) terhadap orang yang disegerakan warisannya dan ditunda pahalanya. Hingga wara berujung pada mereka dengan cara mengambil hal dari Allah, tentang Allah, pengungkapan dengan Allah, amal karena Allah dan dengan Allah di atas bukti yang jelas dan pandangan batin yang tajam. Mereka dalam kebanyakan waktu dan seluruh keadaan, tidak mengatur, tidak memilih, tidak berangkat, tidak bertafakur, tidak memandang, tidak menuturkan, tidak menggenggam, tidak berjalan, dan tidak bergerak kecuali dengan Allah dan karena Allah Swt.

Ilmu memasuki hakikat perkara melalui mereka. Karena itu, mereka terhimpun di dalam inti perhimpunan, tidak mereka-reka terhadap apa yang lebih tinggi maupun yang lebih rendah. Adapun yang terendah dan paling rendah, maka Allah me-wara kan mereka dan hal itu sebagai pahala atas ke-waraan mereka beserta pemeliharaan terhadap gugatan-gugatan syaniat atas mereka.

Barang siapa yang tidak ada warisan bagi ilmu dan amalnya, maka dia terdinding dari dunia atau terkendali dengan dakwaan. Padahal warisannya adalah ketakwaan untuk akhlaknya, menjadi tinggi dan gagah dengan ilmunya, dan menunjukkan kepada Allah dengan amalnya. Maka, yang demikian itu adalah kerugian yang nyata. Semoga Allah melindungi kita dan hal itu.

Bahkan, orang-orang yang cerdas bersikap wara’ dari wara’-wara’ tersebut, dan mereka berlindung kepada Allah darinya.
Siapa yang dengan ilmu dan amalnya tidak semakin bertambah kefakiran kepada Allah dan tawadhu’ terhadap makhluk-Nya, maka dia orang yang celaka. Mahasuci Allah yang telah memutus banyak orang ahli kesalehan dengan kesalehan mereka dan Dzat Yang Menyalehkan mereka, sebagaimana Dia memutus orang-orang yang berbuat kerusakan dengan kerusakan mereka dan Dzat Yang Menciptakan mereka. Karena itu, minta tolonglah kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

KESAKSIAN-KESAKSIAN
Beliau r.a. berkata: Aku melihat seolah-olah aku sedang duduk bersama para sahabatku di depan guruku. Lalu, guruku berkata kepadaku, “Peliharalah dariku empat pasal; tiga untukrnu dan satu untuk orang yang malang ini: jangan memilih dalam perkaramu sedikit pun, pilihlah untuk tidak memilih, dan larilah dari pilihan tersebut, bahkan larilah dari pelarianmu, dan dari segala sesuatu kepada Allah. ‘Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka.’ (QS. Al-Qashash [281]: 68)’. Seluruh pilihan syariat adalah pilihan Allah, tidak ada bagimu sedikit pun dan kamu mesti melaksanakannya. Karena itu, dengarkan dan taatlah, Inilah letak fiqih rabbani dan ilmu ilhami, yaitu tanah bagi ilmu hakikat yang diambil dari Allah bagi orang yang lurus. Jadi, pahamilah, bacalah, dan ajaklah kepada Tuhanmu. Sesungguhnya kamu di atas petunjuk yang lurus. Dan, jika mereka mendebatmu, maka katakanlah: “Allah Maha Mengetahui apa yang kalian lakukan.”

Kamu harus zuhud terhadap dunia dan bertawakal kepada Allah karena zuhud adalah pangkal dalam amal-amal dan tawakal adalah pokok puncak dalam ahwal. Tegakkan kesaksian dengan Allah dan berpeganglah kepada-Nya dalam ucapan, perbuatan, akhlak, dan ahwal, Siapa yang berpegang teguh kepada Allah, maka dia sungguh telah diberi petunjuk ke jalan yang lurus.
Jauhilah keraguan, kesyirikan, ketamakan, dan sikap protes terhadap Allah sedikit pun. Dan, sembahlah Allah di atas kedekatan yang agung, niscaya kamu akan dianugerahi cinta, pilihan, pengkhususan, dan penanganan dari Allah. Dan, Allah menangani pemeliharaan orang-orang yang bertakwa,”

Kemudian, guruku berkata kepadaku, “Dan yang memutus jiwa si malang ini dan keterhubungan dengan ketaatan kepada-Nya, mendinding hatinya dan perealisasian maknifat kepada-Nya, dan menyibukkan akalnya dari kesaksian-kesaksian pengesaan-Nya adalah dua perkara; masuknya ke dalam amal dunianya dengan pengaturannya dan ke dalam amal akhiratnya di atas keraguan terhadap anugerah-anugerah Kekasihnya. Karena itu, Allah menghukumnya dengan dinding penutupan, keserupaan pengatur-pengatur, dan melupakan penghitungan. Allah Swt menenggelamkannya di lautan pengaturan dan penetapan, dan dia tergantung di dalamnya dengan wara’ pengeruhan. Tidakkah mereka bertobat kepada Allah dan meminta ampun kepada-Nya? Dan, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Oleh karena itu, kembalilah kalian kepada Allah pada awal-awal pengaturan dan penetapan, niscaya kalian akan dianugerahi topangan pemudahan dan dibentangkan penghalang antara kalian dengan penyulitan. Setiap wara’ yang tidak membuahkan ilmu dan cahaya bagimu, maka jangan kamu hitung pahalanya. Setiap keburukan yang dikuntit oleh sikap takut dan lan kepada Allah, maka jangan dipandang beban (dosa) baginya,”

Kemudian, dia memberi isyarat dan berkata, “Ambillah rezekimu di mana Allah menurunkanmu dengan mengamalkan ilmu pengetahuan dan mengikuti sunah. Dan, janganlah kamu naik mendaki sebelum Dia membawamu naik, sehingga tergelincir kakimu,”

Beliau r.a. berkata: Aku berada di Manshurah (provinsi bagian Mesir-penj). Pada tanggal 8 Zulhijah, aku melewati malam dalam kegelisahan karena persoalan kaum Muslimin dan persoalan kawasan perbatasan, maksudku Iskandariah khususnya. Aku berdoa dan bersimpuh kepada Allah tentang perkara Sultan dan kaum Muslimin. Ketika memasuki akhir malam, aku (bermimpi) melihat tenda yang sangat luas, tinggi menjulang ke langit, dan dilingkupi cahaya. Begitu banyak orang berdesakan dari penduduk langit dan penghuni bumi. Mereka semua sibuk terhadapnya.
Aku bertanya, “Milik siapa tenda ini?” Mereka katakan, “Milik Rasulullah SAW.” Aku pun segera mendatanginya dengan penuh kegembiraan. Di depan pintunya aku jumpai sekelompok ulama dan orang-orang saleh sekitar 70 orang. Aku kenali di antara mereka adalah al-Faqih (pakar fikih) Izzuddin bin Abdissalam, al-Faqih Majduddin; pengajar di Qus, al-Faqih Kamal bin al-Qadhi Shadruddin, al-Faqih al-Muhaddits (ahli hadis) Muhyiddin bin Suraqah, al-Faqih al-HakIm Binu al-Hawafiz dan bersamanya dua orang laki-laki yang tidak aku lihat orang yang Iebih elok dari mereka berdua, Dan, aku tidak mengenal mereka kecuali muncul perkiraan padaku dalam mimpi itu bahwa mereka al-Faqih Zakiyuddin bin Abdul Azhim al-Muhaddits dan Syekh Majduddin al-Idhmimi.

Aku ingin melangkah maju kepada Rasulullah Saw, maka aku menekankan diriku dengan kerendahan hati dan kesopanan bersama al-Faqih Izzuddin bin Abdissalam. Dan, aku berkata kepada diriku, “Tidak layak bagimu melangkah maju di antara alim umat pada masa ini.” Lalu, al-Faqih melangkah maju dan seluruh orang mengikutinya, Dan Rasulullah Saw memberi isyarat kepada mereka ke sebelah kiri dan kanan agar mereka duduk.

Aku ikut melangkah maju seraya menangis dalam kegelisahan dan kegembiraan, Gembira, karena kedekatanku dengan Rasulullah Saw dari segi nasab. Sedangkan merasa gelisah, disebabkan persoalan kaum Muslimin dan wilayah perbatasan. Dan, bergerak kerinduan tabiatku kepada beliau Saw. Lantas, beliau mengulurkan tangannya hingga menggenggam tanganku dan berkata kepadaku, “Jangan kamu gelisahkan hingga seperti ini. Kamu mesti menasihati puncak persoalan, yakni Sultan. Karena, jika pemimpin mereka adalah orang yang zalim, maka betapa dia.” (Dan beliau menghimpun jari-jari tangan yang lima dan tangan kirinya seakan-akan beliau menyedikitkan rentang waktu). “Dan jika pemimpin mereka orang yang bertakwa, maka Allah melindungi orang-orang yang bertakwa.” (Dan beliau membentangkan kedua tangannya yang kiri dan kanan).

Adapun kaum Muslimin, maka cukup bagimu (menyerahkan kepada) Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang Mukmin ini, ‘Dan barang siapa mengambil Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang.’ (QS. AI-Maidah [5]: 56)

Adapun Sultan, maka kekuatan dibentangkan kepadanya selama dia memimpin penduduk wilayahnya, bernasihat dalam kepemimpinannya, dan bernasihat terhadap kaum Mukminin dan para hamba-Nya. Karena itu, nasihatilah dia. Dan, katakan dengan tegas pada orang yang zalim: musuh Allah. Dan, tuliskan baginya, “Dan bersabarlah kamu, sesungguhnya janji Allah adalah benar dan sekali-kali janganlah orang-orang yang tidak meyakini (kebenaran ayat-ayat Allah) itu menggelisahkan kamu, “ (QS. Ar-Rum [301]: 60). Lantas, aku berkata, “Kami menang, demi Tuhan Ka’bah.” Dan, aku pun tersadar.

Beliau r.a. berkata: Sebagian orang fakir meminta izin ke padaku untuk menghadiri pengajian. Maka, aku bermaksud dengan hal itu. Lalu, aku melihat guruku r.a. Tangan kanannya memegang buku, di dalamnya ada Al-Quran Al-Azhim dan hadis Rasulullah Saw. Tangan kirinya memegang kertas berisi Untaian puisi pendek. Dia berkata seperti orang mengejek, “Kalian berpaling dari ilmu-ilmu suci kepada ilmu-ilmu para pengikut hawa nafsu yang rendah. Siapa yang memperbanyak melakukan ini maka dia adalah hamba yang diperbudak oleh hawa nafsu, tawanan syahwat-syahwat dan angannya. Bergelora dengannya hati orang yang lalai dari hura-hura, serta orang-orang yang sesat lagi buta. Tidak ada kehendak bagi mereka dalam mengerjakan kebaikan dan mendapatkan ampunan. Mereka meliuk-liuk bergoyang ketika mendengarnya seperti liukan anak-anak. Dan, jika orang yang zalim tidak berhenti, sungguh Allah akan membalik buminya menjadi langit dan langitnya menjadi bumi”

Kondisi perasaan gembira yang amat luar biasa (ekstasi) menimpaku karenanya dan aku berkata kepadanya, “Benar, guruku. Kecuali bahwa nafsu itu sifatnya bumi sedangkan roh itu sifatnya langit” Dia berkata kepadaku, “Benar, Ali. Apabila roh itu mencurahkan hujan ilmu-ilmu dan diri itu kokoh dengan amal-amal saleh, maka tercapai kebaikan seluruhnya. Apabila ego yang menang dan roh kalah, maka akan terjadi kekeringan dan kegersangan, perkara terbalik dan kejahatan seluruhnya muncul.

Karena itu, berpeganglah kamu dengan Kitab Allah yang memberi petunjuk dan sunah Rasul-Nya yang menyembuhkan. Kamu akan senantiasa dalam kebaikan selama mengutamakan keduanya. Sungguh telah ditempa kejahatan orang yang berpaling dari keduanya. Dan, penganut kebenaran (al-Haqq) jika mendengarkan kesia-siaan, mereka berpaling darinya. Dan, jika mendengar kebenaran, mereka menghadap kepadanya. Siapa yang melakukan kebaikan, Kami tambahkan kebaikan baginya
Beliau r.a. berkata: Aku melihat guruku dl bawah ‘Arsy. Malta, aku berkata kepadanya, “Tuanku, aku melihatmu tadi malam di bawah ‘Arsy.” Dia menyahut “Tidak kamu lihat kecuall dirimu sendiri, Ali. Siapa yang bersama Allah tanpa di mana dan bagaimana itu terlihat? Akan tetapi, jika kamu mewarisi kedudukanku, kamu melihatku.”

Sayydidah Nafisah yang Dicintai Warga Mesir


Sufi Wanita Sayyidah Nafisah Yang Dicintai Warga Mesir
Sayyidah Nafisah ialah salah satu keturunan Rasulullah s.a.w.. Beliau puteri Imam Hasan al-Anwar bin Zaid al-Ablaj bin Imam Hasan bin Imam Ali r.a.. Beliau lahir di Makkah, pada 11 Rabiulawal 145H, hidup dan besar di Madinah, meninggal di Mesir.

Hijrah Ke Mesir
Demi keamanan dan ketenangan hidup Sayyidah Nafisah berhijrah ke Mesir bersama suami beliau, Ishaq al-Mu’tasim bin Ja’far as-Siddiq, pada tahun 193H, setelah sebelumnya ziarah ke makam Nabi Ibrahim a.s.. Di Mesir beliau tinggal di rumah Ummi Hani’.

Sayyidah Nafisah menetap di Mesir selama 7 tahun. Penduduk Mesir sangat menyayangi beliau dan percaya akan karamah beliau. Mereka selalu berduyun-duyun mendatangi Sayyidah Nafisah, berdesakan mendengarkan mauizah dan memohon doa beliau. Hal ini membuat suami beliau berfikir untuk mengajaknya pindah ke tanah Hijaz, namun beliau menolak dan menjawab: “Aku tidak bisa pergi ke Hijaz karena aku bermimpi bertemu Rasulullah s.a.w.. Beliau berkata kepadaku: “Janganlah kamu pergi dari Mesir karena nanti Allah akan mewafatkanmu di sana (di Mesir).”
Pribadinya

Sayyidah Nafisah adalah seorang yang sangat kuat beribadah kepada Allah. Siang hari beliau berpuasa sunat sedangkan pada malamnya beliau bertahajjud menghidupkan malam dengan berzikir dan membaca Al Quran. Sayyidah Nafisah sungguh zuhud dengan kehidupannya. Hatinya langsung tidak terpaut dengan kehidupan dunia yang menipu daya. Jiwa beliau rindu dengan syurga Allah dan sangat takut dengan neraka Allah. Disamping itu Sayyidah Nafisah adalah sosok sangat taat kepada suami. Beliau sangat mematuhi perintah suami dan melayan suami beliau dengan sebaik-baiknya.

Sayyidah Nafisah adalah seorang yang terkenal zuhud dan mengasihi manusia yang lain. Pernah satu ketika, beliau menerima uang sebanyak 1000 dirham dari raja untuk keperluan dirinya. Beliau telah membagikan uang tersebut kepada fakir miskin sebelum sempat memasuki rumahnya. Uang hadiah dari raja itu sedikit pun tidak beliau ambil untuk kepentingan dirinya. Semuanya disedekahkan kepada fakir dan miskin. Demikianlah dermawannya Sayyidah Nafisah terhadap fakir miskin.
Keutamaannya

Sayyidah yang mulia ini sudah mendapatkan keutamaan sejak kecil. Suatu ketika, demikian al-Hafiz Abu Muhammad dalam kitabnya Tuhfatul Asyraf bercerita: Al-Hasan, ayahanda Sayyidah Nafisah membawa Nafisah semasa kecil ke makam Rasulullah s.a.w.. Di sini sang ayah berkata : “Tuanku, Bagindaku Rasulullah, ini puteriku. Aku ridha dengannya. Kemudian keduanya pulang. Di malam hari sang ayah bertemu Rasulullah bersabda: “Wahai Hasan Aku ridha dengan puterimu Nafisah kerana keridhaanmu itu. Dan Allah SWT juga ridha kerana ridhaku itu.”

Salah satu keutamaan Sayyidah Nafisah adalah selama hidupnya beliau telah mengkhatamkan al-Quran sebanyak 4000 kali. Selain itu, meskipun tinggal jauh dari tanah suci, beliau melakukan ibadah haji sebanyak 17 kali.

Sayyidah Nafisah dan Imam Syafie
Sejarah sepakat mengatakan bahawa Sayyidah Nafisah semasa dengan Imam Syafie. Keduanya saling menghormati. Di ceritakan bahawa Imam Syafie meriwayatkan hadis dari Sayyidah Nafisah. Setiap berkunjung ke kediaman Sayyidah Nafisah Imam Syafie dan pengikutnya sangat menjunjung tinggi adab sopan santun terhadap beliau.

Imam Syafie setiap tertimpa penyakit selalu mengirim utusan ke Sayyidah Nafisah agar berkenan mendoakannya dengan kesembuhannya. Dan benar, setelah itu Imam Syafie mendapatkan kesembuhan. Ketika Imam Syafie tertimpa penyakit yang menyebabkan beliau wafat, Sayyidah Nafisah berkata pada utusan Imam Syafie: “Semoga Allah memberikan kenikmatan pada Syafie dengan melihat wajahNya yang mulia.”


Karamahnya
Sebelum menceritakan karamah-karamah Sayyidah yang mulia ini, perlu diketahui bahwa suami Sayyidah Nafisah (Ishaq bin al Mu’taman bin Ja’far ash Shadiq) pernah berkeinginan untuk memindah makam beliau ke pemakaman Baqi’ (Madinah). Kemudian penduduk Mesir meminta suami Sayyidah Nafisah untuk mengurungkan keinginannya, karana penduduk Mesir ingin mendapatkan berkah darinya. Akhirnya, pada suatu malam suami Sayyidah Nafisah bermimpi bertemu Rasulullah s.a.w.. Rasulullah bersabda, “Wahai Abu Ishaq, janganlah kamu menentang keinginan penduduk Mesir, karena Allah akan memberikan berkah-Nya kepada penduduk Mesir melalui Sayyidah Nafisah”.



Di antara karamahnya ialah ketika pembantu Sayyidah Nafisah yang bernama Jauharah keluar rumah untuk membawakan air wudhu untuk beliau, pada waktu itu hujan deras sekali. Akan tetapi, tapak kaki Jauharah tidak basah dengan air hujan.

Karamahnya juga ialah, ada sebuah keluarga Yahudi yang tinggal di dekat kediaman Sayyidah Nafisah di Mesir. Keluarga itu mempunyai seorang anak perempuan yang lumpuh. Suatu ketika ibu anak itu berkata: “Nak, kamu mahu apa ? Kamu mahu ke kamar mandi ?. Si anak tiba-tiba berkata: “Aku ingin ke tempat perempuan mulia tetangga kita itu.” Setelah si ibu minta izin pada Sayyidah Nafisah dan beliau memperkenankannya, keduanya datang ke kediaman Sayyidah Nafisah. Si anak didudukkan di pinggir rumah. Ketika datang waktu solat Zuhur, Sayyidah Nafisah beranjak untuk berwudhu’ di dekat gadis kecil itu. Air wudhu’ beliau mengalir ke tubuh anak tersebut. Seperti mendapatkan ilham anak itu mengusap anggota tubuhnya dengan air berkah tersebut. Dan seketika itu juga ia sembuh dan bisa berjalan seperti tidak pernah sakit sama sekali.

Kemudian si anak pulang dan mengetuk pintu. Pintu dibuka oleh ibunya. Dengan heran dia bertanya: “Kamu siapa Nak?” “Aku puterimu.” Sambil memeluk si ibu bertanya bagaimana ini bisa terjadi. Si anak kemudian bercerita dan akhirnya keluarga itu semuanya masuk Islam.
Selain itu, pernah suatu ketika sungai Nil berhenti mengalir dan mengering. Orang-orang mendatangi Sayyidah Nafisah dan memohon doanya. Beliau memberikan selendangnya agar dilempar ke sungai Nil. Mereka melakukannya. Dan seketika itu juga sungai Nil mengalir kembali dan melimpah.

Karamah-karamah beliau setelah wafat juga banyak. Di antaranya, pada tahun 638H, beberapa pencuri menyelinap ke masjidnya dan mencuri enam belas lampu dari perak. Salah seorang pencuri itu dapat diketahui, lalu dihukum dengan diikat pada pohon. Hukuman itu dilaksanakan di depan masjid agar menjadi pelajaran bagi yang lain. Pada tahun 1940, seseorang yang tinggal di daerah itu bersembunyi di masjid itu pada malam hari. Ia mencuri syal dari Kasymir yang ada di makam itu. Namun, ia tidak menemukan jalan keluar dari masjid itu dan tetap terkurung di sana sampai pelayan mesjid datang di waktu subuh dan menangkapnya.

Wafatnya
Al-Sakhawi bercerita, “Ketika Sayyidah Nafisah merasakan ajalnya sudah dekat, beliau menulis surat wasiat untuk suaminya, dan menggali kubur beliau sendiri di rumahnya. Kubur yang digalinya itu ialah untuk beliau sentiasa mengingatkan akan kematian. Kemudian beliau turun ke liang kubur itu, memperbanyak solat dan mengkhatamkan al-Quran sebanyak 109 kali. Kalau tidak mampu berdiri, beliau solat dengan duduk, memperbanyak tasbih dan menangis. Ketika sudah sampai ajalnya dan beliau sampai pada ayat: “Bagi mereka (disediakan) tempat kedamaian (syurga) di sisi Tuhannya dan Dialah Pelindung mereka disebabkan amal-amal soleh yang selalu mereka kerjakan.” (Surah Al-An’am: 127), beliau pengsan kemudian dan menghembuskan nafas terakhir menghadap Sang Maha Kasih Abadi pada hari Jumaat, bulan Ramadhan 208 H.


Sewaktu disembahyangkan sangat ramai orang yang menghadirinya. Sehingga kini maqamnya diziarahi oleh pengunjung dari seluruh pelosok dunia. Demikian kehebatan yang Allah anugerahkan kepada Sayyidah Nafisah yang terkenal dengan kewarakan kepada Allah dan ketaatannya kepada suami. Semoga ianya menjadi contoh buat generasi wanita akhir zaman ini.

[Sumber:http://tokohsufi.wordpress.com/2009/11/09/sayyidah-nafisah/ ]

Masu Neraka pun Tetap Bersyukur


Diriwayatkan pada sebagian kitab Allah swt: Bahwa Jibril as, sedang turun ke bumi. Lantas ia melihat sosok lelaki yang memiliki pancaran

ketenangan.
“Betapa hebat lelaki ini,” kata Jibril.
Kemudian Allah Ta’ala berfirman pada Jibril, “Hai Jibril! Lihat namanya di Lauhul Mahfudz yang berderet dengan nama-nama ahli nereka!”
“Tuhanku, lalu apakah semua ini?” Tanya Jibril.
“Hai Jibril! Sesungguhnya Aku tidak diminati pertanggungjawaban apa yang Kulakukan, dan tak seorang pun tahu dari semua makhlukKu apa pun PengetahuanKu, kecuali yang Aku kehendakinya…” jawab Allah Ta’ala.
“Oh Tuhan, apakah Engkau meberi izin padaku untuk memberi informasi atas apa yang aku ketahui?”
“Silakan, engkau dapat izin…” jawab Allah Ta’ala.



Jibril as lalu turun ke bumi memberi khabar apa yang sesungguhnya terjadi dan bagaimana situasi sebenarnya yang menimpa orang itu. Tiba-tiba orang itu malah bersujud, sembari bermunajat, “Bagimulah segala puji wahai Tuhanku atas ketentuanMu dan takdirMu. Pujian yang melebihi pujian orang-orang yang memujiMu, dan semakin tinggi dibanding syukurnya orang-orang yang bersyukur.”
Orang itu terus memuji Allah Ta’ala hingga Jibril as menduga bila orang tadi tidak mendengar apa yang telah disampaikan.
“Hai hamba Allah, apakah kamu mendengar apa yang kuucapkan?” Tanya Jibril as.
“Ya, aku mendengar. Engkau memberi kabar bahwa engkau telah mendapatkan diriku berada diantara deretan daftar ahli neraka di Lauhul Mahfudz sana…”

“Lalu kenapa masih saja memujiNya dan bersyukur padaNya?” Tanya Jibril penasaran.
“Subhanallah wahai Jibril! Sesungguhnya Allah Ta’ala telah menentukan dengan sepenuh kesempurnaan ilmuNya, dan keluasan rahmat dan kasihNya, dengan kelembutan RububiyahNya, serta hakikat hikmahNya. Lalu apalah artinya aku sampai aku tidak rela? Maha Berkah Allah Tuhanku….”
Lalu orang itu sujud kembali, dan terus menerus bertasbih dan bertahmid.
Kemudian Jibruil as, kembali kepada Allah Ta’ala.

Allah Ta’ala berfirman pada Jibril, “Kembalilah ke Lauhul Mahfudz, dan lihatlah apa yang bakal kau lihat….”
Jibril kembali ke Lauhul Mahfudz, tiba-tiba nama orang tersebut berderet dengan daftar nama-nama ahli syurga.
Allah Ta’ala berfirman, “Hai Jibril! Itulah yang kau lihat, Aku tidak diminta pertanggungjawaban apa yang Aku lakukan.”

“Ya Tuhanku, izinkah aku untuk memberi kabar apa yang kulihat.”
Allah Ta’ala berfirman, “Silakan engkau mendapat izin…”
Lalu Jibril turun dan memberi kabar apa yang dilihat di Lauhul Mahfudz.
Betapa mengejutkan lelaki itu tetap saja sebagaimana semula bermunajat: “Ilahi, bagiMu-lah Puji wahai Tuhan atas qodlo’ dan qodarMu, pujian yang melebihi pujian orang yang memuji dan syukur yang melebihi syukurnya orang yang bersyukur.”
Lalu Jibril kembali dengan penuh kekaguman atas kesempurnaan ridlo orang itu kepada Allah Ta’ala atas apa pun hukum dan aturan yang diberlakukan padanya..

Ahli Neraka Yang Terampuni
Begitu juga sebuah riwayat, bahwasanya Allah Ta’ala memberikan wahyu kepada salah satu NabiNya: “Hendaknya engkau katakan pada hambaKu Fulan bin Fulan, “bahwa kamu ahli neraka..”
Ketika risalah itu sampai kepada si fulan itu, ia justru memuji Allah Ta’ala. “Alhudulillah atas apa yang telah ditentukan padaku. Perkara adalah perkaraNya, dan hukum adalah hukumNya.”
Allah Ta’ala berfirman kepada NabiNya, “Temui sekali lagi, dan berikan kabar padanya bahwa Aku telah mengampunimu sepanjang ia rela atas ketentuanKu.”
Kemudian risalah Ilahi itu disampaikan pada fulan tersebut, lalu ia menjerit dan berakhir dengan kematian.