Senin, 23 Mei 2011

Datuk Kalampayan


Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari

Beberapa penulis biografi Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari, antara lain Mufti Kerajaan Indragiri Abdurrahman Siddiq, berpendapat bahwa ia adalah keturunan Alawiyyin melalui jalur Sultan Abdurrasyid Mindanao.

Jalur nasabnya ialah Maulana Muhammad Arsyad Al Banjari bin Abdullah bin Abu Bakar bin Sultan Abdurrasyid Mindanao bin Abdullah bin Abu Bakar Al Hindi bin Ahmad Ash Shalaibiyyah bin Husein bin Abdullah bin Syaikh bin Abdullah Al Idrus Al Akbar (datuk seluruh keluarga Al Aidrus) bin Abu Bakar As Sakran bin Abdurrahman As Saqaf bin Muhammad Maula Dawilah bin Ali Maula Ad Dark bin Alwi Al Ghoyyur bin Muhammad Al Faqih Muqaddam bin Ali Faqih Nuruddin bin Muhammad Shahib Mirbath bin Ali Khaliqul Qassam bin Alwi bin Muhammad Maula Shama’ah bin Alawi Abi Sadah bin Ubaidillah bin Imam Ahmad Al Muhajir bin Imam Isa Ar Rumi bin Al Imam Muhammad An Naqib bin Al Imam Ali Uraidhy bin Al Imam Ja’far As Shadiq bin Al Imam Muhammad Al Baqir bin Al Imam Ali Zainal Abidin bin Al Imam Sayyidina Husein bin Al Imam Amirul Mu’minin Ali Karamallah wajhah wa Sayyidah Fatimah Az Zahra binti Rasulullah SAW.



Riwayat masa kecil

Diriwayatkan, pada waktu Sultan Tahlilullah (1700 - 1734 M) memerintah Kesultanan Banjar, suatu hari ketika berkunjung ke kampung Lok Gabang. Sultan melihat seorang anak berusia sekitar 7 tahun sedang asyik menulis dan menggambar, dan tampaknya cerdas dan berbakat, dicerita-kan pula bahwa ia telah fasih membaca Al-Quran dengan indahnya. Terkesan akan kejadian itu, maka Sultan meminta pada orang tuanya agar anak tersebut sebaiknya tinggal di istana untuk belajar bersama dengan anak-anak dan cucu Sultan.

Menikah dan menuntut ilmu di Mekkah.

Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari mendapat pendidikan penuh di Istana sehingga usia mencapai 30 tahun. Kemudian ia dikawinkan dengan seorang perempuan bernama Tuan Bajut. Hasil perkawinan tersebut ialah seorang putri yang diberi nama Syarifah.

Ketika istrinya mengandung anak yang pertama, terlintaslah di hati Muhammad Arsyad suatu keinginan yang kuat untuk menuntut ilmu di tanah suci Mekkah. Maka disampaikannyalah hasrat hatinya kepada sang istri tercinta.

Meskipun dengan berat hati mengingat usia pernikahan mereka yang masih muda, akhirnya isterinya mengamini niat suci sang suami dan mendukungnya dalam meraih cita-cita. Maka, setelah mendapat restu dari sultan berangkatlah Muhammad Arsyad ke Tanah Suci mewujudkan cita-citanya. Deraian air mata dan untaian doa mengiringi kepergiannya.

Di Tanah Suci, Muhammad Arsyad mengaji kepada syeikh terkemuka pada masa itu. Di antara guru beliau adalah Syeikh ‘Athoillah bin Ahmad al-Mishry, al-Faqih Syeikh Muhammad bin Sulaiman al-Kurdi dan al-‘Arif Billah Syeikh Muhammad bin Abdul Karim al-Samman al-Hasani al-Madani.

Syeikh yang disebutkan terakhir adalah guru Muhammad Arsyad di bidang tasawuf, dimana di bawah bimbingannyalah Muhammad Arsyad melakukan suluk dan khalwat, sehingga mendapat ijazah darinya dengan kedudukan sebagai khalifah.

Setelah lebih kurang 35 tahun menuntut ilmu, timbullah kerinduan akan kampung halaman. Terbayang di pelupuk mata indahnya tepian mandi yang di arak barisan pepohonan aren yang menjulang. Terngiang kicauan burung pipit di pematang dan desiran angin membelai hijaunya rumput. Terkenang akan kesabaran dan ketegaran sang istri yang setia menanti tanpa tahu sampai kapan penentiannya akan berakhir. Pada Bulan Ramadhan 1186 H bertepatan 1772 M, sampailah Muhammad Arsyad di kampung halamannya, Martapura, pusat Kesultanan Banjar pada masa itu.

Akan tetapi, Sultan Tahlilullah, seorang yang telah banyak membantunya telah wafat dan digantikan kemudian oleh Sultan Tahmidullah II bin Sultan Tamjidullah I, yaitu cucu Sultan Tahlilullah. Sultan Tahmidullah yang pada ketika itu memerintah Kesultanan Banjar, sangat menaruh perhatian terhadap perkembangan serta kemajuan agama Islam di kerajaannya.

Sultan Tahmidullah II menyambut kedatangan beliau dengan upacara adat kebesaran. Segenap rakyatpun mengelu-elukannya sebagai seorang ulama “Matahari Agama” yang cahayanya diharapkan menyinari seluruh Kesultanan Banjar. Aktivitas beliau sepulangnya dari Tanah Suci dicurahkan untuk menyebarluaskan ilmu pengetahuan yang diperolehnya. Baik kepada keluarga, kerabat ataupun masyarakat pada umumnya. Bahkan, sultan pun termasuk salah seorang muridnya sehingga jadilah dia raja yang ‘alim lagi wara’. Selama hidupnya ia memiliki 29 anak dari tujuh isterinya.


Hubungan dengan Kesultanan Banjar

Pada waktu ia berumur sekitar 30 tahun, Sultan mengabulkan keinginannya untuk belajar ke Mekkah demi memperdalam ilmunya. Segala perbelanjaanya ditanggung oleh Sultan. Lebih dari 30 tahun kemudian, yaitu setelah gurunya menyatakan telah cukup bekal ilmunya, barulah Syekh Muhammad Arsyad kembali pulang ke Banjarmasin. Akan tetapi, Sultan Tahlilullah seorang yang telah banyak membantunya telah wafat dan digantikan kemudian oleh Sultan Tahmidullah II bin Sultan Tamjidullah I, yaitu cucu Sultan Tahlilullah.

Sultan Tahmidullah II yang pada ketika itu memerintah Kesultanan Banjar, sangat menaruh perhatian terhadap perkembangan serta kemajuan agama Islam di kerajaannya. Sultan inilah yang meminta kepada Syekh Muhammad Arsyad agar menulis sebuah Kitab Hukum Ibadat (Hukum Fiqh), yang kelak kemudian dikenal dengan nama Kitab Sabilal Muhtadin.

Pengajaran dan bermasyarakat

Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari adalah pelopor pengajaran Hukum Islam di Kalimantan Selatan. Sekembalinya ke kampung halaman dari Mekkah, hal pertama yang dikerjakannya ialah membuka tempat pengajian (semacam pesantren) bernama Dalam Pagar, yang kemudian lama-kelamaan menjadi sebuah kampung yang ramai tempat menuntut ilmu agama Islam. Ulama-ulama yang dikemudian hari menduduki tempat-tempat penting di seluruh Kerajaan Banjar, banyak yang merupakan didikan dari suraunya di Desa Dalam Pagar.

Di samping mendidik, ia juga menulis beberapa kitab dan risalah untuk keperluan murid-muridnya serta keperluan kerajaan. Salah satu kitabnya yang terkenal adalah Kitab Sabilal Muhtadin yang merupakan kitab Hukum-Fiqh dan menjadi kitab-pegangan pada waktu itu, tidak saja di seluruh Kerajaan Banjar tapi sampai ke-seluruh Nusantara dan bahkan dipakai pada perguruan-perguruan di luar Nusantara Dan juga dijadikan dasar Negara Brunai Darussalam.

Karya-karyanya

Kitab karya Syekh Muhammad Arsyad yang paling terkenal ialah Kitab Sabilal Muhtadin, atau selengkapnya adalah Kitab Sabilal Muhtadin lit-tafaqquh fi amriddin, yang artinya dalam terjemahan bebas adalah “Jalan bagi orang-orang yang mendapat petunjuk untuk mendalami urusan-urusan agama”. Syeikh Muhammad Arsyad telah menulis untuk keperluan pengajaran serta pendidikan, beberapa kitab serta risalah lainnya, diantaranya ialah:

• Kitab Ushuluddin yang biasa disebut Kitab Sifat Duapuluh,

• Kitab Tuhfatur Raghibin, yaitu kitab yang membahas soal-soal itikad serta perbuatan yang sesat,

• Kitab Nuqtatul Ajlan, yaitu kitab tentang wanita serta tertib suami-isteri,

• Kitabul Fara-idl, semacam hukum-perdata.

Dari beberapa risalahnya dan beberapa pelajaran penting yang langsung diajarkannya, oleh murid-muridnya kemudian dihimpun dan menjadi semacam Kitab Hukum Syarat, yaitu tentang syarat syahadat, sembahyang, bersuci, puasa dan yang berhubungan dengan itu, dan untuk mana biasa disebut Kitab Parukunan. Sedangkan mengenai bidang Tasawuf, ia juga menuliskan pikiran-pikirannya dalam Kitab Kanzul-Makrifah.

Setelah ± 40 tahun mengembangkan dan menyiarkan Islam di wilayah Kerajaan Banjar, akhirnya pada hari selasa, 6 Syawwal 1227 H (1812 M) Allah SWT memanggil Syekh Muh. Arsyad ke hadirat-Nya. Usia beliau 105 tahun dan dimakamkan di desa Kalampayan, sehingga beliau juga dikenal dengan sebutan Datuk Kalampayan.

Niat


Syekh Abul Hasan Asy-Syadzily

Hakikat niat adalah pengosongan selain yang diniatkan ketika masuk di dalamnya. Sedangkan kesempurnaan niat adalah memprioritaskannya secara penuh. Rasulullah saw. bersabda; “Sesungguhnya amal-amal itu bergantung pada niat-niatnya” Niat sendiri mempunyai posisi, waktu, cara dan arti. Saya meminta Anda agar menjernihkan posisinya, menyelaraskan dalam waktu-waktunya, menjaga cara-caranya dan mendalami arti-artinya.
Saya minta agar Anda benar dalam berjanji, baik dalam tujuan, dan semata karena Allah dalam kehendak, mengagungkan hak ketuhanan, dan mendisiplinkan jiwa sebagai predikat kehambaan.
Posisi niat adalah hati, waktunya adalah ketika memulai amal, dan caranya adalah mengaitkan hati dengan raga.

Sedangkan arti niat ada empat: Bermaksud, bertujuan, berkehendak dan berkemauan. Semuanya berarti satu. Niat sendiri memiliki dua ilustrasi: Menghadapkan hati melalui kebangkitan yang baik di dalamnya. Dan kedua, adalah ikhlas dalam amal semata hanya bagi Allah, semata untuk meraih pahala dan hanya menghadap Allah swt.

Sedangkan makna dari sabda Rasul saw. “Barang siapa baik niatnya maka akan saleh pula amalnya” kebaikan niat antara diri Anda dengan Allah dilakukan melalui tawajjuh (menghadapkan hati) hati dengan cara menga¬gungkan Allah dan mengagungkan perintah Allah, disamping menga¬gungkan substansi perintah itu sendiri. Kebaikan niat ada dian¬tara Anda dengan sesama hamba melalui tawajuh jiwa, dengan mena¬sihati kepada mereka, disertai menegakkan hak asasi mereka, meninggalkan bagian-bagian duniawi, menepiskan hal-hal yang berdimensi materi, disertai sabar dan tawakal kepada Allah swt.

Burung dan Ikan Hiu
Abu Yazid al-Bisthamy ditanya, “Aku dengar anda berjalan di atas air dan terbang di atas udara.”
“Orang beriman lebih memuliakan Allah Azza wa-Jalla ketimbang langit sap tujuh. Apa yang perlu dikagumi dari sekadar berjalan di air dan terbang di udara, seperti posisi burung dan ikan hiu?”

Nabi Musa AS dan Trenggiling
Suatu saat Nabi Musa as melewati pantai sepanjang laut. Lalu ia bermunajat, “Tuhanku, lelah sekali kedua dengkulku, dan berat sekali punggungku. Oh Kekasihku, apa yang hendak kau berlakukan padaku ini?”
Allah pun mengutus binatang Trenggiling untuk menjawabnya.

“Wahai anak Imran, apakah kau berharap pada Tuhanmu, dengan ibadahmu padanya? Bukankah Allah telah memilihmu dan berbicara padamu, dan membuatmu dekat dan mbermunajat padaNya? Demi Yang menciptakanku dan Melihatku, sesungguhnya aku berada di padang sahara ini sejak 360 tahun, selama itu aku bertasbih siang malam, sedikit pun aku tidak berpaling dariNya. Dan sejak tiga hari lalu aku tidak makan. Bahkan setyiap saat gemreteglah tulang-tulangku karena Maha BesarNya.”

Ujian Tawakkal
Abu Said Abul Khair ra menegaskan, “Suatu hari aku menuju pelosok desa, rasa lapar benar-benar mencekam. Nafsuku meronta agar memohon kepada Allah Ta’ala, lalu kukatakan, “Itu bukan perilaku orang yang tawakkal.” Lalu nafsuku menuntutku agar bersabar. Namun ketika aku berhasrat untuk kedua kalinya, ada bisikan lembut:
Adakah ia bodoh bahwa Kami lebih dekat?
Kami tak pernah menelantarkan siapa yang datang kepada Kami
Abu Said ingin memohon sabar
Seakan Kami tak melihatnya dan tidak tahu.

Sebagian Syeikh Sufi mengatakan, “Aku pernah melihat seorang pemuda di Masjidil Haram sedang dalam kondisi menderita dan kelaparan, saya sangat kasihan padanya. Aku punya seratus dinar dalam kantong, lalu kudekati dia. “Hai saying, ini buat kebutuhan-kebutuhanmu…”

Pemuda itu tidak menoleh sama sekali padaku, dan aku terus mendesaknya. Pemuda itu berkata, “Hai Syeikh, dinar ini sesuatu yang tidak bisa aku jual dengan syurga dan seisinya. Syurga itu negeri keagungan, asal sumber keteguhan dan keabadian. Bagaimana aku menjualnya dengan harga yang hina?”

Benteng-benteng Mata Batin
Imam Syadzili r.a. berkata, “Benteng matabatin itu ada empat: ikatan hati bersama Allah, meninggalkan selain Allah, matamu tidak memandang kepada apa yang diharamkan oleh Allah, dan kakimu tidak merambah kepada hal yang tidak ada harapan pahala dari Allah.”

Dia berkata mengutip dari gurunya, “Ada dua keburukan yang banyaknya kebaikan sangat jarang bermanfaat bersamanya: tidak senang terhadap qadha (ketetapan) Allah dan kezaliman terhadap hamba-hamba Allah. Dan, ada dua kebaikan yang banyaknya keburukan sangat jarang memudaratkan bersamanya: ridha terhadap ketentuan Allah dan memaafkan hamba-hamba Allah.”

Beliau r.a. berkata, “Janganlah kamu bersahabat dengan orang yang mengutamakan dirinya atasmu karena ia tercela. Dan, juga dengan orang yang mengutamakan dirimu atas dirinya karena itu tidak akan berlangsung lama. Temanilah orang yang bersamanya selalu ingat kepada Allah. Maka, Allah menerima tobatnya apabila kehilangan, dan mencukupkannya apabila dia menyaksikan, Dzikirnya cahaya dan penyaksiannya pembuka pintu gaib. Jadilah tujuanmu itu Allah dan cintamu bersama kematian di setiap langkah, maka Ia senantiasa berada di depanmu. Jangan kamu menemani orang yang sifatnya begitu, jangan kamu bergantung kepadanya, tolak dia sejak langkah pertama, dan perlakukan dia dengan baik selama pertemanan denganmu,” Beliau r.a. menyampaikan dan gurunya bahwa jiwa itu ada tiga: jiwa yang tidak terjadi jual beli terhadapnya karena kebebasannya, jiwa yang terjadi jual beli padanya karena kemuliaannya, dan jiwa yang terabaikan; tidak ada kebebasan maupun kemuliaan.

Dia berkata, “Siapa yang tidak merasakan keakraban bersama Allah apabila dia berpaling dari-Nya. Siapa yang memberi manfaat atau menyakiti dengan lebih berat dari rasanya apabila mereka menghadap kepada-Nya. Tidak ada sesuatu bersamanya dari keakraban dengan Allah, sedikit maupun banyak. Sesungguhnya di antara amal-amal paling utama itu adalah tekad-tekad dan memenuhi kesetiaan.”

Mengutip dari gurunya, beliau berkata, “Awal yang paling utama itu empat setelah empat: cinta kepada Allah, ridha terhadap keputusan Allah, zuhud terhadap dunia, tawakal kepada Allah, melaksanakan kewajiban-kewajiban dari Allah, menjauhi langan-larangan Allah, sabar terhadap yang tidak berguna, dan wara’ dalam setiap sesuatu yang melalaikan.”

Beliau berkata, “Apabila ego menang dan roh kalah, maka terjadi kekeringan dan kegersangan. Perkara terbalik, dan kejahatan seluruhnya muncul Karena itu, berpeganglah kamu dengan Kitab Allah yang memberi petunjuk dan sunah Rasul-Nya yang menyembuhkan. Kamu akan senantiasa dalarn kebaikan selama mengutamakan keduanya. Orang yang berpaling dari keduanya telah ditimpa kejahatan. Para penganut kebenaran (al-Haqq) itu, jika mendengarkan kesia-siaan, mereka berpaling darinya.

Dan, jika mendengarkan kebenaran, mereka menghadap kepadanya. Siapa yang melakukan kebaikan, Kami tambahkan kebaikan baginya.”

Sabar


Setiap orang Mukmin mampu bersabar terhadap bencana yang menimpanya, namun tidak dapat bersabar atas kesenangan yang dianugerahkan kepadanya, kecuali orang yang benar (orang yang jujur)

Allah Swt. berfirman:
“Dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Q.s. Al-Anfal: 46)

Ada beberapa hal yang dikaruniakan untuk orang-orang yang sabar, dan tidak diberikan kepada selain mereka.
Allah Swt. berfirman:
“Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Q.s. Al-Baqarah: 157).

“Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dan apa yang telah mereka kerjakan.” (Q.s. An-Nahl: 96).

“Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar.” (Q.s. As-Sajdah: 24).

Firman Allah Swt, “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (Q.s. Az-Zumar: 10).

Allah Swt. menyebutkan kata “sabar” dalam Al-Qur’an lebih dari tujuh puluh tempat.

Rasulullah Saw. bersabda, “Sabar itu separo dari iman.”
Rasulullah Saw. juga bersabda, “Di antara yang terbatas (paling sedikit) yang diberikan kepada kalian adalah keyakinan dan kesabaran yang kokoh. Barangsiapa mendapatkan bagian dari kedua hal tersebut, dia selalu memperhatikan bangun malam dan puasa siang.”

“Sabar merupakan salah satu simpanan dari simpanan-simpanan surga.”

Pada suatu kesempatan Nabi Muhammad Saw. ditanya tentang iman, beliau menjawab, “lman itu adalah sabar.”

Nabi Isa as. pernah bersabda, “Sungguh, kalian tidak akan mengetahui apa yang kalian senangi, kecuali dengan kesabaran kalian atas apa yang kalian benci.”

Esensi Sabar
Esensi sabar adalah, keteguhan yang mendorong hidup beragama, dalam menghadapi dorongan hawa nafsu. Itu adalah salah satu karakteristik manusia yang terkomposisi dari unsur malaikat dan unsur binatang. Binatang hanya dikuasai oleh dorongan-dorongan nafsu birahi, sedangkan para malaikat tidaklah dikuasai oleh hawa nafsu. Mereka semata-mata diarahkan pada kerinduan untuk menelusuri keindahan hadirat ketuhanan dan dorongan ke arah derajat kedekatan dengan-Nya.

Mereka bertasbih menyucikan Allah Swt. sepanjang siang dan malam tiada henti. Pada diri mereka tidak terdapat dorongan-dorongan hawa nafsu. Sementara pada diri manusia dan binatang tidak terdapat sifat sabar, bahkan manusia itu cenderung dikuasai oleh dua macam pasukan yang saling menyerang dan berebut untuk menguasainya. Salah satunya, pasukan Allah dan para malaikat-Nya, berupa akal pikiran berikut seluruh instrumennya. Yang kedua, dari pasukan setan, yaitu hawa nafsu dan seluruh instrumennya, setelah adanya informasi unsur pendorong agama dan akal. Sebab, pandangannya terpaku pada akibat-akibat sesudahnya.

Serangan dimulai dengan memerangi pasukan setan. Jika pendorong agama lebih kuat dalam menghadapi pendorong hawa nafsu, hingga dapat mengalahkannya, maka berarti telah mencapai tingkatan sabar. Sabar itu tidak akan pernah terwujud, kecuali setelah terjadinya perang antara kedua pendorong tersebut. Hal ini identik dengan kesabaran saat meneguk obat pahit yang didorong oleh dorongan-dorongan akal pikiran, namun dicegah oleh dorongan-dorongan hawa nafsu. Setiap orang yang dikalahkan oleh hawa nafunya, tidak akan menelan obat pahit tersebut, sebaliknya orang yang akal pikirannya dapat mengalahkan hawa nafsunya, ia mampu bersabar dengan rasa pahit obat itu agar bisa sembuh. Separo keimanan itu akan terpenuhi dengan kesabaran, karena itulah Rasulullah Saw. bersabda, “Sabar itu separo dan iman.”

Karena keimanan itu dikaitkan pada pengetahuan dan perbuatan sekaligus. Sedangkan seluruh amal perbuatan yang membentangkan dua sisi; preventif dan ekspresif penyucian dan penghiasan diri hanya bisa tuntas dan sempurna dengan kesabaran. Sebab sejumlah perbuatan iman selalu berhadapan dengan dorongan hawa nafsu. Karenanya, perbuatan iman tidak dapat sempurna, kecuali dengan peneguhan pendorong agama dalam menghadapi hawa nafsu. Itulah sebabnya, Rasulullah Saw. bersabda, “Puasa itu adalah separo dari kesabaran.”

Karena sabar itu kadang-kadang berhadapan dengan dorongan-dorongan hawa nafsu dan terkadang pula berhadapan dengan dorongan-dorongan amarah; sedangkan puasa berfungsi sebagai penghancur dan pemusnah hawa nafsu.

Derajat Kesabaran

Ditinjau dan kuat dan tidaknya, kesabaran itu terdiri atas tiga tingkatan:
Tingkatan tertinggi adalah terkekangnya seluruh dorongan hawa nafsu hingga tidak memiliki kekuatan sama sekali untuk kontra. Hal ini dicapai dengan kesabaran yang kontinyu dan mujahadah yang terus-menerus. Mereka itu termasuk dalam golongan yang disinyalir (dalam Al-Qur’an):

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, ‘Tuhan kami adalah Allah,’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka,” (Q.s. Fushshilat: 30, Al-Ahqaf: 13).

Kepada golongan tersebut Sang Penyeru berseru:
“Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas dan diridhai-Nya.” (Q.s. Al-Fajr: 27-8).

Tingkatan terendah adalah kokohnya dorongan-dorongan hawa nafsu dan tersisihnya dorongan agama. Hawa nafsu memenangkan kompetisi ini, sehingga kalbu pun menyerah pada pasukan setan, Mereka yang demikian itu termasuk dalam golongan yang disinyalir oleh Al-Qur’an:
”Akan tetapi, telah tetaplah perkataan (ketetapan) dari padaKu, ‘Sesungguhnya akan Aku penuhi neraka Jahannam itu dengan jin dan manusia bersama-sama’” (Q.s. As-Sajdah: 13).

Ada dua indikasi dalam hal ini, yaitu:
Pertama, seseorang selalu berkata, ”Aku sangat butuh dan rindu tobat, namun itu sangat menyulitkan bagiku. Karenanya, aku tidak bersikeras untuk tobat.”
Orang yang demikian adalah orang yang putus asa, dan dia adalah orang yang binasa.

Kedua, dalam dirinya tidak terdapat rasa rindu untuk tobat, namun ia berkata, “Allah Maha Mulia, Maha Dermawan lagi Maha Pengasih. Dia tidak butuh tobatku, sehingga surga yang luas itu tidak akan jadi sempit dan ampunan masih sangat luas bagiku.”

Orang yang demikian adalah orang yang patut dikasihani. Akal pikirannya menjadi tawanan hawa nafsunya, digunakan semata untuk menyiasati pengetrapan hawa nafsu, sehingga akal pikirannya menjadi seperti seorang Muslim yang dikepung dan ditawan oleh orang-orang kafir, mereka menghina dan mencemoohnya di kandang babi.

Dapat Anda bayangkan, bagaimana kira-kira nasib seorang budak bila diambil oleh anak tuannya yang paling keras, kemudian diserahkan kepada musuhnya yang paling bengis, hingga ia mencemooh dan menghinakan si budak tersebut?

Begitu pula keadaan dan nasib si alpa yang benar-benar lalai, karena mengabaikan Allah. Na’udzubillah dari situasi seperti itu!

Tingkatan pertengahan adalah orang yang tidak bersungguh-sungguh melakukan penyerangan. Dalam peperangan itu, kemenangannya silih berganti. Adakalanya dia menang, tapi pada saat lain dia kalah. Inilah para mujahid yang disebut:

”(mereka) mencampur-baurkan pekerjaan yang baik dengan pekerjaan lain yang buruk...” (Q.s. At-Taubah: 102).

Indikasinya, dia mampu meninggalkan hawa nafsu yang terlemah, namun tidak mampu mengalahkan hawa nafsu yang paling kuat. Mungkin, pada suatu saat ia mampu mengalahkan dan menang, tapi saat lain tiada berdaya dan kalah.

Dalam segala hal, ia sangat letih karena ketidakberdayaannya, terus melakukan perlawanan, untuk berjuang dan mengenyahkannya. Itulah sebenarnya yang merupakan jihad akbar atau perjuangan besar.

Sepanjang dia bertaqwa dan membenarkan adanya pahala terbaik (surga), maka Allah kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.

Dengan demikian, ia tidak mampu mengalahkan unsur kebinatangannya; kekuatan akal pikirannya tidak mampu melawan hawa nafsunya. Padahal ia telah didukung oleh akal pikiran, dan unsur kebinatangannya diharamkan.

Karena itulah, Allah Swt. berfirman, “Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).” (Q.s. Al-A’raaf: 179).


Kebutuhan Sabar
Kebutuhan akan sifat dan sikap sabar berlaku umum dalam segala hal. Karena segala peristiwa yang ditemui oleh seorang hamba dalam hidup ini, tidak lepas dari dua bentuk. Pertama, ia sepakat dengan hawa nafsunya. Kedua, bertentangan dan bertolak belakang dengan hawa nafsunya.

Jika ia mampu menyelaraskan dengan kesenangannya, seperti kesehatan, kesejahteraan, kekayaan, jabatan, kedudukan dan banyak anak. Betapa itu semua sangat membutuhkan sabar. Bila (seseorang) tidak mampu menahan hawa nafsunya, ia akan bersikap congkak bersenang-senang dan selalu mengikuti hawa nafsu; sehingga ia melupakan awal dan akhirnya, ujung dan pangkalnya. Karena itu, para sahabat —semoga Allah meridhai mereka— berkata, “Kami diuji dengan kesengsaraan, maka kami dapat bersabar. Kami juga diuji dengan kesenangan, lalu kami tidak mampu bersabar.”

Itulah sebabnya dinyatakan, “Setiap orang Mukmin mampu bersabar terhadap bencana yang menimpanya, namun tidak dapat bersabar atas kesenangan yang dianugerahkan kepadanya, kecuali orang yang benar (orang yang jujur).”

Bersabar terhadap kemewahan, artinya tidak cenderung kepadanya, dia sadar sepenuhnya bahwa itu merupakan titipan baginya. Anugerah kebahagiaan itu mampu mengantarkannya pada (maqam) kedekatan kepada-Nya. Dia tidak larut dalam kenikmatan dan kelalaian, dia memenuhi hak bersyukur atas nikmat. Untuk itu penjelasannya amat panjang.

Sedangkan sabar, yang bertentangan atau bertolak belakang dengan hawa nafsu ini terbagi menjadi empat macam:

Pertama: Sabar dalam taat.
Nafsu sering berpaling dari sebagian bentuk ketaatan, seperti rasa malas dalam salat, sifat kikir dalam zakat; dan rasa malas serta kikir secara bersamaan, dalam haji dan jihad. Bersabar dalam taat, merupakan suatu perbuatan yang sangat berat dan sulit.

Seorang yang taat membutuhkan kesabaran dalam tiga hal:
Mengawali ibadat dengan rasa ikhlas, bersabar dari kotoran-kotoran riya’, tipudaya setan dan tipudaya nafsu.

Ketika beramal, atau di tengah-tengah melaksanakan ibadat, diperlukan kesabaran. Agar tidak malas untuk mewujudkan segala rukun dan sunnah-sunnahnya. Dilaksanakan dengan tata aturan yang benar disertai dengan adab dan kehadiran hati serta membuang was-was.

Setelah melaksanakan ibadat, ia hendaknya bersabar untuk tidak menyebutkan dan menyebarluaskan amaliahnya, baik itu dengan niatan riya’ ataupun agar didengar orang lain (sum’ah).
Semua itu merupakan sikap yang sangat berat untuk mengalahkan nafsu.

Kedua: Sabar terhadap maksiat.
Rasulullah Saw. telah bersabda, “Seorang pejuang adalah orang yang memerangi hawa nafsunya, dan orang yang hijrah itu adalah orang yang meninggalkan keburukan.”

Bersikap sabar terhadap maksiat lebih berat dan sulit lagi, apalagi terhadap maksiat yang sudah menjadi watak kebiasaan. Sebab, pasukan yang muncul untuk menghadapi dorongan-dorongan keagamaan di sini terdiri dari dua lapisan; pasukan hawa nafsu dan pasukan watak kebiasaan.

Bila keduanya dianggap sepele, maka yang dapat bersabar terhadap kebiasaan tersebut hanyalah orang yang berlaku benar (as-shiddiq). Maksiat lisan misalnya, mudah dan sepele, seperti ghibah, dusta, percekcokan, dan berbangga diri. Ini semua sangat membutuhkan ragam sabar yang paling tangguh.

Ketiga: Sabar terhadap hal yang tidak berkaitan dengan ikhtiar hamba, namun dia berikhtiar pula dalam menangkal dan memperbaikinya.

Seperti gangguan dari orang lain, baik itu dengan tangan atau lisan. Bersabar terhadap hal tersebut, dilakukan dengan tanpa membalas. Sikap tersebut kadang-kadang wajib dan terkadang juga sunnah.

Sebagian sahabat berkata, “Kami tidak menganggap keimanan seseorang itu sebagai keimanan, bila dia tidak dapat bersabar terhadap gangguan orang lain.”

Allah Swt. berfirman:
“Dan kami sungguh-sungguh akan bersabar terhadap gangguan-gangguan yang kamu lakukan kepada kami. Dan hanya kepada Allah saja orang-orang yang bertawakal itu berserah diri,” (Q.s. Ibrahim: 12).

“janganlah kamu hiraukan gangguan mereka dan bertawakallah kepada Allah.” (Q.s. Al-Ahzab: 48).

“Dan Kami sungguh-sungguh mengetahui, bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan apa yang mereka ucapkan, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah kamu di antara orang-orang yang sujud (salat).” (Q.s. Al-Hijr: 97-8).

Ke empat: Sabar terhadap peristiwa yang awal dan akhirnya, yang tidak masuk kategori ikhtiar.
Seperti halnya aneka ragam musibah, meninggalnya beberapa orang tercinta, musnahnya harta-benda, sakit dan penyakit, kehilangan sebagian anggota badan, dan berbagai petaka lainnya. Bersabar terhadap hal tersebut merupakan derajat yang tertinggi.

Ibnu Abbas berkata, “Sabar dalam Al-Qur’an terdiri dan tiga tingkatan (maqam): Bersabar dalam melakukan kewajiban-kewajiban, memiliki tiga ratus derajat; bersabar terhadap larangan-larangan Allah memiliki enam ratus derajat; dan bersabar terhadap musibah, ketika goncangan pertama, memiliki sembilan ratus derajat.”

Rasulullah Saw. bersabda, ”Allah Swt. berfirman, ‘Bila Aku memberi cobaan kepada hamba-Ku dengan suatu musibah, lalu dia bersabar dan tidak mengadukan kepada para penjenguknya, maka Aku menggantikan baginya daging yang lebih baik dari dagingnya, dan darah yang lebih baik dari darahnya. Jika Aku menyembuhkannya, Aku menggantinya dan dia pun tidak punya dosa, dan jika Aku mematikannya, maka dia berpulang ke rahmat-Ku’.”

Rasulullah Saw juga bersabda, ”Allah Swt. berfirman, Apabila Aku hadapkan kepada salah seorang hamba-Ku suatu musibah pada tubuhnya atau pada hartanya, atau pada anaknya. Kemudian dia menerimanya dengan kesabaran yang simpatik, baik, maka pada hari Kiamat Aku malu untuk menegakkan timbangan amal baginya atau untuk nembentangkan sebuah catatan untuknya’.”

Rasulullah saw. bersabda, “Menunggu kelapangan dengan sabar adalah ibadat.”

Sabdanya pula, “Di antara bentuk pengagungan Allah swt. dan pengenalan terhadap hak-Nya adalah, kalian tidak mengadukan sakit kalian dan tidak menyebutkan musibah yang menimpa diri kalian”

Anda telah paham, bahwa diri Anda membutuhkan kesabaran kapan saja. Dengan demikian, sabar itu adalah setengah dan iman, sedangkan setengahnya lagi berkaitan dengan amal perbuatan, yaitu syukur.

Rasulullah Saw. telah bersabda, “Iman itu terdiri dan dua bagian: Bagian pertama adalah sabar, bagian kedua adalah syukur”.

Syukur


Al-Ghazali

Allah Swt. telah berfirman: ”Dan sedikit sekali dan hamba-hamba-Ku yang berterima kasih.” (Q.s. Saba’: 13), “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu.” (Q.s. Ibrahim: 7).

Ketika bertahajjud Rasulullah Saw. menangis, lalu Aisyah r.a. bertanya, “Apa yang menyebabkan Rasulullah menangis, bukankah Allah telah mengampuni dosa-dosa Anda yang terdahulu dan yang akan datang?”

Rasulullah Saw. Menjawab, ”Apakah aku tidak akan menjadi hamba yang bersyukur?”
Rasulullah Saw juga bersabda, ”Pada hari Kiamat diserukan kepada orang-orang yang suka memuja Allah, agar bangun. Maka bangkitlah segolongan manusia, lalu ditegakkan sebuah panji bagi mereka, kemudian mereka masuk surga.” Ditanyakan kepada beliau, “Siapakah orang-orang yang suka memuji itu?” Beliau menjawab, “Mereka yang selalu bersyukur kepada Allah setiap saat.”
Sabdanya, “Pujian itu merupakan pakaian Yang Maha Pengasih.”

Maqam Syukur
Syukur termasuk maqam yang tinggi. Maqam syukur lebih tinggi dari sabar, khauf, zuhud dan maqam-maqam lainnya yang telah disinyalir sebelumnya. Sebab, maqam-maqam itu tidak diproyeksikan untuk diri sendiri, tapi untuk pihak lain. Sabar misalnya, ditujukan untuk menaklukkan hawa nafsu, khauf merupakan cambuk yang menggiring orang yang takut menuju maqam-maqam yang terpuji, dan zuhud merupakan sikap melepaskan diri dari ikatan-ikatan hubungan yang bisa melupakan Allah Swt. Sedangkan syukur itu dimaksudkan untuk diri sendiri, karenanya, ia tidak terputus di dalam surga. Sedangkan maqam-maqam lainnya, tobat, khauf, sabar dan zuhud tidak ada lagi di surga. Maqam-maqam itu telah terputus dan habis masa berlakunya. Beda dengan syukur, ia abadi di dalam surga. Itulah sebabnya Allah Swt. berfirman:
“Dan penutup doa mereka (penghuni surga) ialah, ‘Alhamdulillahi Rabbil Alaamiin (Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam)’.” (Q.s. Yunus: 10).

Anda akan mengetahui hal tersebut, jika Anda telah mengerti tentang hakikat syukur itu sendiri yang terdiri dari tiga rukun: Ilmu, tingkah laku dan amal.

Rukun pertama: Ilmu
Ilmu dalam konteks ini berarti mengetahui dan mengerti tentang nikmat dari Dzat Pemberi nikmat. Seluruh nikmat berasal dari Allah Swt, Dia-lah Yang Maha Tunggal. Seluruh perantaranya merupakan obyek yang ditundukkan. Pengetahuan dan pengertian semacam ini ada di belakang penyucian dari tauhid. Keduanya masuk dalam kategori syukur; bahkan tahap pertama dalam pengertian atau pengenalan iman adalah penyucian (taqdis).
Jika telah mengenal Dzat Yang Qudus, Anda telah tahu bahwa Yang Qudus itu tiada lain hanyalah Dzat Yang Esa, maka inilah yang disebut tauhid.
Kemudian, jika Anda telah mengerti bahwa seluruh yang ada di alam semesta ini merupakan hal yang diciptakan dan bersumber dari Yang Maha Tunggal itu, dan seluruhnya merupakan nikmat dari-Nya, maka itulah yang disebut pujian (al-hamdu).

Dengan struktur sedemikian rupa, diisyaratkan dalam sabda Rasulullah Saw: “Barangsiapa mengucapkan Subhanallah (Maha Suci Allah), baginya sepuluh kebaikan, dan barangsiapa mengucapkan La Ilaha Illallah (tiada Tuhan selain Allah), baginya duapuluh kebaikan, dan barangsiapa mengucapkan Alhamdulillah (segala puji bagi Allah), maka baginya tigapuluh kebaikan.”

Yang demikian itu, karena penyucian dan pentauhidan, sekaligus masuk dalam lingkup pujian terhadap Allah Swt. Derajat-derajat itu dikriteriakan dengan pengetahuan tentang struktur tersebut. Sementara keutamaan gerak ucapan, bergantung pada titik tolak peluncurannya dan pengetahuan atau bergantung sejauhmana ucapan itu mampu memperbaharui akidah dalam kalbu. Sebab, mulut merupakan sarana untuk menafIkan kelalaian agar pengaruh kealpaan itu bisa musnah.

Jika Anda berkeyakinan, bahwa ada pihak lain selain Allah mempunyai peran dalam nikmat yang tercurah kepada Anda, maka pujian Anda tidak sah dan tidak benar, sehingga ma’rifat dan syukur Anda tidak sempurna.

Anda serupa dengan orang yang memperoleh hadiah dari raja. Orang itu melihat bahwa dalam pemberian hadiah tersebut terdapat campur tangan seorang menteri. Karena turut mempermudah dan mempercepat pemberian hadiah tersebut. Semua itu merupakan dualisme dalam nikmat. Ketika menerima nikmat itu, rasa gembira anda mendua; kepada si perantara dan kepada Sang Maha Pemberi.

Benar, jika Anda misalnya, melihat bahwa anugerah hadiah kepada Anda karena penandatanganan sang raja dengan penanya, maka pena itu jangan sampai mengurangi kadar syukur Anda. Sebab, Anda tahu bahwa pena tersebut tunduk dan ditundukkan oleh-Nya.
Jadi, pena tersebut tidak ikut campur tangan dan melakukan intervensi apa pun dalam nikmat. Sebab itu, janganlah kalbu Anda mendua, mengarahkan rasa gembira pada pena dan mengarahkan rasa syukur kepada sang raja. Karena itu pula, kadang-kadang tidak menoleh kepada bendahara dan wakilnya, yang dia tahu bahwa mereka berdua tunduk dan terpaksa memberi setelah adanya perintah. Keduanya tertundukkan atau tertaklukkan. Namun keduanya tidak berperan serta (turut campur tangan) dalam penganugerahan nikmat atau hadiah.

Begitu pula bila matahati seseorang telah terbuka. Ia tahu bahwa matahari, bulan dan bintang-bintang ditundukkan dengan perintah Allah Swt, seperti halnya pena, kertas dan tinta ketika dibuat penandatanganan. Hati manusia adalah perbendaharaan ilmu Allah, kunci-kuncinya ada di tangan Allah Swt. Lalu Allah membuka perbendaharaan tersebut dengan menundukkan beberapa perantara yang pasti, hingga yakin bahwa kebaikan perbendaharaan itu terdapat dalam penyerahan, misalnya. Ketika demikian, penyerahan itu tidak bisa ditinggalkan. Karena itu, ia terdesak dan perlu memilih faktor-faktor ikhtiar tersebut, sebab tidak seorang pun memberi sesuatu kepada Anda, kecuali untuk tujuan pribadi, yaitu untuk suatu keuntungan tertentu di masa yang akan datang dan untuk mendapatkan pujian pada saat itu pula, atau tujuan-tujuan lainnya. Dan andaikata dia tidak tahu, bahwa keuntungan dirinya tiada bermanfaat bagi diri Anda, dia tidak akan memberi sesuatu kepada Anda. Jadi, dia itu bukanlah pemberi nikmat atau anugerah kepada Anda, sebab dengan pemberian itu ia mempunyai rencana dan usaha tersendiri bagi kepentingan dirinya. Pemberi nikmat yang sebenarnya kepada Anda itu adalah, yang mampu menundukkan seluruh faktor atau sebab kepadanya. Dia juga menyatakan pada dirinya, bahwa tujuannya bergantung pada penunaian dan pemberian nikmat.

Jika Anda telah paham dan mengerti tentang persoalan di atas, Andalah seorang yang bertauhid dan bersyukur, bahkan pemahaman dan pengertian semacam ini merupakan inti syukur.
Nabi Musa as. dalam munajat beliau pernah berkata, “Tuhanku, Engkau menciptakan Adam dengan tangan-Mu sendiri, kemudian Engkau kerjakan, Engkau kerjakan sendiri. Lalu jika demikian, bagaimana mensyukuri-Mu?”
Allah Swt. menjawab, “Dia cukup tahu bahwa hal itu berasal dari Ku, pengertiannya merupakan syukur (kepada-Ku).”


Rukun kedua: Tingkah laku ruhani
Tingkah laku ruhani ini merupakan buah dari pengetahuan di atas. Yaitu, rasa syukur kepada Sang Pemberi nikmat yang disertai dengan ketundukan dan pengagungan.



Orang yang dihadiahi seekor kuda oleh seorang raja, rasa gembira muncul dari tiga hal. Pertama, gembira karena bisa memperoleh manfaat dari kuda tersebut. Kedua, gembira karena hal tersebut merupakan pertanda, bahwa sang raja sangat memperhatikannya. Dia akan diberi hadiah lebih besar lagi dari sekadar seekor kuda. Ketiga, bahwa agar kuda itu menjadi kendaraannya untuk menghadap raja dan mengabdi kepadanya.
Sasaran sikap pertama, bukanlah bentuk syukur. Itu sekadar rasa gembira terhadap nikmat, bukan rasa syukur terhadap sang pemberi nikmat. Sikap kedua, dikategorikan syukur, namun syukur yang lemah jika dibanding dengan sikap ketiga. Sasaran dengan sikap ketiga itu menunjukkan, bahwa syukur yang sempurna adalah, rasa syukur atas karunia atau dibukanya pintu nikmat oleh Allah. Bukan rasa syukur yang berupa kegembiraan terhadap nikmat, dan perspektif nikmat itu sendiri, yang terkadang malah melalaikan Allah swt. Tetapi dari sisi, bahwa nikmat itu merupakan perantara kepada-Nya, sebab dengan nikmat itulah kebaikan-kebaikan menjadi sempurna.

Tanda-tandanya adalah, dia tidak bersuka cita dengan segala macam nikmat yang dapat melupakan dirinya kepada Allah Swt, tapi justru bersedih karenanya. Ia justru bersuka cita karena adanya larangan-larangan Allah yang berupa kesibukan dengan urusan duniawi dan segala bentuk kenikmatannya. Inilah bentuk syukur yang paling sempurna.
Orang yang tidak bisa merealisasikan syukur dengan versi yang sempurna ini ia wajib bersyukur dengan versi kedua.
Sedangkan syukur dengan versi pertama, bukanlah syukur. Itu sekadar rasa gembira terhadap nikmat yangjatuh ke tangannya, bukan rasa syukur kepada Sang Pemberi nikmat.

Rukun ketiga: Amal
Artinya, dengan nikmat tersebut untuk mencintai-Nya, bukan durhaka kepada-Nya. Yang demikian ini, hanya dipahami orang yang mengenal hikmah Allah kepada seluruh makhluk-Nya. Mengapa Dia menciptakan segala sesuatu? Penjelasan tentang hal ini sangat panjang. Uraiannya penulis jelaskan dalam kitab Al-Ihya’. Antara lain, misalnya dia harus tahu, bahwa mata sendiri adalah nikmat dari Allah. Mensyukuri mata adalah menggunakannya untuk menelaah Kitab Allah, untuk mengkaji ilmu pengetahuan, melakukan studi dan riset tentang langit dan bumi, agar dia mampu menyerap pelajaran darinya dan mengagungkan Sang Penciptanya. Dia juga harus menutupi matanya dari segala bentuk aurat kaum Muslimin.
Kemudian menggunakan telinganya untuk menyimak peringatan dan segala hal yang bermanfaat di akhirat nanti, berpaling dari aktivitas mendengarkan kata-kata keji dan berlebihan.

Menggunakan lisan untuk berdzikir dan memuji Allah, sebagai rasa syukur tanpa keluhan. Sebab, orang yang ditanya tentang keadaannya, lalu mengeluh, maka dia itu tergolong pelaku maksiat. Karena dia mengadukan milik Sang Maha Raja kepada seorang budak hina yang tidak dapat berbuat apa pun. Sebaliknya, bila bersyukur, maka dia tergolong orang taat.
Mensyukuri hati, berarti menggunakannya untuk berpikir, bertafakur, dzikir, berma’rifat, merahasiakan kebaikan dari niat yang baik.
Demikian pula dengan tangan, kaki dan seluruh anggota tubuh, seluruh harta-benda dan hal-hal lainnya yang tidak terbatas.

Syukur Sempurna
Yang mampu mencapai syukur sempurna adalah orang yang dilapangkan oleh Allah Swt. untuk menerima Islam, yang berarti juga ia mendapat cahaya dari Tuhannya. Ketika ia memandang segala yang ada, yang dilihat adalah hikmah, rahasia dan cinta kasih Allah kepada makhluk-Nya.
Bagi orang yang belum terbuka atau belum dibukakan rahasia-rahasia itu, harus mengikuti sunnah dan aturan-aturan syariat. Sebab, di balik semua itu terdapat rahasia-rahasia syukur.

Seyogyanya dia pun tahu, jika memandang kepada wanita yang bukan muhrim itu berarti dia tidak mensyukuri nikmat mata dan nikmat matahari. Sebab, seluruh nikmat, tidak bisa dilihat secara sempurna, kecuali dengan mata. Sedangkan melihat itu tidak akan terwujud tanpa mata dan cahaya matahari, sementara matahari hanya bisa sempurna dengan langit. Berarti dia tidak pula bersyukur atas nikmat Allah yang ada di langit dan di bumi.
Analogikan semua bentuk kemaksiatan dengan wacana tersebut. Karena maksiat itu sendiri terwujud, disebabkan adanya penciptaan langit dan bumi.
Ini adalah masalah yang dalam dan sangat luas, kami bahas dalam Bab “Syukur” pada kitab lhya’. Kami cukup memberikan satu contoh di sini: Allah menciptakan dinar dan dirham ibarat sebagai hakim dalam segala hubungan. Seluruh harga ditentukan dengan dinar dan dirham. Kalau tidak karenanya, seluruh hubungan sosial ekonomi terhalang. Bagaimana jadinya, membeli pakaian dengan minyak za’faran, dan binatang ternak dibeli dengan makanan? Dinar dan dirham, tidak memiliki hubungan, kecuali sebagai spirit harta-benda. Perspektif yang mengukur keduanya adalah fungsinya sebagai mata uang kontan. Orang yang menyimpan dirham dan dinar, seperti orang yang menahan seorang hakim Muslim, sehingga seluruh hukum terabaikan.
Orang yang menjadikan salah satu di antara dirham dan dinar sebagai milik pribadi, dia sama saja dengan mempekerjakan salah seorang hakim kaum Muslimin di bidang pertanian dan tekstil, yang bisa dilakukan oleh siapa saja, sehingga hukum menjadi tidak berlaku. Ini lebih parah lagi dibanding penahanan.

Barangsiapa membungakan dirham dan dinar, serta menjadikan sebagai sasaran perdagangannya dengan jalan menukar yang baik dengan yang jelek, itu sama halnya dengan orang yang memberi kesibukan seorang hakim sehingga lalai terhadap hukum. Kemudian ia jadikan sebagai bahan ejekan untuk dirinya, menyuruhnya untuk mengumpulkan kayu bakar, menyapu dan mengusahakan makanan pokok.
Itu semua merupakan tindakan lalim dan rekayasa terhadap hukum Allah Swt. atas makhluk dan hamba-hamba-Nya, serta merupakan tindakan memusuhi kecintaan kepada Allah Swt.

Siapa yang dibukakan cahaya mata hatinya, dia hanya tahu pada syariat verbal tanpa makna sebenarnya. Difirmankan kepadanya:
“Orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih, pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka Jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka (lalu dikatakan) kepada mereka, ‘lnilah harta-bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu’.” (Q.s. At-Taubah: 34-35).

Ditegaskan pula, “Barangsiapa minum dengan menggunakan bejana dari emas atau perak, maka seakan-akan api neraka jahannam bergolak dalam perutnya.”, Firman-Nya:
“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri, melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila.” (Q.s. Al-Baqarah: 275).

Orang-orang yang saleh hanya terpaku pada aturan-aturan syariat, tapi tidak mengetahui rahasia-rahasianya. Sedangkan orang-orang arifin, bila telah mengetahui sendiri rahasia-rahasia dan telah menyaksikan langsung bukti-bukti syariat, semakin bertambahlah cahayanya. Sementara orang-orang buta yang bodoh, hanya mengerti aturan-aturan syariat belaka, mereka terlepas dari seluruh rahasia. Mereka tidak seperti hamba-hamba yang takwa, dan tidak seperti orang-orang merdeka yang mulia. Merekalah yang oleh Allah difirmankan:
“... akan tetapi telah tetaplah perkataan (ketetapan) dari pada-Ku ...“ (Q.s. As-Sajdah: 13).

Dan Allah Swt. berfirman:
“Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa jang diturunkan kepadamu dan Tuhanmu itu benar sama dengan orang yang buta? Sesungguhnya menjadi ingatlah orang-orang yang memiliki lubuk hati.”
(Q.s. Ar-Ra’d: 19).

Allah Swt. juga berfirman:
“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta. Berkatalah ia, ‘Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dulunya adalah orang yang melihat?’Allah berfirman, ‘Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamu pun dilupakan’.” (Q.s. Thaha: 124-126).

Tanda-tanda kebesaran Allah Swt. dan hikmah-Nya terdapat pada makhluk-Nya. Hal ini telah disampaikan kepada manusia melalui lisan para Nabi shalawat dan salam semoga terlimpah kepada mereka— seperti yang dijelaskan dalam globalitas syariat, dari awal sampai akhir. Tidak satu pun dari aturan-aturan syariat, yang tidak mengandung rahasia, keistimewaan dan hikmah, yang bisa dimengerti oleh orang yang mengetahui, namun diingkari oleh orang yang tidak mengenalnya.

Penjelasan tentang masalah ini sangat panjang, silakan Anda membacanya dalam Bab “Syukur” di kitab Ihya’.
Syukur tidak akan sempurna, kecuali orang yang teguh demi Allah saja, mengerjakan apa pun demi Allah, bukan untukyang lain, cintanya hanya kepada Allah Swt. Selanjutnya kami uraikan prinsip ikhlas dan jujur.

Rahasia Hati (Sirr)


Syekh Abu Nashr As-Sarraj. Sebagian kaum Sufi mengatakan, “Rahasia hati (sirr) adalah sesuatu yang tidak bisa dirasakan oleh gejolak jiwa (an-nafs), dimana rahasia tersebut memang dijadikan gaib oleh al-Haq dan selalu diawasi.”

Kaum Sufi yang lain mengatakan, “Rahasia itu ada dua macam: Rahasia bagi al-Haq, yaitu sesuatu yang selalu diawasi-Nya tanpa ada perantara apa pun, dan rahasia untuk makhluk di mana ia selalu diawasi-Nya dengan perantara.”

Dikatakan, “Rahasia itu dari rahasia dan untuk rahasia, ia adalah suatu yang haq dan tidak akan tampak kecuali dengan haq. Sementara apa yang tampak pada makhluk maka itu bukanlah rahasia.

Diceritakan dari al-Husain bin Manshur al-Hallaj - rahimahullah - yang mengatakan, “Rahasia-rahasia kami adalah `gadis’ yang keperawanannya tidak bisa dirobek oleh khayalan seorang pengkhayal.”

Abu Ya’qub Yusuf bin al-Husain ar-Razi - rahimahullah - mengatakan, “Hati para tokoh adalah kuburan yang menyimpan berbagai rahasia.”
Ia juga berkata, “Jika kancing bajuku mengetahui rahasiaku ! maka aku akan melepasnya.”

Sebagian dari mereka ada yang mengungkapkannya dalam untaian syair:
Orang yang bisa merasakan
rahasia
sungguh la telah
menyembunyikan seluruhnya
Keduanya dalam rahasianya
merasa bahagia
Tidaklah rahasia orang yang
berbahagia
memberi isyarat dengan
rahasia hatinya
sebab darinya dan kepadanya
ia sama-sama tertipu

Yang lain berkata:
Wahai rahasia dari segala
rahasia yang teramat lembut
sehingga samar dari dugaan
semua yang hidup
Dan secara lahir dan bathin
tampak dari segala sesuatu
untuk segala sesuatu yang lain
An-Nuri pernah mengatakan:
Aku bersumpah, tidak akan
menitipkan rahasiaku dan
rahasianya
kepada selain kami yang
kiranya semua rahasia akan
terbuka
Tidak, kedua mataku terlanjur
melihatnya walau sekilas saja
maka rahasia kami juga terlihat
oleh pandangan setiap mata
Namun kujadikan dugaan
antara saya dan dia
sebagai perantara yang
mampu menyingkap
kandungan rahasia

Inilah berbagai permasalahan mereka yang sampai kepada kami, Dimana sebenarnya masalah mereka masih banyak lagi yang belum terungkap.
Diceritakan dari Amr bin Utsman al-Makki - rahimahullah yang mengatakan, “Seluruh ilmu adalah diparo menjadi dua bagian: Separuh yang pertama adalah pertanyaan, dan separuh yang lain adalah jawaban.” - Semoga Allah senantiasa memberi taufik kepada kita.
“Ialah melupakan dzikir. Yakni melupakan dzikir Anda pada Allah Swt. dan melupakan segala sesuatu selain Allah Azza wajalla.”

Kemuliaan (Karamah)
Sebagian kaum Sufi mengatakan, bahwa karamah (kemuliaan) adalah mencapai apa yang dimaksud sebelum munculnya iradah (keinginan). Sedangkan kaum Sufi yang lain mengatakan bahwa kemuliaan adalah pemberian di atas apa yang diharapkan.

Pikir
Ketika al-Harits al-Muhasibi - rahimahullah - ditanya me¬ngenai pikir, la mengatakan, “Pikir adalah dalam melakukan segala sesuatu dengan al-Haq.”
Kaum Sufi mengatakan, “Berpikir adalah mengambil pelajaran dengan benar.”
Sementara itu kaum Sufi yang lain mengatakan, “Pikir adalah kondisi mengagungkan Allah Azza wa Jalla yang memenuhi hati.” Sementara perbedaan antara pikir dan berpikir (tafakkur), adalah bahwa berpikir (tafakkur) merupakan pengembaraan hati, sedangkan pikir ialah berhentinya hati dalam memahami apa yang ia ketahui.

Mengambil Pelajaran (I’tibar)
Al-Harits bin Asad al-Muhasibi - rahimahullah - mengatakan, “Mengambil pelajaran (i`tibar) ialah menjadikan sesuatu sebagai argumentasi atas sesuatu yang lain.” Sementara menurut kaum Sufi yang lain, “I`tibar adalah sesuatu yang di dalamnya terdapat keimanan yang jelas dan bisa dipahami oleh akal.”
Kaum Sufi yang lain mengatakan, “I`tibar adalah sesuatu yang mampu menembus kegaiban tanpa ada sesuatu yang sanggup - menghalanginya.”

Niat
Apakah niat itu?” Kaum Sufi menjawabnya, “Niat adalah maksud yang kuat untuk melakukan sesuatu.” Sementara kaum Sufi yang lain mengatakan, “Niat adalah mengetahui nama perbuatan (amal).”
Al Junaid - rahimahullah - mengatakan, “Niat adalah meng¬gambarkan perbuatan.” Sementara yang lain mengatakan, “Niat seorang mukmin adalah Allah Yang Mahatinggi.”

Kebenaran (Ash-Shawab)
Apakah ash-shawab (kebenaran) itu? Menurut suatu kaum, ash-shawab hanyalah menauhidkan Allah semata. Al Junaid - rahimahullah - mengatakan, “Kebenaran adalah segala ucapan yang muncul karena izin dari-Nya.”

Kasih Sayang
Al Junaid - rahimahullah - pernah ditanya, “Apakah yang dimaksud dengan perasaan kasih sayang terhadap sesama makhluk?” Kemudian la menjawabnya, “Anda memberi mereka dari diri Anda sesuatu yang mereka butuhkan, tidak membebani mereka dengan sesuatu yang mereka tidak mampu melakukan dan tidak berbicara dengan mereka tentang sesuatu yang mereka tidak memahaminya.”

Ketaqwaan
Kaum Sufi mengatakan, “Ketakwaan adalah mengamalkan masalah perintah dan larangan.” Kaum Sufi yang lain mengatakan, “Ketakwaan adalah meninggalkan hal-hal yang syubhat.”Yang lain juga mengatakan, “Ketakwaan adalah simbol kesucian orang mukmin, sebagaimana Ka’bah sebagai simbol kesucian Mekkah.” Dikatakan pula, “Ketakwaan merupakan cahaya dalam hati yang dapat membedakan antara yang haq dan yang bathil.”
Sahl bin Abdullah, al Junaid, al-Harits al-Muhasibi dan Abu Said - rahimahumullah - mengatakan, “Ketakwaan adalah keseimbangan antara rahasia hati dengan lahiriah yang tampak.”

Membedah Tafsir Syeikh Abdul Qodir Al-Jilany


Ada yang baru tentang Syikh Abdul Qodir Al Jilany. Sebuah penemuan kitab tafsirnya baru –baru ini didiskusikan di gedung Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Tidak hanya kitabnya yang memang mendapat apresiasi luar biasa. Tetapi juga pembicaranya , Dr. Fadhil Al Jilany yang merupakan keturunan Syaikh Abdul Qodir Al Jilany.

“Kitab tafsir syaikh Abdul Qodir ini saya temukan di berbagai perpusatkaan. Butuh waktu 30 tahun untuk menemukan kitab ini. Alhamdulillah sampai sekarang banyak yang akan menerjemahkan,” ujarnya. Menurutnya kitab tafsir karangan syeikh Abdul Qodir al Jilany ini ada beberapa kelebihan. Hal ini semakin menguatkan bahwa Syaikh abdul Qodir Al Jilany tidak hanya piawai dalam ilmu tasawuf, tetapi juga ilmu tafsir.

Menurut Syeikh Fadhil ada beberapa kelebihan dari tafsir Al Jilany ini. Diantaranya adalah corak afektif syar’i dan ilmiah yang begitu kental dalam tafsir tersebut. Sebagai contoh, misalnya, ungkapan yang sering digunakan oleh para ahli tafsir dalam ayat pertama surah Al-Ikhlash: “Katakanlah(wahai Muhammad).” Tetapi, Syekh tidak pernah memakai nama secara langsung melainkan dengan julukan, antara lain, “Wahai Rasul yang paling sempurna”, Wahai insan sempurna,” dan lain sebagainya.

Selain itu, dalam penafsiran tiap lafal Basmalah yang terdapat di permulaan surah, sesuai dengan makna yang terkandung dalam surah secara keseluruhan. Dengan demikian, ada 114 tafsir berbeda terkait lafal basmalah. Di penghujung pembahasan, Syeikh menyertakan doa. Tak hanya pada kitab Tafsir Al-Jilany, akan tetapi pola ini dituliskan di tiap karyanya. Sebagai contoh dalam surah al-Fatihah, setelah uraian tentang makna ayat ke-2, Syeikh menyertakan kata ‘Amin’, semoga diterima Engkau Wahai Maha Pengasih.

Tafsir Al-Jilany lebih dekat dengan Tafsir Bil Ma’tsur yang menafsirkan ayat dengan ayat, dan hadist.
Dalam kesempatan tersebut, Syeikh Fadhil juga mengatakan bahwa pencariannnya menemukan banyak hal yang baru. Diantaranya keterlibatan Syeikh Abdul Qodir dalam Perang Salib. Menurutnya ada sejarah yang harus diluruskan. ” Dalam perang Salib semasa Salahuddin Al Ayyubi, Syaikh Abdul Qodir Jilany berperan sangat besar. Bahkan memerintahkan anaknya untuk berperang. Strategi yang diterapkan pasukan muslim kala itu tidak lepas dari peran Syeikh Abdul Qodir al Jilany. Dan ini yang tidak ada dalam sejarah sebelumnya,”ungkap Syeikh Fadhil.

Tidak heran kalau dalam pengantarnya, pengamat sufi KH Luqman Hakiem mengatakan tafsir al Jilany merupakan sebuah karya monumental. ” Saya kira ini merupakan salah satu monumen terbesar abad ini. Tafsir yang semula hilang kini dapat ditasheh kembali. Insya Allah kitab ini akan melengkapi kahsanah di perpustakan pondok pesantren dan universitas di negeri ini,” katanya.

Lukman menambahkan bahwa banyak kitab-kitab tafsir dalam perspektif tasawuf yang belum masuk ke Indonesia. Adanya tafsir ini menjadi salah satu yang akan menambah refrensi dalam dunia tafsir di tanah air. “Terus terang saja, pesantren tidak banyak membalah (mengaji) kita bercorak sufustik. Dengan hadirnya kitab ini, minat pesantren terhadap kitab tafsir tasawuf akan meningkat. Kita baru berhenti pada suluk atau pengamalan, belum kajian tasawuf yang serius dan beragam. Dengan kitab ini, cinta kita pada beliau dengan tahu dan paham, bukan cinta buta,” ujar Lukman yang juga pengasuh di Pesantren Ciganjur.

Hal yang sama dikatakan KH Abdul Manan ketua Lembaga Takmir masjid Nahdlatul Ulama (LTM NU). Ia mengatakan bahwa bedah tafsir al Jilani ini penting dilakukan, supaya muslim Indonesia mengetahui Syeikh Abdul Qodir secara menyeluruh. “Maklum saja tafsir ini tidak banyak diketahui, karena belum lama ditemukan. Kitab ini baru diterbit setahun yang lalu, oleh penerbit di Istambul Turki. Insya Allah, kita ini akan memperkaya khazanah kelimuan kita di pesantren khususnya, dan umat Islam umumnya,” katanya.

Fadhil adalah keturunan ke-25 dari Syeikh Abdul Qadir Al-Jilany. Karena kebesaran nama sang kakek, maka ia pun melanglang buana demi mengumpulkan sejumlah manuskrip karya Syeikh Al-Jilany. Suka-duka dialaminya saat mencari manuskrip yang berusia ratusan tahun itu. “Terkadang penuh perjuangan, karena banyak perpustakaan di dunia, yang sudah lama menyimpannya. Sehingga, ada yang tidak dibuka untuk umum. Namun, setelah mereka mengetahui, akhirnya mereka mengizinkan,” terangnya.

Kitab Tafsir Al-Jilany disusun berdasarkan naskah yang didapat dari beberapa koleksi. Di antaranya manuskrip yang berasal dari Perpustakaan Rashid Kirami di Tablus yang merupakan perpustakaan pribadi sejak dinasti Turki Usmani. Manuskrip kedua diperoleh dari salah satu perpustakaan pribadi milik seorang pendeta di Eropa. Adapun manuskrip ketiga manuskrip tersimpan di Perpustakan Kairo yang berumur sekitar 300 tahun. Dan terakhir manuskrip “HaidarAbad”, India tahun 622 H.


Karyanya Ada 1000
Selama pencariannya, Syeikh Fadhil menemukan bahwa ulama agung ini seorang profilig. Karyanya sangat banyak. Tidak hanya ratusan bahkan hingga seribu buah. Memang ada perdebatan. Tetapi, setidaknya karya-karya tersebut adalah buah pemikiran Syeikh setiap kali menyampaikan pelajaran. Ada sebanyak 40 sekretaris mencatat uraian yang dipaparkan dan dikumpulkan menjadi satu hingga jadi sebuah buku, seperti kitab Al-Fath Ar-Rabbani dan Al-Mukhtashar.

Sebelumnya, peniliti asal Jerman Brockelman telah lebih dulu menyatakan, terdapat 52 kitab yang dikarang oleh Syekh Abdul Qadir Al-Jilani. Dalam Ensklopedia Agama Islam Turki ditulis biografi Syeikh Abdul Qadir Al-Jilani dengan menyertakan sejumlah riwayat tentang jumlah kitabnya. Salah satu riwayat menyebutkan jumlah karangannya sebanyak 51 kitab, bahkan riwayat lain menyatakan 1.000 kitab meskipun ini masih diperdebatkan. Tetapi, yang jelas jumlah karangannya lebih dari 100 buah.

Saat ini ada 41 judul manuskrip kitab, kita peroleh dan dipastikan murni karyanya. Dari jumlah tersebut, baru 20 kitab dan delapan risalah yang dapat kita peroleh. Sedangkan 13 sisanya belum ada di tangan kita, tetapi asli karya Syeikh. Ada tiga karya monumental yang sukses kita kaji, yakni Tafsir Al-Jilany, Musnad Al-Hadis yang terdiri dari 10 jilid, dan Fiqh Syeikh Abd Al-Qadir Al-Jilany sebanyak 20 jilid. Kitab Tafsir telah dibukukan sedangkan dua yang lainnya masih dalam proses.

Acara bedah tafsir ini diselenggarakan oleh Lembaga Takmir Masjid LTM Nahdlatul Ulama (LTM NU). Dalam acara yang dihadiri lebih dari 200 orang . Turut hadir ketua PBNU KH Said Aqiel Siradj, Ketua Umum PBNU, KH Said Agil Siradj, Menteri Negara Pembangunan Daerah Tertinggal Helmy Faishal Zaini, Ketua Lembaga Al-Jaelani Center Asia Tenggara, Rachmad Tatang Bachrudin dan KH Lukman Hakim sebagai salah satu pembahas.

Tasawuf dan Cara Pandang Interdisipliner


Dr. KH. Said Aqil Siraj
Saat ini, agaknya dirasakan baik dalam teoritis maupun praktis, membuncahnya pola pemikiran yang cenderung bersifat sporadis, hiperspesialis, sektarian, dan skismatis.

Akibatnya, kenyataan yang terpampang terlihat “miris” dan tak rentan dari bentuk-bentuk sikap dan perilaku yang afinitatif dan bahkan konfliktual. Tentu saja, ini amat jauh dari kerinduan abadi (gharizah) bagi setiap individu untuk mencitakan kehidupan yang harmonis, rukun-sejahtera, dan penuh dengan cinta kasih.

Kondisi skismatis tersebut rasanya sudah merata dari hulu ke hilir. Dalam dunia akademis pun, dirasakan belum terwujudnya suatu kerangka pikir yang integratif-holistik. Betapa pun, banyak disiplin ilmu di dunia akademis yang diajarkan, ternyata belum mampu membawa para terdidiknya untuk bisa memahami indahnya berhubungan secara lintas disiplin ilmu (interdisipliner). Yang terpampang adalah kenyataan saling merasa superior (istihqar) dengan disiplin ilmunya.

Para filsuf muslim seperti al-Kindi, Ibnu Sina, al-Farabi, Ibnu Rusyd, Ibnu Bajjah atau Ibnu Thufail adalah para ‘generalis’ yang menguasai berbagai disiplin keilmuan. Mereka tekun dan berdedikasi tinggi terhadap ilmu dan praksis kemasyarakatan. Pola pemikiran yang mereka bangun bersifat integral dengan menyatukan berbagai ilmu. Usaha yang mereka lakukan itu akhirnya membuahkan kesadaran bahwa tujuan ilmu pengetahuan adalah kemanusiaan dan ketuhanan.

Pada sisi lain, dalam soal perkembangannya, iptek dewasa ini telah memunculkan berbagai reaksi keilmuan dengan ikhtiar melakukan upaya integralisme. Ilmu pengetahuan dipandang telah berjalan sendiri-sendiri. Munculnya gerakan Holisme yang dieksponeni oleh Fritjof Capra misalnya membuktikan kenyataan saling silang antarilmu. Gerakan ini malah memasukkan unsur-unsur pemikiran Timur dan hikmah kaum sufi dalam formulasi ilmu pengetahuan.

Berkaca Pada Kaum Sufi

Kaum sufi telah mengungkapkan suatu pola pikir, sikap, dan perilaku yang amat konstruktif bagi penataan dan pengembangan aspek kemanusiaan dan keilahiaan. Kaum sufi senantiasa melakukan formulasi kedirian melalui wilayah privat yang kemudian mampu memberikan dampak eksternal yang luar biasa pada wilayah publik. Kehadiran tasawuf di tengah-tengah kehidupan sosial dan kultural masyarakat senantiasa menampilkan sebagai suatu kekuatan bagi "revolusi spiritual" (tsaurah al-ruhiyah). Suatu kekuatan yang sangat eksplosif dalam meretas segala bentuk penyimpangan moral dan sosial, sekaligus sebagai pemicu bagi ghirah kebangkitan pengetahuan.

Dalam tasawuf, pengolahan pengetahuan dihampiri secara esoteris (bathini). Sebab, pengetahuan esoteris ini dipandang sebagai basis bagi pengembangan keilmuan yang eksoteris (dzahiri). Dalam merengkuh pengetahuan diperlukan suatu kejernihan batin, sehingga akan memancarkan cahaya bening dalam menangkap berbagai pernik kenyataan. Apa yang diberikan dalam tasawuf seperti latihan fisik (riyadhah) dan latihan batin (mujahadah) sesungguhnya merupakan perangkat bagi pengembangan kedirian yang punya kebertautan dengan aspek penataan moral dan pengembangan pengetahuan.

Para sufi tidaklah membedakan secara ekstrim antara metoda akal atau batin. Para sufi hendak menunjukkan bahwa akal hanya mempunyai fungsi yang terbatas, sehingga tidak bisa digunakan untuk menangkap kedalaman realitas. Karena itu, hatilah yang layak digunakan dalam memahami realitas tersembunyi. Bagi kaum sufi, realitas tidak hanya terpancang pada segala hal yang bersifat empirik, melainkan yang metafisis dan spiritual. Dan justru realitas spiritual inilah yang sesungguhnya merupakan hakikat dari kenyataan itu sendiri yang akan menghasilkan pemahaman yang jernih, jauh hari distorsi sosial dan moral.

Dalam kenyataannya kesufian telah menjadi sifat dan lelaku yang interen dalam diri ilmuwan muslim. Jabir bin Hayyan, al-Farabi, Sufyan al-Tsauri, al-Ghazali atau Ibnu Sina yang merupakan figur ilmuwan yang menguasai berbagai bidang ilmu, ternyata juga menunjukkan diri sebagai sosok sufi.
Di sini, menunjukkan bahwa kesufian tidaklah menghalangi keinginan untuk melakukan eksplorasi dan eksperimentasi dalam wilayah keilmuan. Sebaliknya, justru menyibakkan betapa basis kesufian ini telah menjadi pemicu bagi keinginan yang menyala (sense of curiousity) dalam membangun formulasi ilmu pengetahuan. Dan terlihat pula, para ilmuwan dan filsuf muslim pada akhir perjalanan intelektualnya justru menjadikan taSawuf sebagai terminal puncaknya.

Dalam sejarah peradaban Islam kita mengenal istilah zawiyah dan khanaqah yang merupakan pusat pertemuan kaum sufi, tempat mereka melakukan berbagai latihan spiritual. Lembaga sufi ini berfungsi sebagai pusat belajar untuk mengkaji dan menginsyafi bentuk tertinggi ilmu (gnosis/ma'rifat) yang pencapaiannya menuntut penyucian jiwa dan pikiran (tazkiyah al-nafs). Ia adalah pengajaran sains dalam Islam yang bersifat esensial yang pegang peranan signifikan sebagai satu dari lembaga utama yang bertanggung jawab dalam pembinaan dan penyebaran sains dalam Islam.
Maka jelaslah bahwa tasawuf tidaklah sama sekali berlawanan dengan kemajuan ilmu pengetahuan. Perkembangan ilmu pengetahuan memerlukan upaya untuk secara kontinyu melakukan penelitian (istiqra'). Sementara, upaya tersebut memerlukan pula basis penataan diri untuk membangun sikap konsistensi. Dalam tasawuf, sikap konsistensi (istiqamah) merupakan prasyarat fundamental dalam melakukan perjalaan spiritual (rihlah al-ruhiyah).
TaSawuf sendiri sesungguhnya merupakan 'tajribah al-ruhiyah', yakni proses eksperimentasi diri guna menghasilkan derajat kemanusiaan (martabat insaniyah) yang memangku secara kokoh derajat ilahiyah (martabat ilahiyah).

Metode "tajribah al-ruhiyah" ini bisa dimaknai secara lebih luas, tidak hanya terpaku pada pola-pola ritual kesufian, tetapi bertaut pula dengan pemacuan ghirah keilmuan. Namun, yang harus diperhatikan bahwa pola eksperimentasi kesufian ini harus ditempatkan dalam posisi sebagai basis pelatihan kedirian. Di sini, mutlak diperlukan pemahaman bahwa apa pun bentuk pengembangan keilmuan demi menggayuh kemajuan peradaban harus berporos pada pelatihan jiwa-batini.

Dengan demikian, tidak saja berguna bagi eskalasi pengembangan keilmuan, tetapi juga penataan moralitas. Saat ini, disadari kian pentingnya pengembalian keilmuan dalam cagar etika. Dunia ilmu memerlukan arahan secara etik, agar tidak melaju tanpa nilai. Sebab, bagaimanapun, kemajuan ilmu pengetahuan adalah demi peningkatan kenyamanan dan kesejahteraan material dan spiritual bagi manusia. Tentu saja, diharapkan pengajaran ilmu pengetahuan tidak akan membawa mentalitas dehumanisasi, yang memojokkan manusia pada jaring-jaring otomatisasi yang bisa menghilangkan kesadaran transendental.

*) Ketua Umum PBNU dan Ketua Umum Masyarakat TaSawuf Indonesia (MATIN)

Ridha Terhadap Qadha’


Imam al-Ghozali
Allah Swt. berfirman,“Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha terhadap-Nya.” (Q.S. Al-Maidah: 119, lihat pula At-Taubah: 100, Al-Mujadilah: 22 dan Al-Bayyinah: 8).

Rasulullah Saw. bersabda, “Apabila Allah mencintai seorang hamba, Dia mencobanya. Jika hamba itu sabar, Allah memilihnya, dan bila ridha Dia mengutusnya.”

Beliau juga bersabda, “Sembahlah Allah dengan (penuh) ridha. Jika kamu tidak bisa, maka dalam kesabaran terhadap apa yang tidak kamu inginkan terdapat kebaikan (pahala) yang banyak.”
Rasulullah Saw. pernah bersabda kepada sekelompok kaum,
“Apa (identitas) kalian?”
“Kami adalah kaum Mukmin,” jawab mereka.
“Apa tanda-tanda keimanan kalian?” tanya Rasulullah.
“Kami bersabar atas bencana (kesusahan) dan kami bersyukur ketika lapang (kelapangan hidup), serta kami ridha dengan posisi-posisi qadha’ (ketentuan-ketentuan Allah),” jawab mereka.
Kemudian Rasulullah Saw. bersabda, “Kalian adalah orang-orang Mukmin, demi Tuhan (Pemilik) Ka’bah.”
Dalam riwayat lain disinyalir, “Karena kedalaman ilmunya, nyaris membuat para hukama’ dan para ulama menjadi Nabi.”
Di antara yang diwahyukan Allah Swt. kepada Nabi Daud as. adalah:
“Apa yang dimiliki para wali-Ku dan keinginan terhadap dunia. Sun gguh, keinginan pada dunia dapat menghilangkan rasa manis munajat (kepada)-Ku dan kalbu mereka; sesungguhnya kecintaan (keinginan)-Ku terhadap para wali-Ku adalah: Aku ingin mereka menjadi para ruhaniawan yang tidak bersedih hati.”
Rasulullah Saw. bersabda, Allah Swt. berfirman dalam Hadis Qudsi:
“‘Aku adalah Allah, tiada Tuhan selain Aku. Barangsiapa tidak dapat bersabar atas cobaan-Ku, tidak mensyukuri nikmat-nikmatKu, dan tidak ridha terhadap qadha’-Ku, maka hendaklah ia mencari tuhan selain selain Aku’.”

Rasulullah Saw. juga bersabda, “Allah Swt. berfirman, ‘Aku telah menciptakan kebaikan dan telah menciptakan ahli baginya, juga telah menciptakan kejahatan dan telah menciptakan ahlinya. Maka, berbahagialah siapa yang Kuciptakan untuk kebaikan dan memudahkannya di hadapannya celakalah siapa yang Kuciptakan untuk kejahatan dan Aku telah memudahkan kejahatan di hadapannya. Celaka, kemudian celaka (bagi) siapa yang berkata, ‘Mengapa dan bagaimana’.”

Diwahyukan kopada Nabi Daud as.:
“Wahai Daud, kamu berkehendak dan Aku berkehendak. Hanya saja yang Aku inginkan: Jika kamu men yerah pada apa yang Aku kehendaki, maka Aku penuhi apa yang kamu inginkan. (Sebaliknya), jika kamu tidak menyerah pada apa yangAku kehendaki, niscayaAku menjadikan kamu lelah dan susah dalam hal yang kainu inginkan, kemudian yang terjadi hanyalah apa yang Aku kehendaki.”
Sekelompok ulama mengingkari adanya ridha terhadap qadha’ Allah Swt. Mereka berkata, “Ridha terhadap qadha’ tidak mungkin digambarkan dengan hal-hal yang bertentangan dengan nafsu. Sedangkan yang bisa digambarkan hanyalah sabar.”

Tanda-tandanya adalah, ridha terhadap bencana dan ridha terhadap realita yang kontra dengan watak serta kesenangan. Bentuk ridha ini ada tiga arah.
Arah pertama, ia dibuat tercengang oleh penyaksian cinta secara langsung, dan berpaling dari rasa sakit. Ini adalah bentuk musyahadah langsung dari cinta manusia ketika dikuasai oleh amarah, ambisi dan nafsu syahwat; bahkan pada saat marah, ia tidak merasakan luka yang mengenai dirinya. Orang yang tamak tidak merasakan rasa sakit ketika kakinya tertusuk duri. Sebaliknya, bila amarahnya telah reda dan apa yang dituju oleh si tamak itu telah digapai, rasa sakit itu menjadi-jadi.

Jika telah terbayangkan bahwa sedikit rasa sakit dapat menyelusup pada rasa cinta yang sedikit, juga rasa sakit yang sedikit dapat menyelusup dalam rasa cinta yang kuat, maka rasa cinta dan sakit itu, masing-masing dapat bertambah dan dapat pula menguat.
Apabila kecintaan terproyeksi sedemikian rupa, dimana kegandrungan terhadap bentuk yang terstruktur seperti daging dan darah yang penuh dengan kotoran; sebenarnya hal itu dicapai dengan mata lahiriah, yang seringkali menemui kesalahan; sehingga mata tersebut melihat sesuatu yang besar tampak kecil, yang jauh tampak dekat, dan yang jelek tampak indah. Lalu bagaimana mungkin penglihatan pada hadirat ketuhanan dan keagungan Azali Yang Abadi —yang tidak pernah terproyeksi pemutusan dan penyerangannya— tidak dapat dicapai dengan mata batin, padahal bagi ahlinya tampak lebih benar dan jelas daripada penglihatan mata lahiriah?

Berdasarkan inilah Al-Junaid r.a. bertanya kepada Sari As-Saqathi r.a, “Apakah sang pecinta menemui pedihnya kesusahan?”
“Tidak,” jawabnya.
“Jika dipukul dengan pedang?”
“Tidak juga, walaupun dipukul dengan pedang sebanyak tujuhpuluh kali secara bertubi-tubi,” jawab Sari lagi.
Sebagian sufi berkata, “Aku mencintai segalanya, karena cinta-Nya. Bahkan walaupun Dia mencintai api, aku pun suka masuk ke dalam api tersebut.”
Umar bin Abdul Aziz r.a. berkata, “Kegembiraanku tiada yang tersisa, kecuali hanya dalam posisi ketetapan Allah Swt.”
Di antara kaum sufi mengalami musibah, putranya telai raib selama tiga hari. Lalu ada orang mengusulkan, “Bagaimana seandainya Anda memohon kepada Allah Swt. agar mengembalikannya kepada Anda?”
“Gugatanku kepada-Nya tentang apa yang telah ditetapkan-Nya lebih pedih bagiku daripada keraiban putraku,” jawabnya.
Arah kedua, dia merasakan kepedihan dan secara naluri tidak menyukainya. Hanya saja ia ridha, disebabkan akal pikiran dan imannya, karena tahu banyaknya pahala yang disebabkan oleh kesusahan atau bencana. Seperti halnya orang sakit yang rela dioperasi dan minum obat. Karena dia tahu bahwa itu adalah faktor yang dapat menyembuhkan, bahkan ia merasa gembira bila ada orang yang menghadiahkan obat kepadanya, walaupun pahit.
Demikian halnya dengan seorang pedagang, dia rela menempuh perjalanan jauh yang melelahkan, padahal itu bertentangan dengan nalurinya.
Hal semacam ini, ditemui pula dalam menggapai tujuan-tujuan duniawi. Lalu bagaimana mungkin hal itu tidak diakui keberadaannya dalam upaya menggapai kebahagiaan ukhrawi?

Dikisahkan bahwa seorang wanita dibukakan pintu oleh Al-Mushili Al-Anshari. Tiba-tiba wanita itu terjatuh hingga patah kukunya, namun masih sempat tertawa.
“Apakah Anda tidak merasakan sakit setelah terjatuh?” kata Al-Anshari.
“Sungguh, kelezatan imbalan pahalanya dapat menghilangkan kepahitan rasa sakitnya dan kalbuku,” jawabnya singkat.
Jadi, orang yang yakin bahwa imbalan pahala bencana (kesusahan) lebih besar dari apa yang dideritanya, tentu ia akan bersikap ridha.
Arah ketiga, seyogyanya Anda yakin bahwa Allah Swt. ada di balik semua keajaiban yang halus, bahkan sangat halus. Keyakinan semacam itu harus lahir dari kalbu seseorang. (Mengapa dan bagaimana) — dia tidak sampai terheran-heran terhadap apa yang berlangsung di permukaan alam semesta, yang oleh orang bodoh dikira kacau, runyam dan tidak stabil, sementara itu dia tahu bahwa rasa herannya tersebut seperti Musa as. yang terheran-heran terhadap perilaku Nabi Khidir as, membakar perahu anak-anak yatim, membunuh seorang anak dan membangun kembali dinding yang telah roboh seperti yang disebutkan dalam Surat Al-Kahfi.

Namun setelah Khidir as. membuka tabir dan rahasia apa yang dilakukannya, Musa menjadi paham dan tidak lagi merasa heran. Rasa heran beliau disebabkan oleh rahasia-rahasia yang masih tersembunyi tersebut.
Demikian pula dengan af’al Allah Swt. Sebagai contoh, di antara mereka yang bersikap ridha — setiap kali ditimpa musibah, berkata, “Yang terbaik adalah, apa yang telah ditakdirkan oleh Allah Swt.”
Ia bersama keluarganya di sebuah padang sahara, sementara yang dimilikinya hanyalah seekor khimar yang membawa tenda, seekor anjing penjaga mereka, dan seekor ayam jantan yang membangunkan mereka dari tidur.
Pada suatu malam, datang seekor musang dan memangsa ayam jantan miliknya. Tahu bahwa ayamnya telah dimangsa musang, ia hanya berkata, “Itu yang terbaik.”

Kemudian datanglah srigala dan memangsa khimar miliknya. Mengetahui hal yang demikian, keluarganya merasa sedih, namun ia tetap berkilah, “Itu yang terbaik.”
Selanjutnya anjing satu-satunya yang dimilikinya terserang penyakit, lalu mati. Sekali lagi ia menanggapi kejadian menyedihkan itu dengan ucapan, “Itu yang terbaik.”

Keluarganya terheran-heran melihat sikapnya, hingga akhirnya tiba waktu pagi dan ia beserta keluarganya telah dikepung oleh perampok, lalu anak-anak mereka disandera dan dibawa pergi.

Tempat mereka diketahui dari kokok ayam jantan, tempat yang lain diketahui dari lolongan anjing, dan tempat sebagian mereka diketahui dari ringkik khimar.

Lalu ia berkata, “Anda telah tahu, bahwa yang terbaik adalah apa yang telah ditakdirkan oleh Allah Swt. Kalau Allah Swt tidak membinasakan mereka, tentu Anda sekalian dan kami telah binasa.”
Dikisahkan pula, bahwa seorang Nabi melakukan ibadat di sebuah gunung yang berdekatan dengan sebuah mata air. Kemudian lewatlah seorang penunggang kuda dan singgah sebentar untuk minum dan mata air tersebut. Dompetnya yang berisi uang seribu dinar tertinggal.
Tidak lama berselang, datanglah orang lain lagi untuk minum pula, lalu ia mendapatkan dompet tersebut dan membawanya. Berikutnya, tibalah seorang laki-laki miskin memanggul seikat kayu bakar. Ia minum dan setelah itu berbaring untuk melepaskan lelah. Tiba-tiba datang si penunggang kuda untuk mengambil dompetnya yang tertinggal, namun tidak mendapatkannya.

Karena tidak mendapatkan uangnya, sementara yang ada di dekatnya adalah si miskin tersebut, si penunggang kuda menuduh dan menuntut si miskin untuk mengembalikan uangnya, ia memeriksa dan menyiksanya, namun demikian tetap tidak mendapatkan uangnya, akhirnya si pembawa kayu bakar pun dibunuhnya.

Menyaksikan peristiwa tersebut Nabi yang melakukan ibadat itu berseru, “Tuhanku, ada apa ini? Yang mengambil dompet berisi seribu dinar adalah orang lain. Namun mengapa Engkau menjadikan si penunggang kuda itu menzalimi si miskin tersebut hingga ia membunuhnya?”
Lalu Allah Swt. menurunkan wahyu kepadanya:

“Bersibuk-sibuklah kamu dengan ibadatmu! Mengetahui rahasia-rahasia Sang Maha Penguasa itu bukan urusanmu; si miskin pembawa kayu bakar itu telah membunuh ayah si penunggang kuda, karenanya Aku menempatkannya untuk mendapat qisas (balasan) darinya. Sedangkan ayah penunggang kuda itu telah mengambil seribu dinar dari harta milik orang yang mengambil dompetnya dan Aku mengembalikannya, sebagai warisannya.”
Jadi, orang yang meyakini rahasia-rahasia semacam ini tidak merasa heran terhadap af’aI Allah Swt. Rasa heran dan takjub itu dikarenakan ketidaktahuannya. Dia tidak akan berkata, “Mengapa dan bagaimana?” sehingga dia ridha terhadap apa yang telah ditentukan Allah di alam semesta-Nya ini.

Di sini ada empat segi yang bersumber dari pengetahuan terhadap kemahasempurnaan hikmah dan kasih-sayang Allah, terhadap sistematika sebab yang mengantarkan pada akibat. Mengenal qadha’ pertama, bagaikan kerdipan mata, dan terhadap qada yang merupakan sebab dan terwujudnya rincian qadha’.

Semua hal tersebut disusun dalam perspektif yang paling sempurna dan baik, tidak ada yang lebih sempurna dan Iebih baik dari itu.
Jika seseorang menimbun harta, dia itu tergolong kikir lagi lemah, bukan dermawan, yang bertentangan dengan takdir. Di balik itu berhimpun pengetahuan tentang rahasia takdir (sirrul qadar) Allah Swt. Sebagaimana orang yang yakin terhadap hal itu, hanya bersikap ridha dan rela terhadap setiap yang berlangsung dan bersumber dari Allah. Uraian tentang hal itu sangat panjang.

Proporsi Ridha
Barangkali Anda bertanya, “Bagaimana mungkin sikap ridha terhadap qadha’ Allah bisa bertemu dengan sikap benci terhadap orang-orang kafir dan orang-orang yang suka berbuat maksiat, padahal dalam kaitan mengingkari kekafiran itu sebagai ibadat, dan Allah Swt juga berkehendak demikian terhadap mereka?”

Sekelompok orang lemah berprasangka, bahwa meninggalkan amar ma’ruf merupakan salah satu sikap ridha terhadap qadha’. Sikap demikian mereka sebut dengan perilaku yang baik. Ini benar-benar ketololan dan sikap bodoh yang sebenarnya. Malah justru Anda harus ridha, dan sekaligus membenci semuanya.

Ridha dan benci merupakan dua hal yang bertolak belakang bila menimpa satu hal dari satu arah. Keduanya tidak bertolak belakang atau bertentangan jika, misalnya, musuh Anda yang juga merupakan musuh dari musuh Anda yang lain, terbunuh. Anda ridha atas terbunuhnya, dari sisi bahwa dia adalah musuh Anda. Namun Anda juga tidak suka, dari sisi bahwa dia itu adalah musuh dari musuh Anda yang lain.
Demikian pula dengan perbuatan maksiat, ia memiliki dua segi:

Satu segi dikembalikan kepada Allah, yakni dari sisi bahwa perbuatan maksiat itu terjadi atas qadha’ dan kehendak Allah Swt. Dari segi ini maksiat itu diridhai. Segi kedua dikembalikan kepada pelaku maksiat tersebut, yakni dari sisi bahwa maksiat tersebut adalah sifat dirinya dan hasil perbuatannya. Karena maksiat itu dibenci oleh Allah, maka dari segi ini maksiat dibenci. Allah Swt. telah menjadikan Anda sebagai hamba dengan membenci siapa yang membenci-Nya, di antara orang-orang yang mendurhakai dan melanggar perintah-Nya. Maka, Anda sebagai orang yang dijadikan hamba oleh Allah dengan hal tersebut, harus mematuhi perintah-Nya.

Jika kekasih Anda berkata kepada Anda, “Sungguh, aku hendak menguji rasa cintamu, dengan cara memukul dan menganiaya budakku, hingga dia memakiku. Orang yang membenci budakku, berarti mencintaiku, sebaliknya orang yang mencintai dan mengasihi budakku, dia adalah musuhku.”
Padahal Anda sendiri tahu, bahwa yang memaksa budak itu memaki kekasih Anda adalah kekasih Anda sendiri, dan itu merupakan rekayasa darinya.
Karena itu, maka sikap dan jawaban Anda adalah, “Makian budakmu itu, sungguh aku sukai dari sisi bahwa hal itu adalah rekayasamu terhadap budakmu, dan tujuanmu untuk mengasingkan siapa yang kamu kehendaki. Sedangkan makian si budak dari sisi bahwa itu adalah sifatnya dan merupakan pertanda dan tindak permusuhannya, sungguh aku membenci dan tidak menyukainya sebab aku mencintaimu. Tentu saja aku harus membenci orang yang menampakkan sikap permusuhan kepadamu.”

Ini adalah persoalan yang samar. Orang-orang lemah selalu tergelincir di situ, karenanya mereka berbicara tentang hal tersebut secara serampangan.
Selain itu, tidak layak Anda berpraduga bahwa pengertian ridha terhadap qadha’ Allah adalah orang yang meninggalkan doa kepada Allah, bahkan membiarkan anak panah yang mengarah kepada Anda sehingga mengenai diri Anda, padahal Anda mampu menahannya dengan perisai.Justru doa sebagai refleksi ibadat Anda agar dari kalbu Anda memancar dzikir yang murni, kekhusyu’an dan kehalusan kalbu demi kesiapannya menerima kelembutan-kelembutan dan cahaya-cahaya.

Di antara bentuk ridha terhadap qadha’ Allah ialah, berhubungan dengan kekasihnya melalui berbagai sebab yang bisa sampai kepada sang kekasih. la juga meninggalkan sebab-sebab yang bertentangan dengan apa yang diinginkan kekasihnya itu, demi ridhanya.
Keengganan orang haus meminum air dingin, karena beranggapan bahwa dirinya ridha dengan rasa haus, sebagai salah satu qadha’ Allah Swt. Padahal, qadha’ dan kecintaan Allah justru perilaku menghilangkan rasa haus dengan air tersebut.

Tindakan keluar dan peraturan-peraturan syariat dan dari Sunnatullah juga bukan perilaku ridha terhadap qadha’ Allah Swt. Justru pengertian dan sikap ridha adalah, tidak menentang terhadap Allah Swt. baik secara lahir maupun batin. Ridha berarti pula mengerahkan seluruh tenaga untuk berhubungan dengan segala hal yang dicintai Allah Swt, dengan cara melaksanakan perintah dan meninggalkan seluruh larangan-Nya.

Bimbingan


Syeikh Abul Hasan Asy-Asyadzily
Aku melihat Rasulullah Saw. dan bertanya,: Wahai Rasulullah, apakah hakikat mengikuti tingkah laku itu? Beliau menjawab: ”Memandang yang diikuti di sisi segala hal, beserta segala hal dan dalam segala hal.” Seorang Syeikh (yang sebenarnya) adalah orang yang menunjukkan dirimu bagi keringananmu di dunia dan akhirat melalui Zuhud, bukan orang yang memberi petunjuk melalui kepayahanmu.
Orang yang sempurna (kamil) bukanlah orang yang telah gugur ketakutan dan kekawatirannya dalam dirinya, tetapi orang yang sempurna adalah orang yang gugur ketakutannya dari selain dirinya.
Setiap Syeikh yang tidak menyampaikan faedah-faedah kepadamu dari balik hijab (bathiniyah) maka bukanlah ia sebagai Syeikh.

Ada tujuh perkara yang harus Anda jaga:

Apabila Anda melihat seseorang yang mengaku memiliki perilaku ruhani yang keluar dari aturan syariat, janganlah Anda dekati.
Apabila Anda melihat seseorang yang tenteram dengan jabatan dan kebesaran, janganlah Anda dekati, dan jangan pula Anda meraih kebahagiaan darinya, selama-lamanya.
Apabila Anda melihat si faqir (faqir kepada Allah Swt, pen.) yang kembali pada duniawi, lantas mengeluh lapar, janganlah Anda dekati dan jangan pula berpegang pada kesahabatannya, sebab menyahabatinya akan mengeraskan hati Anda selama 40 pagi.
Apabila Anda melihat orang yang merasa cukup dengan ilmunya, maka Anda jangan merasa aman dengan kebodohannya.
Apabila Anda melihat seseorang yang rela dengan hasrat nafsunya dan tenteram dengan waktunya, maka perlu Anda ragukan kehidupan agamanya. Dan waspadalah sepenuhnya.
Apabila Anda melihat seseorang yang ingin mendengarkan nyanyian-nyanyian, dengan maksud agar mendapatkan kesantaian, maka janganlah Anda berharap akan kebahagiaannya.
Apabila Anda melihat si fakir (sufi) yang tidak mendapatkan kehadiran Ilahi dalam Sama’ (mendengar secara spiritual), maka ketahuilah sesungguhnya ia terhalang dari barakah-barakah Sama’, karena kekeruhan hatinya dan keacuhan akalnya.

Barang siapa berdoa kepada Allah bukan dengan pekerti doanya Rasulullah Saw. berarti ia pelaku bid’ah.

Abu Nawas Penyair yang Sufi


Ilahi, lastu lilfirdausi ahla. Wala aqwa ‘ala naril jahimi, Fahab li tawbatan waghfir dzunubi. Fainaka ghafirud dzanbil adzimi

Tuhanku, Hamba tidaklah pantas menjadi penghuni surga (Firdaus).
Namun, hamba juga tidak kuat menahan panas api neraka.
Maka berilah hamba tobat dan ampunilah hamba atas dosa-dosa hamba.
Karena sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Mahaagung

Dua bait syair di atas tentu sudah sangat akrab di telinga masyarakat Indonesia terutama kaum tradisionalis Islam. Beberapa saat menjelang shalat Magrib atau Subuh, jemaah di masjid-masjid atau musala di pedesaan biasanya mendendangkan syair tersebut dengan syahdu sebagai puji-pujian. Konon, kedua bait tersebut adalah hasil karya tokoh kocak Abu Nawas. Ia adalah salah satu penyair terbesar sastra Arab klasik. Abu Nawas juga muncul beberapa kali dalam kisah 1001 Malam.
Bagi masyarakat Islam Indonesia, nama Abu Nawas atau Abu Nuwas juga bukan lagi sesuatu yang asing. Abu Nawas dikenal terutama karena kelihaian dan kecerdikannya melontarkan kritik-kritik tetapi dibungkus humor. Mirip dengan Nasrudin Hoja, sesungguhnya ia adalah tokoh sufi, filsuf, sekaligus penyair. Ia hidup di zaman Khalifah Harun Al-Rasyid di Baghdad (806-814 M).



Selain cerdik, Abu Nawas juga dikenal dengan kenyentrikkannya. Sebagai penyair, mula-mula ia suka mabuk. Belakangan, dalam perjalanan spiritualnya mencari hakikat Allah dan kehidupan sejati, ia menemukan kehidupan rohaniahnya yang sejati meski penuh liku dan sangat mengharukan. Setelah mencapai tingkat spiritual yang cukup tinggi, inspirasi puisinya bukan lagi khamar, melainkan nilai-nilai ketuhanan. Ia tampil sebagai penyair sufi yang tiada banding.

Nama asli Abu Nawas adalah Abu Ali al-Hasan bin Hani al-Hakami. Dia dilahirkan pada 145 H (747 M) di kota Ahvaz di negeri Persia (Iran sekarang), dengan darah dari ayah Arab dan ibu Persia mengalir di tubuhnya. Ayahnya, Hani al-Hakam, merupakan anggota legiun militer Marwan II. Sementara ibunya bernama Jalban, wanita Persia yang bekerja sebagai pencuci kain wol. Sejak kecil ia sudah yatim. Sang ibu kemudian membawanya ke Bashrah, Irak. Di kota inilah Abu Nawas belajar berbagai ilmu pengetahuan.

Masa mudanya penuh perilaku kontroversial yang membuat Abu Nawas tampil sebagai tokoh yang unik dalam khazanah sastra Arab Islam. Meski begitu, sajak-sajaknya juga sarat dengan nilai sprirtual, di samping cita rasa kemanusiaan dan keadilan. Abu Nawas belajar sastra Arab kepada Abu Zaid al-Anshari dan Abu Ubaidah. Ia juga belajar Al-Quran kepada Ya’qub al-Hadrami. Sementara dalam Ilmu Hadis, ia belajar kepada Abu Walid bin Ziyad, Muktamir bin Sulaiman, Yahya bin Said al-Qattan, dan Azhar bin Sa’ad as-Samman. Pertemuannya dengan penyair dari Kufah, Walibah bin Habab al-Asadi, telah memperhalus gaya bahasanya dan membawanya ke puncak kesusastraan Arab. Walibah sangat tertarik pada bakat Abu Nawas yang kemudian membawanya kembali ke Ahwaz, lalu ke Kufah. Di Kufah bakat Abu Nawas digembleng. Ahmar menyuruh Abu Nawas berdiam di pedalaman, hidup bersama orang-orang Arab Badui untuk memperdalam dan memperhalus bahasa Arab.

Kemudian ia pindah ke Baghdad. Di pusat peradaban Dinasti Abbasyiah inilah ia berkumpul dengan para penyair. Berkat kehebatannya menulis puisi, Abu Nawas dapat berkenalan dengan para bangsawan. Namun karena kedekatannya dengan para bangsawan inilah puisi-puisinya pada masa itu berubah, yakni cenderung memuja dan menjilat penguasa.

Dalam Al-Wasith fil Adabil ‘Arabi wa Tarikhihi, Abu Nawas digambarkan sebagai penyair multivisi, penuh canda, berlidah tajam, pengkhayal ulung, dan tokoh terkemuka sastrawan angkatan baru. Namun sayang, karya-karya ilmiahnya justru jarang dikenal di dunia intelektual. Ia hanya dipandang sebagai orang yang suka bertingkah lucu dan tidak lazim. Kepandaiannya menulis puisi menarik perhatian Khalifah Harun al-Rasyid. Melalui musikus istana, Ishaq al-Wawsuli, Abu Nawas dipanggil untuk menjadi penyair istana (sya’irul bilad).

Sikapnya yang jenaka menjadikan perjalanan hidupnya benar-benar penuh warna. Kegemarannya bermain kata-kata dengan selera humor yang tinggi seakan menjadi legenda tersendiri dalam khazanah peradaban dunia. Kedekatannya dengan kekuasaan juga pernah menjerumuskannya ke dalam penjara. Pasalnya, suatu ketika Abu Nawas membaca puisi Kafilah Bani Mudhar yang dianggap menyinggung Khalifah. Tentu saja Khalifah murka, lantas memenjarakannya. Setelah bebas, ia berpaling dari Khalifah dan mengabdi kepada Perdana Menteri Barmak. Ia meninggalkan Baghdad setelah keluarga Barmak jatuh pada tahun 803 M. Setelah itu ia pergi ke Mesir dan menggubah puisi untuk Gubernur Mesir, Khasib bin Abdul Hamid al-Ajami. Tetapi, ia kembali lagi ke Baghdad setelah Harun al-Rasyid meninggal dan digantikan oleh Al-Amin.
Sejak mendekam di penjara, syair-syair Abu Nawas berubah, menjadi religius. Jika sebelumnya ia sangat pongah dengan kehidupan duniawi yang penuh glamor dan hura-hura, kini ia lebih pasrah kepada kekuasaan Allah. Dua bait syair di atas merupakan salah satu syairnya yang dapat dipahami sebagai salah satu ungkapan rasa spiritual yang dalam.
Memang, pencapaiannya dalam menulis puisi diilhami kegemarannya melakukan maksiat. Tetapi, justru di jalan gelap itulah, Abu Nawas menemukan nilai-nilai ketuhanan. Sajak-sajak tobatnya bisa ditafisrkan sebagai jalan panjang menuju Tuhan. Meski dekat dengan Sultan Harun al-Rasyid, Abu Nawas tak selamanya hidup dalam kegemerlapan duniawi. Ia pernah hidup dalam kegelapan – tetapi yang justru membawa keberkahan tersendiri.

Seorang sahabatnya, Abu Hifan bin Yusuf bin Dayah, memberi kesaksian, akhir hayat Abu Nawas sangat diwarnai dengan kegiatan ibadah. Beberapa sajaknya menguatkan hal itu. Salah satu bait puisinya yang sangat indah merupakan ungkapan rasa sesal yang amat dalam akan masa lalunya.
Mengenai tahun meningalnya, banyak versi yang saling berbeda. Ada yang menyebutkan tahun 190 H/806 M, ada pula yang 195H/810 M, atau 196 H/811 M. Sementara yang lain tahun 198 H/813 M dan tahun 199 H/814 M. Konon Abu Nawas meninggal karena dianiaya oleh seseorang yang disuruh oleh keluarga Nawbakhti - yang menaruh dendam kepadanya. Ia dimakamkan di Syunizi di jantung Kota Baghdad.

Sejumlah puisi Abu Nawas dihimpun dalam Diwan Abu Nuwas yang telah dicetak dalam berbagai bahasa. Ada yang diterbitkan di Wina, Austria (1885), di Greifswald (1861), di Kairo, Mesir (1277 H/1860 M), Beirut, Lebanon (1301 H/1884 M), Bombay, India (1312 H/1894 M). Beberapa manuskrip puisinya tersimpan di perpustakaan Berlin, Wina, Leiden, Bodliana, dan Mosul.
Salah satu cerita menarik berkenaan dengan Abu Nawas adalah saat menejelang sakaratulmautnya. Konon, sebelum mati ia minta keluarganya mengkafaninya dengan kain bekas yang lusuh. Agar kelak jika Malaikat Munkar dan Nakir datang ke kuburnya, Abu Nawas dapat menolak dan mengatakan. “Tuhan, kedua malaikat itu tidak melihat kain kafan saya yang sudah compang-camping dan lapuk ini. Itu artinya saya penghuni kubur yang sudah lama.”
Tentu ini hanyalah sebuah lelucon, dan memang kita selama ini hanya menyelami misteri kehidupan dan perjalanan tohoh sufi yang penuh liku dan sarat hikmah ini dalam lelucon dan tawa.